Ekonomi 11 Mar 2026 4 views

Pinhome Nilai Pasar Properti Nasional Tetap Stabil Hingga Akhir 2025

Pasar properti residensial nasional diperkirakan akan tetap stabil hingga akhir 2025, meskipun ada penyesuaian daya beli masyarakat dan perubahan preferensi hunian. Permintaan yang...

Pinhome Nilai Pasar Properti Nasional Tetap Stabil Hingga Akhir 2025
Pasar properti residensial nasional diperkirakan akan tetap stabil hingga akhir 2025, meskipun ada penyesuaian daya beli masyarakat dan perubahan preferensi hunian. Permintaan yang kuat terlihat pada segmen rumah kecil dan menengah, sementara pasar sewa semakin diminati sebagai alternatif.

Data dari Pinhome Home Sell Index (PHSI) dan Pinhome Home Rental Index (PHRI) pada kuartal IV 2025 menunjukkan bahwa Indeks Harga Jual Rumah Nasional naik tipis 0,4% dibandingkan kuartal sebelumnya, dengan kenaikan tahunan yang konsisten di angka 0,4%.

Secara tahunan, rumah berukuran kecil menjadi pendorong utama pasar dengan pertumbuhan 0,8%. Tipe 55-120 naik 0,5%, tipe 121-200 naik 0,3%, sedangkan tipe besar (≥201) mengalami koreksi tipis sebesar -0,9%.

CEO Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, menjelaskan bahwa perubahan ini terkait dengan strategi rumah tangga dalam menyesuaikan pengeluaran di tengah kondisi ekonomi. Segmen menengah dan kecil tetap menjadi favorit masyarakat, sementara rumah besar mengalami penurunan karena konsumen menunda pembelian atau beralih ke opsi sewa di kota inti, serta peningkatan inventori di beberapa wilayah komuter.

Di wilayah DKI Jakarta dan kawasan penyangga, pergerakan harga rumah bervariasi antar wilayah dan tipe hunian. Di Jakarta Utara, rumah tipe 55-120 di Tanjung Priok turun sekitar 5%, sementara tipe 121-200 di Tanjung Priok dan Cilincing turun sekitar 3%. Namun, rumah kecil di kawasan yang sama masih menunjukkan ketahanan, dengan tipe di bawah 54 meter persegi di Tanjung Priok justru meningkat sekitar 3%.

Di Jakarta Barat, rumah kecil di Kembangan meningkat sekitar 3% karena harga yang lebih kompetitif. Sementara itu, rumah tipe menengah di Kalideres naik sekitar 2%, didukung konektivitas transportasi dan kedekatan dengan Bandara Soekarno-Hatta.

Wilayah Jakarta Pusat menunjukkan pergerakan yang lebih merata, terutama di Kemayoran. Rumah tipe besar dan tipe menengah di kawasan ini meningkat sekitar 3%, sementara rumah kecil naik sekitar 2%. Sebaliknya, di Johar Baru terjadi tekanan pada segmen kecil dan menengah, dengan rumah tipe 121-200 turun sekitar 2%, tipe 55-120 turun sekitar 3%, dan tipe kecil turun sekitar 2%.

Di Jakarta Timur, rumah tipe 121-200 meningkat sekitar 3% di Ciracas dan 2% di Cakung, didukung oleh perbaikan akses dan infrastruktur. Sementara itu, di Jakarta Selatan terjadi koreksi terbatas pada rumah kecil, dengan tipe di bawah 54 meter persegi turun sekitar 2% di Jagakarsa dan Pasar Minggu, mencerminkan sikap pembeli yang lebih berhati-hati.

Di kawasan Bodetabek dan Banten, pergerakan harga juga relatif terbatas. Rumah kecil di Kota Tangerang naik sekitar 2%, namun di Kota Serang turun sekitar 3%. Pada segmen rumah besar, Kota Bogor mencatat kenaikan sekitar 3%. Namun, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bekasi mengalami penurunan masing-masing sekitar 3% dan 2%, berkaitan dengan peningkatan inventori rumah di pasar.

Di wilayah lain Indonesia, tren harga rumah umumnya menunjukkan stabilitas dengan penyesuaian terbatas. Di Jawa Barat, rumah tipe besar di Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi turun sekitar 3%. Di Bali, harga hunian cenderung stabil dengan kenaikan pada rumah tipe 121-200 di Kota Denpasar sebesar sekitar 2%, didukung aktivitas ekonomi dan pariwisata yang kuat.

Di Sumatera, Palembang mencatat kenaikan harga rumah kecil sekitar 3% serta rumah tipe menengah sekitar 2%. Sementara di Pekanbaru, rumah tipe 55-120 meningkat sekitar 3%. Pergerakan juga terlihat di Kalimantan dengan kenaikan sekitar 2% pada rumah tipe menengah di Balikpapan dan rumah besar di Samarinda. Di Sulawesi, rumah tipe besar di Manado naik sekitar 2% seiring dinamika ekonomi kota.

Sementara itu, pasar sewa rumah nasional juga menunjukkan stabilitas pada akhir 2025. Indeks Harga Sewa Rumah Nasional pada kuartal IV 2025 naik sekitar 0,6% dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun, secara tahunan, indeks sewa masih turun sekitar 1%. Kondisi ini menunjukkan pasar sewa yang mulai stabil setelah penyesuaian harga pada kuartal sebelumnya.

Kenaikan harga sewa kuartalan terjadi di seluruh segmen rumah. Rumah kecil naik sekitar 0,4%, tipe 55-120 meningkat 0,1%, sementara rumah tipe 121-200 dan rumah besar masing-masing naik sekitar 0,5%. Secara tahunan, pertumbuhan paling terlihat pada rumah tipe menengah dan besar. Rumah tipe 55-120 naik sekitar 1,5%, tipe 121-200 meningkat 1,6%, dan rumah besar naik sekitar 2,3%.

Permintaan dari kalangan profesional dan ekspatriat di pusat aktivitas ekonomi seperti Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Kabupaten Bekasi masih menjadi penopang utama pasar sewa. Hal ini juga mencerminkan pergeseran sebagian permintaan dari pasar pembelian ke pasar sewa.

Memasuki 2026, Pinhome menilai pasar properti nasional berpotensi memasuki fase ekspansi setelah melalui periode konsolidasi sepanjang 2025. Perbaikan fundamental ekonomi dan kebijakan pembiayaan dinilai dapat menjadi pendorong pemulihan transaksi. Dengan stabilitas makro yang terjaga dan kebijakan yang konsisten, Pinhome optimistis bahwa 2026 akan menjadi tahun normalisasi pasar properti. Kombinasi faktor tersebut diharapkan dapat memperkuat intermediasi perbankan dan mendorong aktivitas pembangunan di berbagai wilayah Indonesia.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260311130826-625-1336781/pinhome-nilai-pasar-properti-nasional-tetap-stabil-hingga-akhir-2025
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.