Harga Minyak Terus Naik, Apa Itu Barel Satuan di Harga Minyak?
Harga minyak dunia terus merangkak naik, bahkan telah mencapai US$92 per barel pada Sabtu (7/3). Dalam konteks ini, satuan "barel" sering disebut. Barel merupakan satuan volume yan...
Menurut PGN, barel adalah satuan ukuran volume yang digunakan secara luas untuk menyatakan jumlah minyak mentah atau produk minyak yang dihasilkan, diproses, atau diperdagangkan. Satuan ini tidak hanya dipakai di negara produsen minyak, tetapi juga di pasar minyak internasional.
Secara historis, penggunaan barel berasal dari awal industri minyak bumi di Amerika Serikat pada abad ke-19. Saat itu, tong kayu atau barel digunakan sebagai wadah penyimpanan dan transportasi minyak mentah. Tong kayu inilah yang kemudian dikenal sebagai barel minyak. Meskipun minyak mentah tidak lagi dikirim menggunakan tong kayu, satuan barel tetap digunakan untuk memudahkan perhitungan dalam transaksi minyak.
Dalam standar internasional, satu barel minyak mentah memiliki volume 42 galon AS, atau setara dengan sekitar 159 liter. Angka ini merupakan ukuran standar yang digunakan di seluruh dunia untuk volume minyak mentah.
Selain barel minyak, ada satuan lain yang digunakan dalam industri minyak tergantung pada produk yang diukur. Misalnya, gas alam biasanya diukur dalam MMBtu (Million British Thermal Units) atau cubic feet (ft³). Namun, untuk minyak mentah dan produk minyak seperti bensin, diesel, dan minyak berat, barel adalah satuan yang dominan.
Barel merupakan satuan pengukuran penting dalam industri minyak yang digunakan untuk menghitung produksi, cadangan, perdagangan, dan pemrosesan minyak mentah. Dengan volume standar 42 galon AS atau sekitar 159 liter, barel disebut sebagai alat esensial dalam mengelola dan melaporkan aktivitas di industri minyak global. Penggunaan barel tidak hanya memudahkan pengukuran volume, tetapi juga membantu dalam penentuan harga minyak di pasar internasional, penghitungan emisi karbon, serta pengelolaan cadangan minyak global.
Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh perang Iran dan penutupan Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan minyak. Berdasarkan Oil Price, minyak mentah berjangka Brent melonjak 8,52 persen menjadi US$92,69 per barel, sementara harga minyak mentah berjangka WTI AS menembus US$90,90 setelah naik 12,2 persen.
Harga minyak terus bergejolak seiring berlarutnya perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Perang yang meluas di Timur Tengah ini memicu gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati seperlima pengiriman minyak global.
Meskipun tidak terlibat langsung dalam perang, Indonesia dan negara-negara lain dipastikan akan terkena dampaknya. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa lonjakan harga minyak akan mendorong pelebaran defisit APBN. Berdasarkan simulasi fiskal Kementerian Keuangan, jika harga minyak rata-rata tahunan mencapai US$92 per barel, defisit APBN diperkirakan bisa meningkat hingga 3,6-3,7 persen terhadap PDB.
"Kalau harga minyak naik ke US$92 per barel, apa dampaknya ke defisit? Kalau tidak melakukan apa-apa defisit kita naik ke 3,6 sampai 3,7 persen dari PDB," ujarnya dalam taklimat media di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/3). Pemerintah masih memperkirakan rata-rata harga minyak sepanjang tahun berada di kisaran US$72 per barel, sehingga dinilai masih dalam batas aman bagi APBN.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260307141624-92-1335379/harga-minyak-terus-naik-apa-itu-barel-satuan-di-harga-minyak
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
08 Apr 2026
Menperin Pastikan Stok Plastik RI Masih Aman Meski Harga Melambung
08 Apr 2026
Pertamina Lampaui Target Emisi, Imbau Masyarakat Bijak Gunakan Energi
08 Apr 2026
Dapat Restu dari Pemerintah, Garuda Akan Naikkan Harga Tiket
08 Apr 2026
PLN Borong 11 PROPER Emas KLH 2025, Dirut Raih Green Leadership
08 Apr 2026
FTSE Russell Pertahankan Status Pasar Modal RI, Pantau Reformasi Bursa
08 Apr 2026
Target Listrik 100 GW EBT Dinilai Belum Matang, Ini Catatan METI