Ekonomi 21 Jan 2026 4 views

Bos BI Beber 5 Biang Kerok Rupiah Anjlok Dekati Rp17 Ribu per Dolar AS

Jakarta, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menjelaskan lima faktor utama penyebab melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada Rabu (21/1) sore, rupiah berada d...

Bos BI Beber 5 Biang Kerok Rupiah Anjlok Dekati Rp17 Ribu per Dolar AS
Jakarta, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menjelaskan lima faktor utama penyebab melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada Rabu (21/1) sore, rupiah berada di kisaran Rp16.935 per dolar AS, setelah sempat mendekati angka Rp17 ribu.

Perry merinci bahwa lesunya mata uang Garuda dipengaruhi oleh sentimen global dan domestik. Pertama, kondisi geopolitik global menjadi salah satu pemicu. Kedua, kebijakan tarif dagang yang diterapkan Amerika Serikat (AS) serta tingginya imbal hasil surat utang AS (US Treasury yield) dalam dua hingga tiga tahun terakhir turut berkontribusi.

Ketiga, BI juga mencatat potensi suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed) yang lebih rendah, yang bersamaan dengan sentimen lain menyebabkan penguatan dolar AS. Hal ini memicu aliran modal keluar dari negara berkembang dan masuk ke AS. Perry menyebutkan, hingga 19 Januari 2026, terjadi *net outflow* sebesar 1,6 miliar dolar AS.

Keempat, Perry menjelaskan faktor domestik, yaitu keluarnya modal asing karena tingginya kebutuhan valuta asing dari beberapa korporasi besar seperti Pertamina, PLN, dan Danantara.

Kelima, sentimen pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan deputi gubernur BI yang baru juga memengaruhi. Perry menegaskan bahwa proses pencalonan tersebut sudah sesuai Undang-Undang Tata Kelola dan tidak akan mengganggu tugas serta wewenang BI. Ia juga menambahkan bahwa pelemahan nilai tukar ini juga dialami oleh berbagai negara lain.

Ke depan, Perry menegaskan BI akan melakukan intervensi besar di pasar keuangan, termasuk intervensi *non delivery forward* di pasar dalam dan luar negeri, pasar spot, dan DNDF. BI berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar dan akan berupaya memperkuat rupiah, didukung oleh fundamental ekonomi yang baik, imbal hasil yang menarik, inflasi rendah, dan prospek ekonomi yang membaik.

Pada Rabu (21/1) sore, nilai tukar rupiah tercatat Rp16.936 per dolar AS, menguat 20 poin atau 0,12 persen dari perdagangan sebelumnya. Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), menempatkan rupiah di posisi Rp16.963 per dolar AS.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa penguatan rupiah dipengaruhi oleh kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga likuiditas di pasar. Menurut Lukman, pernyataan BI dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) dipandang *less dovish*, yang berarti BI masih mencermati peluang pemangkasan suku bunga. Hal ini sebelumnya ditafsirkan sebagai tekanan pada rupiah, sehingga data ekonomi seperti inflasi mungkin tidak lagi menjadi faktor utama.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260121154301-78-1319383/bos-bi-beber-5-biang-kerok-rupiah-anjlok-dekati-rp17-ribu-per-dolar-as
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.