Perang Trump di Iran Pukul Pemulihan Lapangan Kerja AS, PHK Mengintai
Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) kembali terancam akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran. Konflik ini dinilai berpotensi menghambat pemuli...
Setelah empat pekan sejak serangan diluncurkan, dampak ekonomi mulai terasa. Jalur pelayaran penting AS terganggu, harga minyak melonjak, rantai pasokan terhambat, dan harga bensin meningkat. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi yang menekan pasar tenaga kerja.
Kepala Ekonom, Heather Long, menyatakan bahwa jika Selat Hormuz tetap ditutup dan harga minyak bertahan di atas US$100 hingga April, maka ekonomi AS akan menghadapi situasi yang sangat berbeda, dan PHK bisa kembali terjadi.
Saat ini, pasar tenaga kerja AS masih berada dalam pola "low-hire, low-fire" atau perekrutan dan PHK yang sama-sama rendah, dan diperkirakan akan bertahan untuk sementara waktu. Kepala Ekonom EY-Parthenon, Gregory Daco, menyebut ketidakpastian sebagai faktor utama yang menahan aktivitas perekrutan. Ia memperkirakan ekspansi ekonomi tanpa penciptaan lapangan kerja signifikan (jobless expansion) dengan penambahan sekitar 20 ribu pekerjaan per bulan pada paruh pertama tahun ini. Sementara itu, tingkat pengangguran diproyeksikan naik dari 4,4 persen menjadi sekitar 4,7 persen pada akhir tahun.
Daco menambahkan bahwa dengan peluang resesi sekitar 40 persen, risiko terbesar adalah jeda perekrutan yang berkepanjangan dapat berubah menjadi pelemahan yang lebih nyata. Untuk saat ini, pasar tenaga kerja masih dalam tahap pendinginan, belum retak, tetapi jika ketidakpastian kembali meningkat, retakan itu bisa muncul pada akhir musim semi.
Kondisi pasar tenaga kerja AS sendiri sudah melemah sejak tahun lalu. Pada 2025, perekonomian hanya menambah sekitar 116 ribu lapangan kerja, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata 121 ribu pekerjaan per bulan pada 2024. Sebelumnya, ada optimisme bahwa kondisi akan membaik tahun ini, didorong oleh proyeksi inflasi yang melandai, pemangkasan suku bunga, serta kebijakan pajak baru yang diharapkan mendorong konsumsi dan investasi. Namun, konflik terbaru justru memperbesar ketidakpastian tersebut.
Direktur Riset Ekonomi Indeed Hiring Lab, Laura Ullrich, mengatakan bahwa belum ada data yang menunjukkan pasar tenaga kerja membaik drastis atau memburuk drastis di AS. Saat ini terlihat cukup stabil, tetapi stagnan.
Di sisi lain, konsumen AS sebagai penggerak utama ekonomi mulai tertekan oleh kenaikan harga energi. Harga minyak naik sekitar US$30 per barel sejak perang dimulai, sementara harga bensin rata-rata melonjak menjadi US$3,98 per galon. Kenaikan biaya energi tersebut diperkirakan dapat memangkas pendapatan rumah tangga tahunan lebih dari US$1.350. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) bahkan memproyeksikan inflasi AS dapat naik menjadi 4,2 persen tahun ini, dari 2,4 persen pada Februari.
Meskipun demikian, konsumsi masih bertahan untuk sementara waktu. Data menunjukkan sebagian masyarakat mempercepat pembelian untuk mengantisipasi kenaikan harga lebih lanjut. Long mengatakan bahwa orang-orang memperkirakan harga tiket pesawat akan naik dan rencana liburan musim panas menjadi lebih mahal, sehingga mereka mencoba memesan sekarang. Ia menambahkan, daya tahan konsumsi juga didukung oleh pengembalian pajak yang rata-rata meningkat sekitar 10 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun, kondisi ini dinilai tidak bisa bertahan lama. Untuk saat ini, konsumen masih bertahan.
Sejumlah data penting pasar tenaga kerja AS, termasuk tingkat perekrutan sektor swasta, angka PHK, dan laporan bulanan tenaga kerja, dijadwalkan rilis pekan ini dan akan menjadi indikator arah ekonomi selanjutnya.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260330115039-92-1342493/perang-trump-di-iran-pukul-pemulihan-lapangan-kerja-as-phk-mengintai
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
06 Apr 2026
Rupiah Melemah ke Rp16.995 per Dolar AS Pagi Ini
06 Apr 2026
Stok Beras Indonesia Sentuh Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Berapa?
06 Apr 2026
Harga Ayam Hidup Anjlok ke Rp18 Ribu per Kg
06 Apr 2026
Deret Saham Berpeluang Cuan Saat Pasar Dibayangi Tren Pelemahan
06 Apr 2026
Blak-Blakan SeaBank soal Majukan UMKM RI Lewat Platform UMKM Pintar
06 Apr 2026
IHSG Diperkirakan Tancap Gas Awali Pekan Ini