Bos Agrinas Akhirnya Buka Suara soal Impor 105 Ribu Pikap dari India
PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero), sebuah BUMN, berencana mengimpor 105 ribu unit mobil pikap dari India tahun ini. Kendaraan tersebut akan digunakan untuk mendukung operasiona...
Agrinas ditunjuk oleh pemerintah sebagai pelaksana utama pembangunan Kopdes Merah Putih melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 17 Tahun 2025. Kendaraan yang diimpor akan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional dan logistik koperasi desa di seluruh Indonesia.
Rencana impor mencakup 35 ribu unit pikap 4x4 dari Mahindra & Mahindra Ltd, 35 ribu unit pikap 4x4 dari Tata Motors, serta 35 ribu unit truk roda enam dari produsen yang sama. Sekitar 200 unit pikap Mahindra dilaporkan telah tiba di Indonesia.
Program Kopdes Merah Putih dirancang untuk memperkuat distribusi barang dan aktivitas ekonomi di tingkat desa, sehingga membutuhkan kendaraan operasional dalam jumlah besar.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menolak rencana impor ini. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri, Saleh Husin, meminta Presiden Prabowo Subianto untuk membatalkan kebijakan tersebut. "Setelah menerima pandangan dari pelaku industri otomotif dan asosiasi, kami mengimbau Presiden agar membatalkan rencana impor 105.000 unit kendaraan niaga," ujar Saleh dalam keterangan tertulis pada Minggu (22/2).
Saleh menilai impor kendaraan dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) berpotensi melemahkan industri otomotif nasional dan tidak mendorong perekonomian domestik. Ia berpendapat bahwa industri dalam negeri sebenarnya mampu menyediakan kendaraan yang dibutuhkan untuk program tersebut. "Mengimpor mobil CBU sama saja dengan membunuh industri otomotif yang sedang tumbuh," tambahnya.
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Putu Juli Ardika, sebelumnya juga menyatakan bahwa industri otomotif nasional memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan kendaraan operasional Kopdes Merah Putih. Menurutnya, produsen kendaraan nasional bersama industri komponen yang tergabung dalam Gabungan Industri Alat-Alat Mobil dan Motor (GIAMM) dapat memproduksi kendaraan sesuai spesifikasi yang dibutuhkan, meskipun memerlukan waktu untuk menyesuaikan volume dan spesifikasi produksi.
Kadin berpendapat bahwa kebijakan impor seharusnya selaras dengan agenda industrialisasi nasional yang mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), pengembangan kendaraan rendah emisi, serta penguatan ekosistem industri komponen lokal.
Dari sisi regulasi perdagangan, impor kendaraan bermotor dalam jumlah besar tidak melanggar ketentuan. Kementerian Perdagangan (Kemendag) tidak memasukkan mobil sebagai barang larangan dan pembatasan (lartas). Ini berarti impor kendaraan tidak memerlukan Persetujuan Impor (PI) maupun rekomendasi teknis tambahan. Importir hanya perlu memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), Angka Pengenal Importir (API), serta memenuhi ketentuan kepabeanan dan standar teknis yang berlaku.
Meskipun secara hukum diperbolehkan, Kadin menilai pemerintah tetap perlu berhati-hati agar kebijakan perdagangan tidak bertentangan dengan upaya memperkuat industri nasional. "Namun secara kebijakan industri, pemerintah tetap harus berhati-hati agar pembangunan koperasi desa tidak justru melemahkan utilisasi pabrik otomotif dalam negeri," kata Saleh.
Kadin juga menyoroti pentingnya sinkronisasi kebijakan antara Kemendag dan Kementerian Perindustrian. Menurut Saleh, kebijakan perdagangan tidak seharusnya berdiri sendiri, tetapi harus mendukung penguatan kapasitas produksi nasional. Ia menambahkan bahwa impor tetap dapat dilakukan untuk kendaraan dengan spesifikasi tertentu yang belum tersedia di dalam negeri, namun desain kebijakan harus memastikan industri domestik tetap dilibatkan dan mendapatkan manfaat.
Menurutnya, program Kopdes Merah Putih seharusnya tidak hanya memperkuat distribusi logistik desa, tetapi juga menjadi stimulus bagi industri otomotif nasional. "Sinkronisasi antara Kemendag dan Kemenperin menjadi ujian awal konsistensi pemerintah dalam menjalankan visi industrialisasi," pungkas Saleh.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260223140354-92-1330866/bos-agrinas-akhirnya-buka-suara-soal-impor-105-ribu-pikap-dari-india
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
09 Apr 2026
Menhub Ungkap Prabowo Minta Garuda Gaet Saudia untuk Alasan Ini
09 Apr 2026
Pengusaha Soal Wacana Penghentian Restitusi Pajak: Perlu Dikaji Ulang
09 Apr 2026
Nasabah Bisa Manfaatkan Flexi Gold di Tengah Fluktuasi Harga Emas
09 Apr 2026
FOTO: Distribusi Pembagian Bantuan Pangan
09 Apr 2026
PLN Umumkan Listrik Jakarta Sudah 100 Persen Menyala
09 Apr 2026
Dampak Perang Timur Tengah mulai Mencekik Pedagang RI