Ekonomi 12 Mar 2026 5 views

Senjata Makan Tuan, Harga Bensin AS Melonjak Tajam Akibat Perangi Iran

Harga bensin dan diesel eceran di Amerika Serikat (AS) melonjak tajam akibat konflik antara AS dan Israel dengan Iran, yang mengganggu ekspor minyak dan bahan bakar. Harga bahan ba...

Senjata Makan Tuan, Harga Bensin AS Melonjak Tajam Akibat Perangi Iran
Harga bensin dan diesel eceran di Amerika Serikat (AS) melonjak tajam akibat konflik antara AS dan Israel dengan Iran, yang mengganggu ekspor minyak dan bahan bakar. Harga bahan bakar naik lebih dari 10 persen dalam sepekan, seiring dengan kenaikan harga minyak dunia di atas US$90 per barel, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak khawatir dengan kenaikan harga bensin ini. "Jika naik, ya naik saja," ujarnya kepada Reuters pada Kamis (12/3). Trump sebelumnya berjanji untuk menurunkan harga energi dan meningkatkan pengeboran minyak dan gas AS jika terpilih kembali. Namun, masa kepemimpinannya justru diwarnai volatilitas dan ketidakpastian akibat pergeseran kebijakan dan gejolak geopolitik.

Meskipun AS adalah produsen minyak mentah terbesar dan eksportir utama, negara ini tetap mengimpor jutaan barel per hari karena merupakan konsumen minyak terbesar di dunia.

Menurut data American Automobile Association (AAA) pada Jumat (6/3), harga rata-rata nasional bensin reguler di AS mencapai US$3,32 per galon, naik 11 persen dari seminggu sebelumnya dan merupakan yang tertinggi sejak September 2024. Sementara itu, harga diesel mencapai US$4,33, naik 15 persen dari seminggu lalu dan merupakan yang tertinggi sejak November 2023.

Pengendara di sebagian wilayah Midwest dan Selatan AS, termasuk negara bagian pendukung Trump dalam Pemilu 2024, mengalami kenaikan biaya bahan bakar paling tajam sejak konflik di Iran dimulai. GasBuddy mencatat, di Georgia, rata-rata harga bensin eceran naik 40,1 sen per galon selama seminggu terakhir.

Andrenna McDaniel, seorang pekerja asuransi kesehatan di South Fulton, Georgia, terkejut melihat harga meroket dalam semalam. "Harganya melonjak begitu cepat," katanya, menyatakan ketidaksetujuannya terhadap perang tersebut. Sebagai pendukung Demokrat, McDaniel kini hanya berkendara untuk keperluan paling penting dan beruntung bisa bekerja dari rumah.

Richard Soule (69), seorang veteran Angkatan Udara AS dan pensiunan petugas pemadam kebakaran yang juga pemilih Trump, berpendapat bahwa kesulitan di SPBU saat ini sepadan dengan upaya Trump untuk melindungi Amerika. "Ketika Presiden Trump pergi ke sana dan mengebom nuklir mereka, sementara mereka hanya meremehkannya, saya yakin dia melakukan hal yang benar di waktu yang tepat," kata Soule.

Negara bagian lain, seperti Indiana dan West Virginia, juga mengalami kenaikan harga masing-masing sebesar 44,3 sen dan 43,9 sen. Analis memperingatkan bahwa beban yang lebih berat mungkin akan datang, mengingat tren kenaikan harga minyak.

Pada Jumat (6/3), harga minyak berjangka AS ditutup di US$90,90 per barel, naik hampir US$10 dan merupakan kenaikan satu hari terbesar sejak April 2020. Analis GasBuddy, Patrick De Haan, memperkirakan bahwa jika minyak terus naik dan gangguan pasokan berlanjut, harga rata-rata nasional bensin bisa mencapai US$3,50 hingga US$3,70 per galon dalam beberapa hari mendatang.

Gangguan di Timur Tengah dan Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak utama dunia, telah meningkatkan permintaan minyak AS di luar negeri, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga bagi kilang domestik. Denton Cinquegrana, kepala analis minyak di OPIS, menjelaskan bahwa meskipun AS telah mengurangi ketergantungannya pada minyak mentah Timur Tengah, kilang-kilang Asia dan Eropa belum. "Itulah yang Anda lihat terjadi di pasar spot, karena permintaan untuk ekspor AS meningkat, sehingga harganya pun naik," imbuhnya.

Faktor musiman juga dapat menambah tekanan, karena harga bensin biasanya naik di musim semi dan mencapai puncaknya di musim panas akibat permintaan yang lebih tinggi dan biaya produksi bensin campuran musim panas yang lebih mahal.

Bahan bakar diesel mengalami lonjakan yang lebih agresif sejak Iran mulai membalas serangan AS dan Israel, yang secara signifikan mengganggu pengiriman di Selat Hormuz. Persediaan diesel global tetap ketat karena permintaan besar untuk pemanas dan pembangkit listrik selama musim dingin yang berkepanjangan di AS dan bagian lain dunia, serta keterbatasan struktural kapasitas penyulingan. Kenaikan biaya diesel akan berdampak pada harga segala sesuatu, mulai dari makanan hingga furnitur, karena diesel digunakan dalam transportasi logistik, manufaktur, pertanian, dan pengiriman global. "Di dunia di mana kata kunci yang populer adalah 'keterjangkauan', hal ini tentu saja tidak akan membantu," kata Denton Cinquegrana.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260312132807-85-1337225/senjata-makan-tuan-harga-bensin-as-melonjak-tajam-akibat-perangi-iran
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.