Ekonomi 06 Mar 2026 5 views

Menakar Dampak Timteng, Aset Paling Aman: Dolar, Emas, atau Obligasi?

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mendorong investor global untuk mencari aset lindung nilai (safe haven). Beberapa instrumen investasi seperti dolar AS, emas, dan obli...

Menakar Dampak Timteng, Aset Paling Aman: Dolar, Emas, atau Obligasi?
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mendorong investor global untuk mencari aset lindung nilai (safe haven). Beberapa instrumen investasi seperti dolar AS, emas, dan obligasi pemerintah menjadi pilihan. Namun, pergerakan aset-aset tersebut kali ini tidak sepenuhnya mengikuti pola klasik saat terjadi krisis. Pasar menunjukkan respons yang beragam, di mana sebagian aset menguat signifikan sementara yang lain melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar.

**Dolar Menguat**
Dolar AS menjadi salah satu aset yang mencatatkan penguatan paling menonjol. Indeks dolar (DXY), yang mengukur kinerja mata uang AS terhadap enam mata uang utama dunia, naik sekitar 1,5 persen. Dolar bahkan menguat terhadap dua mata uang yang biasanya menjadi safe haven, yaitu franc Swiss dan yen Jepang. Kenaikan ini terjadi meskipun dolar sempat melemah pada periode gejolak pasar sebelumnya.

James Lord, Head of FX Strategy Morgan Stanley, menjelaskan bahwa dolar memang memiliki karakteristik aset aman, namun perannya sangat bergantung pada kondisi global. Ketidakpastian kebijakan di Amerika Serikat juga dapat mengurangi daya tarik dolar sebagai tempat berlindung investor dalam jangka panjang. Selain itu, posisi AS sebagai eksportir energi juga memberi dukungan bagi dolar ketika harga minyak naik. Krisis Timur Tengah mendorong harga minyak Brent melampaui US$80 per barel, yang cenderung menguntungkan ekonomi AS.

**Obligasi Kurang Diminati**
Berbeda dengan dolar, obligasi pemerintah tidak menerima arus masuk dana sebesar yang biasanya terjadi saat krisis geopolitik. Pergerakan obligasi saat ini lebih dipengaruhi ekspektasi inflasi dan kondisi fiskal negara. Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun, yang menjadi acuan di kawasan Eropa, naik sekitar 14 basis poin sepanjang pekan ini. Kenaikan yield menunjukkan harga obligasi turun, menandakan investor tidak banyak memburu aset tersebut sebagai safe haven. Bryn Jones, Head of Fixed Income Rathbones, mengatakan kekhawatiran terhadap peningkatan utang pemerintah turut mengurangi daya tarik obligasi.

**Emas Tetap Dipandang Aman**
Di tengah volatilitas pasar, emas masih mempertahankan reputasinya sebagai aset lindung nilai utama. Harga logam mulia tersebut telah melonjak sekitar 240 persen sepanjang dekade ini. Meskipun sempat turun tajam pada awal pekan, analis menilai penurunan itu dipicu aksi jual investor yang membutuhkan likuiditas setelah mengalami kerugian di aset lain. State Street menyebut emas masih relatif kurang dimiliki dalam portofolio global. Alokasi emas di reksa dana global masih di bawah 1 persen dari total aset, jauh di bawah kisaran alokasi strategis 5 hingga 10 persen. Aakash Doshi, Head of Gold Strategy State Street Investment Management, bahkan memproyeksikan harga emas berpotensi naik lebih tinggi tahun ini.

**Yen dan Franc Melemah**
Sementara itu, dua mata uang safe haven klasik lainnya justru melemah. Franc Swiss turun sekitar 1,2 persen, sedangkan yen Jepang melemah 0,8 persen sepanjang pekan ini. Justin Onuekwusi, Chief Investment Officer St. James's Place, menilai yen masih memiliki potensi sebagai pelindung nilai jika volatilitas pasar terus meningkat. Namun, prospek yen juga dibayangi ketidakpastian politik di Jepang setelah muncul laporan keraguan pemerintah terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut. Di sisi lain, analis Goldman Sachs, Teresa Alves, memperingatkan potensi intervensi bank sentral Swiss yang dapat membatasi penguatan franc.

**Saham Defensif Tak Banyak Membantu**
Saham sektor defensif yang biasanya menjadi pelindung saat pasar bergejolak juga tidak banyak membantu kali ini. Di AS, sektor utilitas pada indeks S&P turun sekitar 1 persen pekan ini, sementara sektor consumer staples melemah 2,8 persen, ketika indeks S&P 500 relatif stagnan. Di Eropa, saham utilitas turun 3 persen dan consumer staples merosot 4,5 persen, lebih dalam dibanding penurunan indeks STOXX 600 sekitar 3 persen. James Bristow, Portfolio Manager Templeton Global Investments, mengatakan investor kini perlu lebih disiplin dalam memilih saham defensif di tengah suku bunga yang masih tinggi.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260306124815-78-1335019/menakar-dampak-timteng-aset-paling-aman-dolar-emas-atau-obligasi
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.