RESEARCH INSIGHT: Ramadan saat Perang Bergolak, Inflasi akan Menggila?
Judul: RESEARCH INSIGHT: Ramadan saat Perang Bergolak, Inflasi akan Menggila? Jakarta, Pernah merasa uang belanja bulanan menjadi lebih cepat habis beberapa waktu terakhir? Kondis...
Jakarta, Pernah merasa uang belanja bulanan menjadi lebih cepat habis beberapa waktu terakhir? Kondisi ini mungkin dirasakan sebagian besar masyarakat Indonesia sejak awal 2026.Tren kenaikan harga yang dirasakan secara umur dan terus menerus selama jangka waktu tertentu dikenal dengan istilah inflasi.Awal tahun ini, inflasi Tanah Air sempat melambung tinggi, melampaui batas aman yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) 3,5 persen secara tahunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai gambaran, inflasi Februari berada di level 4,76 persen year on year (yoy), melonjak dari catatan Januari yakni 3,55 persen yoy.Lihat Juga :RESEARCH INSIGHT: Tren Suku Bunga Turun, Apa Dampak ke Pasar Modal?
Secara bulanan alias month to month (mtm), inflasi Februari 2026 berada di 0,68 persen, berbanding terbalik dari catatan Februari 2025 yang mengalami penurunan harga atau deflasi 0,48 persen.Fenomena tersebut dirangkum dalam jurnal Inflasi Bulanan Maret 2026, Seri Analisis Makroekonomi yang dirilis LPEM FEB Universitas Indonesia (UI) pada 4 Maret 2026.Analis menilai peningkatan drastis pada inflasi awal 2026 tak lepas dari kondisi tahun sebelumnya. Di mana, tahun lalu inflasi terjaga berkat diskon tarif listrik secara besar-besaran, dan membalikkan keadaan saat tarif kembali diberlakukan normal.Lalu, bagaimana dengan tren inflasi Maret tahun ini yang bertepatan dengan momentum Ramadan dan Idulfitri?Lihat Juga :ANALISISBisakah Pemerintah Tahan Harga BBM Subsidi di Tengah Lonjakan Harga?Kali ini, Research Insight mengajak untuk menilik seperti apa nasib "dompet" masyarakat Indonesia ketika dihadapkan pada momentum Ramadan dan Lebaran 2026.Inflasi Februari 2026 secara yoy dinobatkan sebagai yang tertinggi dalam 39 bulan terakhir, di mana kenaikannya dipengaruhi oleh low base effect dari posisi deflasi tahun sebelumnya.Alhasil, inflasi 2026 tidak bisa diartikan sebagai lonjakan tekanan harga baru, melainkan konsekuensi dari normalisasi diskon harga listrik.Selain itu, kenaikan inflasi 2026 secara mtm terjadi karena tekanan musiman dari periode awal Ramadan dan Tahun Baru Imlek. Pengaruh tersebut diperkuat oleh penyesuaian pasokan pangan imbas cuaca, terutama pada komoditas sensitif curah hujan seperti cabai.Lihat Juga :Wamen ESDM Pastikan Stok BBM RI Aman, Ketahanan Lebih dari 30 HariPergolakan harga mulai menunjukkan peningkatan tekanan pada Februari 2026, sejalan dengan masuknya Ramadan."Ketika permintaan terhadap sejumlah komoditas pangan mulai meningkat dan ekspektasi harga di tingkat konsumen ikut menguat," tulis analisis tersebut.Inflasi komponen harga bergejolak Februari 2026 tercatat sebesar 4,64 persen (yoy) dan 2,50 persen (mtm), dengan tekanan utama berasal dari komoditas pangan strategis seperti daging ayam ras, beras, bawang merah, dan telur ayam ras.Secara bulanan, tekanan harga utamanya didorong kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah. Komoditas tersebut juga mengalami kenaikan musiman pada Ramadan tahun lalu.Lihat Juga :ANALISISHarga Minyak US$200/Barel: Fantasi Liar atau Ancaman Nyata Depan Mata?"Meski demikian, inflasi kelompok harga bergejolak berpotensi meningkat lebih tajam apabila terjadi gangguan pasokan, khususnya pada komoditas beras," jelas analisis tersebut.Di sisi lain, inflasi inti Februari 2026 mencapai 2,63 persen. Kenaikan harga ini masih didominasi harga emas perhiasan yang naik, seiring meningkatnya permintaan emas di tengah ketidakpastian ekonomi global.Andil komoditas emas perhiasan ke inflasi umum tahunan sekitar 1,06 persen poin. Sedangkan inflasi rumah tangga, relatif terjaga.Analisis LPEM FEB UI juga mengungkapkan bahwa kenaikan harga bulanan beberapa komoditas pangan tampak lebih kuat pada Ramadan tahun ini, ketimbang tahun lalu yang jatuh pada Maret 2025. Khususnya kenaikan pada daging ayam ras.Lihat Juga :Hemat BBM, Bahlil Buka Opsi WFH Seperti FilipinaAndil daging ayam ras terhadap inflasi umum bulanan pada Februari 2026 mencapai 0,09 persen poin, meningkat dari 0,03 persen poin pada Maret 2025.Komoditas lain yang turut menyumbang inflasi bulanan adalah cabai rawit dengan andil 0,08 persen poin serta ikan segar dengan andil 0,05 persen poin.Pola juga menunjukkan bahwa tekanan harga pangan pada Februari 2026 tidak hanya berasal dari faktor musiman Ramadan, tetapi juga mengarah pada penguatan permintaan sejumlah komoditas pangan utama."Dalam hal ini, semakin luasnya implementasi program MBG dalam satu tahun terakhir dapat menjadi salah satu faktor yang turut memperkuat permintaan, meski kontribusinya perlu dilihat lebih dalam untuk masing-masing komoditas," ungkap analis.Lihat Juga :Purbaya soal Rupiah Tembus Rp17 Ribu per Dolar AS: Masih OkeIndonesia termasuk yang mencatatkan pola inflasi konsisten dalam setiap tahunnya. Dalam hal ini, harga akan selalu naik saat memasuki bulan puasa, kemudian melonjak saat Lebaran.Faktor pemicunya tak jauh-jauh dari kenaikan harga pada kelompok bahan makan dan tarif transportasi jelang mudik. Hal ini membuat rata-rata inflasi Ramadan Indonesia berada di kisaran 0,5 persen mtm.Tren inflasi dalam 10 tahun terakhir. (Alya Hendrahmi/).Mengacu data di atas, inflasi Ramadan Tanah Air sempat berada di level terendah 0,07 persen pada 2020. Hal ini terjadi imbas pandemi Covid-19, ketika Ramadan dilaksanakan di tengah pembatasan mobilitas (PSBB) dan larangan mudik oleh pemerintah.Di luar momentum Ramadan dan Lebaran, angka inflasi secara bulanan Tanah Air berada di kisaran 0,22 persen mtm. Sedangkan inflasi akhir tahun cenderung di level 0,4 persen mtm.Untuk Maret 2026, Analisis LPEM FEB UI menilai inflasi tahunan bakal menurun ke kisaran 3,07 persen sampai 3,51 persen (yoy) seiring memudarnya low-base effect. Secara bulanan, inflasi diperkirakan berada pada kisaran 0,01 persen hingga sampai 0,44 persen (mtm).Meski demikian, proyeksi ini tetap menghadapi upside risks, terutama dari peningkatan permintaan pangan selama Ramadan, kenaikan tarif transportasi untuk mobilitas perayaan dan libur Idulfitri, serta dampak dari penyesuaian harga BBM non-subsidi per 1 Maret 2026."Risiko inflasi yang lebih tinggi juga dapat datang dari kenaikan harga minyak dunia di tengah konflik Timur Tengah, yang berpotensi memengaruhi biaya energi domestik," tulis analisis tersebut.Lihat Juga :Amran: Pabrik Sawit Tanpa Kebun Rusak Sistem Plasma PetaniAdapun program pembangunan pemerintah, termasuk proyek hilirisasi dan pembangunan rumah, dapat menambah tekanan harga secara bertahap apabila akselerasi implementasinya mulai lebih terasa pada awal tahun ini.Inflasi Unik Ramadan di IndonesiaDalam lima tahun terakhir, tren inflasi Ramadan di beberapa negara mayoritas muslim menunjukkan pola yang cukup beragam. Jika inflasi sebelumnya didominasi aktivitas belanja pakaian, ongkos mudik dan kenaikan harga pangan, kali ini justru berbeda.Perbedaan kondisi inflasi Ramadan periode 2021-2025 yakni karena dibumbui kondisi krisis global. Hal ini membuat tren inflasi di mayoritas negara muslim berbeda.Secara garis besar, tren inflasi Ramadan di sejumlah negara bisa terbagi ke dalam tiga kategori, yakni negara dengan daya tahan inflasi tinggi, terkendali hingga krisis dan gejolak moneter.Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) masuk ke dalam kategori negara dengan tingkat daya tahan inflasi tinggi. Kategori Tren Inflasi Ramadan di Negara Muslim Dunia 5 Tahun Terakhir. (Alya Hendrahmi/).Artinya, meskipun tren inflasi Ramadan di negara tersebut tinggi, itu dapat diimbangi oleh kebijakan pemerintah. Salah satunya dengan memberikan subsidi hingga mengontrol kenaikan harga.Menariknya, penyebab inflasi di negara Arab dan UEA lebih dikarenakan sektor jasa. Di antaranya kenaikan harga tiket pesawat hingga tarif hotel, imbas lonjakan ibadah umrah selama Ramadan.Kategori selanjutnya ada Indonesia dan Malaysia yang dinilai memiliki inflasi terkendali. Untuk Indonesia memiliki pola inflasi unik, di mana awal Ramadan tren kenaikan harga cenderung lunak, kemudian memuncak jelang Hari Raya.Terakhir ada Mesir, Turki dan Pakistan yang masuk dalam kategori krisis dan gejolak moneter. Ketiga negara tersebut masuk dalam kelompok menderita, lantaran inflasi bukan berasal dari kenaikan permintaan bahan pangan, tetapi juga ambruknya mata uang negara dan ketergantungan terhadap impor.Adapun level inflasinya berada di rentang 30 persen hingga 70 persen dalam lima tahun terakhir.[Gambas:Video CNN]
Inflasi Unik Ramadan di Indonesia
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260313082318-92-1337534/research-insight-ramadan-saat-perang-bergolak-inflasi-akan-menggila
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
07 Apr 2026
Hitungan Amran: Stok Beras 4,6 Juta Ton Cukup untuk 11 Bulan
07 Apr 2026
Siapkan Solusi, Mentan Amran Bakal Cek Harga Ayam Hidup yang Anjlok
07 Apr 2026
BI Buka Suara soal Rupiah Tembus Level Terendah Sepanjang Sejarah
07 Apr 2026
Ada 15 Juta Ton, Pupuk Indonesia Pastikan Produksi Aman
07 Apr 2026
FOTO: Kedelai Mahal, Harga Jual Tahu Masih Tertahan
07 Apr 2026
Kisah Ritno Kurniawan, Penggerak Desa Sejahtera Astra Nyarai