Beras, Telur, hingga Bawang Masih Mahal Jelang Ramadan
Kantor Staf Presiden (KSP) melaporkan bahwa menjelang bulan Ramadan, tekanan harga pada sejumlah komoditas pangan masih terasa di berbagai daerah, meskipun pasokan nasional secara...
Popy menjelaskan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 pada Selasa (27/1) bahwa harga pangan strategis umumnya terkendali, tetapi beras medium di beberapa zona, serta cabai merah dan cabai rawit masih sensitif terhadap cuaca dan distribusi sehingga perlu diawasi.
Beras medium menjadi komoditas yang paling menonjol karena menunjukkan perbedaan kondisi antar zona. Berdasarkan pemantauan KSP per 23 Januari 2026:
* Zona 1: Harga rata-rata Rp13.433 per kilogram (kg), masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp13.500 (selisih minus 0,49 persen), dengan kenaikan bulanan tipis 0,18 persen. Statusnya aman.
* Zona 2: Harga rata-rata Rp14.399 per kg, sekitar 2,86 persen di atas HET Rp14.000, meskipun kenaikan bulanannya relatif kecil, 0,08 persen. Statusnya waspada.
* Zona 3: Harga rata-rata Rp18.475 per kg, sekitar 19,2 persen di atas HET Rp15.500, meskipun secara bulanan sudah terkoreksi turun 0,95 persen. Statusnya tidak aman.
Popy menegaskan bahwa masalah utama beras bukan pada kekurangan stok nasional, melainkan ketimpangan distribusi dan akses logistik antarwilayah.
Tekanan harga juga datang dari komoditas protein hewani:
* Telur ayam ras: Harga nasional per 23 Januari 2026 sekitar Rp33.800 per kg, lebih tinggi sekitar 12,7 persen dibanding Harga Acuan Penjualan (HAP) Rp30.000, meskipun secara bulanan telah turun sekitar 2,59 persen. Tekanan ini tidak lepas dari mahalnya jagung pakan ternak.
* Jagung pakan ternak: Harga di tingkat peternak saat ini masih di kisaran Rp7.000 per kg, lebih dari 20 persen di atas harga acuan, dengan disparitas antar daerah sekitar 14,23 persen. Popy menekankan pentingnya mengantisipasi harga jagung pakan karena berkaitan langsung dengan biaya produksi ayam dan telur.
* Daging ayam ras: Rata-rata nasional tercatat sekitar Rp41.800 per kg, sekitar 4,5 persen di atas harga acuan Rp40.000, meskipun secara bulanan sudah turun 1,18 persen. Disparitas harga di tingkat daerah masih mencapai sekitar 21 persen. Statusnya waspada.
Untuk komoditas hortikultura:
* Bawang merah: Harga nasional masih dalam kondisi tidak aman meskipun menunjukkan tren penurunan. Dalam sebulan terakhir, harga bawang merah turun sekitar 12,79 persen, namun posisinya masih di Rp45.700 per kg atau sekitar 10,12 persen di atas batas atas HAP Rp41.500. Disparitas harga di tingkat daerah masih sekitar 28 persen.
* Bawang putih: Mengalami kenaikan bulanan sebesar 0,94 persen. Harga nasional tercatat Rp42.900 per kg atau sekitar 12,89 persen di atas HAP Rp38.000, dengan disparitas antarwilayah yang masih tinggi.
* Cabai rawit merah: Harga nasional saat ini di kisaran Rp59.000 per kg, sekitar 3,5 persen di atas batas atas HAP Rp57.000. Meskipun dalam sebulan terakhir harga cabai rawit turun tajam hingga 18,96 persen, disparitas antar daerah masih sangat tinggi, mencapai sekitar 46,5 persen.
* Cabai merah keriting: Harga nasional sudah dalam kategori aman, yakni Rp44.900 per kg dan berada dalam rentang HAP Rp37.000-Rp55.000 dengan penurunan bulanan sekitar 23,77 persen. Namun, di tingkat daerah, disparitas justru mencapai sekitar 56 persen.
Komoditas lainnya:
* Minyak goreng merek Minyakita: Harga nasional tercatat sekitar Rp18.000 per liter, masih jauh di atas HET Rp15.700 atau selisih sekitar 14,6 persen. Meskipun terjadi koreksi tipis secara bulanan, penurunan ini dinilai belum cukup. Masalah Minyakita bukan sekadar soal naik-turun harga harian, tetapi lebih pada persoalan kepatuhan HET dan distribusi yang belum merata.
* Gula pasir curah: Berada pada status waspada, dengan disparitas harga di daerah sekitar 13 persen, masuk kategori sedang.
Popy menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan pada pasokan nasional, melainkan distribusi antar daerah yang belum merata dan menyebabkan disparitas harga tinggi. KSP mencatat empat komoditas dengan risiko sangat tinggi saat ini, yaitu beras medium, cabai merah keriting, cabai rawit merah, dan jagung di tingkat peternak. Keempatnya dinilai berisiko sistemik karena berpotensi menjadi pemicu inflasi, terutama menjelang Ramadan.
Merujuk data historis, tujuh komoditas diproyeksikan berpotensi menjadi kontributor utama inflasi Ramadan, yaitu beras, cabai rawit, Minyakita, daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai merah. Oleh karena itu, KSP mendorong intervensi lebih dini berbasis zona dan wilayah dengan harga ekstrem, termasuk melalui operasi pasar, penyaluran beras SPHP, penguatan TPID, gerakan pangan murah, serta fasilitasi distribusi lintas wilayah.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260127114112-92-1321465/beras-telur-hingga-bawang-masih-mahal-jelang-ramadan
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
14 Feb 2026
Pemerintah Akan Naikkan Uang Jajan Peserta Maganghub
14 Feb 2026
Kilat Kuphi Resmikan Gerai Ketiga di Transmart Medan Fair
14 Feb 2026
Indonesia Perkuat Arah Ekonomi dan Kolaborasi Global di KTT D-8
14 Feb 2026
Cerita Purbaya soal Gaji Besar Kerja di Sektor Keuangan ke Lulusan UI
14 Feb 2026
Bandara Bali Diprediksi Layani 483 Ribu Penumpang saat Libur Imlek
14 Feb 2026
Purbaya: Ekonomi RI Akan Alami Ekspansi Sampai 2033