Minyak Tembus USD92/Barel, Ekonom Wanti-wanti Dampak Serius ke APBN
Lonjakan harga minyak dunia berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ratusan triliun rupiah, menurut Direktur Center of Economic and Law Studies (Cel...
Simulasi Celios menunjukkan bahwa apabila harga minyak Brent, yang menjadi acuan Indonesian Crude Price (ICP), menembus US$120 per barel, defisit APBN akan melebar hingga Rp314 triliun. Meskipun ada potensi tambahan penerimaan negara dari komoditas, jumlahnya tidak akan sebanding dengan beban subsidi energi yang membengkak.
Tekanan fiskal ini tidak hanya dipicu oleh kenaikan harga minyak, tetapi juga efek lanjutan terhadap nilai tukar rupiah dan harga pangan. Bhima menilai bahwa semua asumsi makro dalam APBN 2026 tidak lagi relevan dan harus direvisi. Ia juga mengingatkan potensi tekanan terhadap arus kas PT Pertamina (Persero) jika gangguan pasokan minyak dunia berlangsung cukup lama, lebih dari 20 hari, yang dapat menekan kemampuan perusahaan menanggung beban subsidi dan kompensasi energi.
Bhima mendesak pemerintah untuk segera membuka pembahasan dengan DPR RI terkait kemungkinan perubahan APBN jika tekanan harga minyak terus berlanjut. Langkah penyesuaian anggaran perlu dipertimbangkan sejak dini agar pemerintah memiliki ruang fiskal untuk menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri.
Realokasi sejumlah program anggaran seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih, hingga pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dapat menjadi salah satu opsi untuk menjaga harga BBM tetap stabil. Bhima memperingatkan bahwa kenaikan harga BBM, bahkan yang relatif kecil seperti Rp1.000 per liter untuk solar dan pertalite, berpotensi menimbulkan tekanan bagi masyarakat.
Peringatan ini muncul di tengah tren kenaikan harga minyak dunia. Berdasarkan data Oil Price, harga minyak mentah Brent melonjak 8,52 persen menjadi US$92,69 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 12,2 persen menjadi US$90,90 per barel. Kenaikan harga energi ini dipicu oleh konflik yang masih berlangsung antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah, yang juga memicu gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Jika konflik berlanjut, sejumlah negara produsen energi memperkirakan harga minyak dapat melonjak lebih tinggi. Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi bahkan memperingatkan bahwa konflik tersebut berpotensi menghentikan ekspor energi negara-negara Teluk dan memicu dampak luas terhadap perekonomian global.
Pemerintah Indonesia sendiri telah memperkirakan dampak kenaikan harga minyak terhadap APBN. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut jika harga minyak rata-rata tahunan mencapai US$92 per barel, defisit APBN berpotensi meningkat hingga 3,6-3,7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) apabila tidak ada langkah penyesuaian kebijakan.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260307145711-532-1335386/minyak-tembus-usd92-barel-ekonom-wanti-wanti-dampak-serius-ke-apbn
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
08 Apr 2026
Menperin Pastikan Stok Plastik RI Masih Aman Meski Harga Melambung
08 Apr 2026
Pertamina Lampaui Target Emisi, Imbau Masyarakat Bijak Gunakan Energi
08 Apr 2026
Dapat Restu dari Pemerintah, Garuda Akan Naikkan Harga Tiket
08 Apr 2026
PLN Borong 11 PROPER Emas KLH 2025, Dirut Raih Green Leadership
08 Apr 2026
FTSE Russell Pertahankan Status Pasar Modal RI, Pantau Reformasi Bursa
08 Apr 2026
Target Listrik 100 GW EBT Dinilai Belum Matang, Ini Catatan METI