Purbaya Buka Ruang Iuran Dewan Perdamaian AS Dibayar Pakai APBN
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi digunakan untuk membayar iuran keanggotaan permanen di Dewan Perdama...
Purbaya menegaskan bahwa sumber pendanaan ini belum dibahas secara rinci. "Itu kami belum diskusikan," ujarnya di Istana Kepresidenan Jakarta pada Rabu (28/1/2026). Ia menambahkan bahwa Kementerian Keuangan masih menunggu penugasan dari Presiden Prabowo Subianto terkait alokasi dana tersebut. Jika diminta, APBN akan digunakan untuk membiayai iuran Dewan Perdamaian. "Saya pikir sebagian besar akan dari anggaran juga kan, dari APBN," kata Purbaya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Sugiono sebelumnya menjelaskan bahwa iuran sebesar US$1 miliar bukanlah kewajiban mutlak bagi semua negara anggota. Negara yang tidak membayar tetap bisa menjadi anggota Dewan Perdamaian untuk masa tiga tahun, sedangkan pembayaran iuran akan menjadikan negara tersebut anggota permanen.
Sugiono juga menegaskan kembali posisi Indonesia terhadap Palestina. Ia menyatakan bahwa Jakarta tetap konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dalam kerangka solusi dua negara (two-state solution). "Tentu saja arah kompas (Indonesia) tetap 'two-state solution'. Indonesia tetap menginginkan kemerdekaan dan kedaulatan Palestina. Oleh karena itu, pasti ada langkah-langkah yang sifatnya taktis yang harus dilakukan," ujar Sugiono.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260128203833-532-1322162/purbaya-buka-ruang-iuran-dewan-perdamaian-as-dibayar-pakai-apbn
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
08 Apr 2026
Bahlil Pastikan Masa Krisis Energi RI Sudah Lewat
08 Apr 2026
Pemerintah Kucurkan Rp1,7 T Redam Dampak Kenaikan Avtur ke Biaya Haji
08 Apr 2026
Ara Buka-bukaan soal Rencana Bangun Rumah Rakyat di 10 Kota Baru
08 Apr 2026
Bahlil Sebut Harga Pertamax Cs Masih Dikaji, Bakal Naik?
08 Apr 2026
BI: Ruang Penurunan Suku Bunga Makin Tertutup Imbas Perang AS-Iran
08 Apr 2026
Dari Selat Hormuz, Yuan Tantang Dominasi Dolar di Pasar Global