Ekonomi 04 Feb 2026 4 views

Bos OJK Mahendra Siregar Mundur, Siapa Sosok Pengganti Ideal?

Judul: Bos OJK Mahendra Siregar Mundur, Siapa Sosok Pengganti Ideal? Jakarta, Dunia keuangan Indonesia sempat terguncang lantaran ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada...

Bos OJK Mahendra Siregar Mundur, Siapa Sosok Pengganti Ideal?
Judul: Bos OJK Mahendra Siregar Mundur, Siapa Sosok Pengganti Ideal?

Jakarta, Dunia keuangan Indonesia sempat terguncang lantaran ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (28/1) dan Kamis (29/1) lalu.Selama dua hari beruntun, IHSG anjlok sebesar 8 persen, sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa membekukan sementara perdagangan saham (trading halt).Buntut pasar modal ambyar, Direktur Utama BEI Iman Rachman mendadak mengundurkan diri pada Jumat pagi (30/1). Yang tak kalah mengagetkan, empat pejabat OJK ikutan mundur massal di hari yang sama, termasuk Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dan Wakil Ketua OJK Mirza Adityaswara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, OJK menunjuk Friderica Widyasari Dewi sebagai pengganti Ketua dan Wakil DK OJK yang ditetapkan melalui Rapat Dewan Komisioner OJK, Sabtu (31/1), dan telah menunjuk pejabat sementara untuk posisi kosong lainnya.Lihat Juga :Ekspor Minyak Venezuela Melesat 60 Persen usai Trump Kuasai Kilang
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa bergegas membentuk Panitia Seleksi (pansel) pimpinan OJK untuk mengisi jabatan yang kosong. Targetnya, sudah ada pejabat OJK definitif yang ditetapkan dalam dua minggu ke depan."Kita mau percepat lah, seminggu, dua minggu harus ada ketua OJK baru yang definitif," imbuhnya.Lantas, siapa sosok ideal yang pantas menjadi bos baru OJK?Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan ketua OJK baru harus dipilih berdasarkan kompetensi teknis dan kredibilitas kelembagaan, bukan berdasarkan kebutuhan politik stabilisasi jangka pendek.Syafruddin menjelaskan pasar sudah memberi sinyal masalahnya bukan sekadar sentimen, melainkan premi risiko yang naik karena isu tingkat kelayakan untuk berinvestasi (investability) dan integritas.Lihat Juga :Purbaya: Kalau Saya Bank Sentral, Rupiah ke Rp15 Ribu Tak Sulit"IHSG sempat tertekan tajam, yield SUN 10Y bergerak lebih tinggi di kisaran 6,3 persen, sementara kurs relatif tertahan di area 16,7 ribu dan suku bunga kebijakan stabil. Pola ini menunjukkan pasar menghukum pasar modal melalui premi likuiditas dan kepercayaan, sehingga pemimpin OJK harus mampu memulihkan fungsi pengawasan dan penegakan secara operasional," ujar Syafruddin kepada .com, Selasa (3/2).Ia menyebut stabilitas politik memang dapat membantu, tetapi pasar hanya akan menurunkan premi risiko jika melihat otoritas mengeksekusi aturan secara konsisten dan terukur.Syafruddin juga menilai ketua OJK baru harus mempunyai rekam jejak nyata dalam menata transparansi kepemilikan saham, termasuk Ultimate Beneficial Owner (UBO). Nahkoda baru OJK juga harus berani menindak perdagangan terkoordinasi. Hal ini karena dua persoalan tersebut berada di pusat penilaian investor global."MSCI menekankan bahwa perbaikan data float masih minor, sementara persoalan mendasar tetap ada, opasitas struktur kepemilikan dan kekhawatiran coordinated trading yang merusak pembentukan harga," singgungnya.
Menurut Syafruddin ,apabila ketua OJK baru tidak mampu mengubah struktur data kepemilikan menjadi reliabel dan dapat diaudit, serta tidak mampu membangun mesin surveillance dan penegakan yang terlihat, maka tenggat Mei 2026 akan menjadi titik risiko kebijakan yang mahal."Figur yang memahami UBO, konsentrasi kepemilikan, dan market conduct dapat mengubah reformasi dari retorika menjadi deliverables yang menurunkan premi risiko," kata Syafruddin.Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menjelaskan untuk bisa mengembalikan kepercayaan pasar saat ini, ketua OJK yang dibutuhkan adalah figur yang kredibel dibandingkan yang populer."Terkenal itu bonus, bukan syarat utama. Pasar jauh lebih rasional daripada yang sering kita kira. Yang dibutuhkan pasar bukan figur populer, tapi figur credible seperti rekam jejak jelas, konsisten, dan komunikasinya presisi," ujar Ronny kepada .com, Selasa (3/2).Menurutnya, pasar bisa mengetahui figur mana yang 'nama besar tetapi omong kosong' dan figur mana yang 'low profile tetapi solid'. Kriteria figur yang kedua justru lebih menenangkan pasar.[Gambas:Photo CNN]Ronny juga mengatakan terdapat empat pekerjaan rumah (PR) besar yang perlu dibereskan OJK, khususnya di pasar modal.Pertama, pendalaman pasar karena saat ini investor ritel semakin banyak, tetapi instrumen dan likuiditas masih dangkal. Hal ini harus segera dibenahi, termasuk dengan memenuhi permintaan dari penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).Kedua, perlindungan investor dengan adanya penegakan hukum atas manipulasi, insider trading, dan kasus gagal bayar yang selama ini masih belum cukup memberi efek jera.Ketiga, kualitas emiten harus dibenahi karena selama ini terlalu banyak Initial Public Offering (IPO) yang secara fundamental belum matang, tetapi lolos ke pasar. Keempat, koordinasi kebijakan dengan pemangku kebijakan sektor lain."OJK, BI, dan Kemenkeu sering searah dalam niat, tapi belum selalu sinkron dalam timing. Sehingga diperlukan sinkronisasi yang lebih kuat lagi," tegasnya.Kemudian, Ronny menyampaikan terdapat tiga hal yang harus diperhatikan untuk memastikan pemilihan ketua OJK baru bisa bebas dari unsur kepentingan khusus. Pertama, proses seleksi yang transparan dengan parameter kompetensi jelas, bukan sekadar formalitas fit and proper.Kedua, rekam jejak independensi, terutama relasinya dengan konglomerasi keuangan dan kekuasaan."Ketiga, komitmen pascaterpilih, yakni ketua OJK harus berani 'say no', bahkan pada pihak yang secara politik kuat. Soalnya, independensi OJK tidak lahir dari undang-undang saja, tapi dari tulang punggung pimpinannya," kata Ronny.[Gambas:Video CNN]
PR Ruwet Pengganti Mahendra

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260204070603-78-1324338/bos-ojk-mahendra-siregar-mundur-siapa-sosok-pengganti-ideal
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.