Ekonomi 05 Apr 2026 1 views

Konflik Timur Tengah, Mentan Wanti-wanti Harga Pestisida Meroket

Makassar, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meminta para pengusaha pestisida untuk tidak menaikkan harga secara berlebihan. Hal ini disampaikan di tengah kekhawatiran...

Konflik Timur Tengah, Mentan Wanti-wanti Harga Pestisida Meroket
Makassar, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meminta para pengusaha pestisida untuk tidak menaikkan harga secara berlebihan. Hal ini disampaikan di tengah kekhawatiran kenaikan biaya produksi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Menurut Amran, kenaikan harga masih bisa dikendalikan agar tidak membebani petani.

"Kuantumnya tidak terlalu besar. Saya meminta seluruh pedagang dan pengusaha pestisida. Anda sudah untung puluhan tahun. Tolonglah mengabdi pada negara kita. Boleh untung, tapi jangan terlalu tinggi," kata Amran saat berada di Gudang Bulog Panaikang, Makassar, Minggu (5/4).

Ia menegaskan bahwa pelaku usaha boleh mengambil keuntungan, namun tidak sampai memicu lonjakan harga yang signifikan bagi petani. "Jangan ambil untung banyak. Sampai naikkan 30 persen. Kalau bisa jangan dinaikkan banyak-banyak," tambahnya.

Berdasarkan perhitungannya, Amran menilai kenaikan harga pestisida seharusnya masih dalam batas wajar dan tidak terlalu tinggi. "Ya, kecil kemungkinan kenaikan harga pestisida. Jangan naik banyak-banyak, 5 persen, 10 persen. Ini kan yang penting untung dulu," ujarnya.

Amran menambahkan bahwa dibandingkan pestisida, pupuk merupakan komponen yang lebih krusial bagi petani. Pemerintah telah menyiapkan berbagai dukungan untuk sektor pertanian, mulai dari alat mesin pertanian (alsintan), pompanisasi, hingga irigasi, untuk menjaga produktivitas.

"Yang paling berbahaya adalah pupuk. Nah, itu bahaya. Pengolahan tanah, alat mesin pertanian sudah kita siapkan. Pompanisasi, itu bantuan pemerintah. Irigasi, bantuan pemerintah. Jadi, petani Indonesia aman," jelasnya.

Ia juga memastikan pemerintah akan menyediakan dukungan tambahan, termasuk ketersediaan pestisida, sehingga petani tidak perlu terlalu khawatir terhadap potensi kenaikan harga. "Jumlahnya kecil. Tapi memang kita siapkan juga pestisida dari pemerintah. Jadi, tidak usah khawatir," kata Amran.

Di sisi lain, tekanan kenaikan harga pestisida memang tidak lepas dari dampak konflik geopolitik global. Ketua Umum Asosiasi Produsen Pestisida Indonesia (APROPI), Yanurius Nunuhitu, sebelumnya menjelaskan bahwa harga bahan aktif pestisida, yang sebagian besar diimpor, mengalami kenaikan seiring lonjakan harga minyak dunia.

"Kenaikan harga tidak bisa dihindari karena bahan aktif pestisida kita impor dari China dan hampir semuanya sensitif terhadap harga minyak. Harga bahan aktif sudah naik sejak dimulainya perang," ujar Yanurius pada Kamis (12/3).

Selain itu, sebagian besar formulasi pestisida menggunakan pelarut berbasis minyak, sehingga kenaikan harga energi global secara langsung meningkatkan biaya produksi. Komponen kemasan juga terdampak, karena hampir seluruh produk pestisida menggunakan plastik yang harganya ikut naik akibat gangguan pasokan petrokimia.

"Sejak Chandra Asri mengumumkan *force majeure*, harga kemasan plastik langsung naik. Hampir 99 persen formulasi pestisida dikemas dalam kemasan plastik," katanya.

Konflik di Timur Tengah, terutama yang memengaruhi jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz, telah mendorong kenaikan harga minyak dunia. Dampaknya menjalar ke berbagai sektor, termasuk bahan kimia dan plastik yang menjadi bahan baku pestisida, sehingga biaya produksi meningkat.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260405145138-92-1344470/konflik-timur-tengah-mentan-wanti-wanti-harga-pestisida-meroket
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.