Ekonomi 20 Apr 2026 3 views

Daging Sapi Terancam Kian Mahal Imbas Naiknya Harga Impor Sapi Bakalan

Jakarta, Harga daging sapi di wilayah Jabodetabek diprediksi melonjak dalam waktu dekat. Hal ini seiring kenaikan harga sapi bakalan impor dari Australia yang kini menembus level t...

Daging Sapi Terancam Kian Mahal Imbas Naiknya Harga Impor Sapi Bakalan
Jakarta, Harga daging sapi di wilayah Jabodetabek diprediksi melonjak dalam waktu dekat. Hal ini seiring kenaikan harga sapi bakalan impor dari Australia yang kini menembus level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian (Kementan) Makmun mengungkapkan kenaikan harga di negara asal menjadi tekanan utama bagi pelaku usaha dalam negeri.Ia menyoroti lonjakan harga pada jenis feeder heifer, yakni sapi bakalan betina muda yang biasanya dipelihara untuk digemukkan sebelum dipotong, yang kini sudah jauh melampaui tren historis.

"Harga sapi di Australia itu sudah naik. Jadi feeder heifer itu per tanggal 20 April itu harganya sudah di US$4 (per kilogram). Pengalaman kami tahun-tahun sebelumnya tidak pernah melebihi angka US$3,5," ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Senin (20/4).Lihat Juga :Satu Kapal Tanker Bermuatan LPG RI Sukses Melintas Selat Hormuz

Selain sapi betina, harga sapi bakalan jantan (feeder steer) juga tercatat lebih tinggi, mencapai sekitar US$4,56 per kilogram, dengan rata-rata keduanya di kisaran US$4,32. Kenaikan ini kemudian berdampak langsung pada harga impor setelah ditambah berbagai komponen biaya seperti ongkos angkut (freight), asuransi, hingga proses karantina di dalam negeri.Berdasarkan perhitungan biaya impor (CIF), harga sapi hidup saat tiba di Indonesia sudah berada di kisaran Rp73.459 per kg untuk betina dan Rp81.988 per kg untuk jantan.Setelah ditambah pajak penghasilan impor, biaya penanganan, serta potensi susut selama distribusi, harga akhirnya melonjak menjadi sekitar Rp77.177 per kg untuk sapi betina dan Rp86.139 per kg untuk sapi jantan.Kondisi ini dinilai menjadi persoalan karena harga tersebut jauh di atas Harga Acuan Pembelian (HAP) yang saat ini ditetapkan pemerintah, yakni maksimal Rp58 ribu per kg bobot hidup.Lihat Juga :Bahlil Ungkap Alasan Harga BBM Nonsubsidi NaikSelisih yang cukup lebar ini berpotensi mendorong kenaikan harga daging di pasar, terutama di wilayah yang sangat bergantung pada pasokan impor seperti Jabodetabek."Ini posisi yang agak rumit ini kelihatannya, karena harga kita di HAP-nya Rp58 ribu maksimal, sementara harga belinya teman-teman ini sudah sangat tinggi. Ini ber-impact pada harga daging sapi di Jabodetabek," kata Makmun.Ia menjelaskan wilayah di luar Jawa relatif masih memiliki penopang dari sapi lokal sehingga dampaknya tidak terlalu terasa. Namun, untuk Jabodetabek yang sebagian besar pasokannya berasal dari impor, tekanan harga diperkirakan akan lebih kuat dan berisiko memicu lonjakan harga di tingkat konsumen.
Di sisi lain, Makmun juga mengingatkan risiko yang lebih besar jika pelaku usaha dipaksa menjual sesuai HAP di tengah kenaikan biaya. Kondisi tersebut dapat membuat pelaku usaha menahan pembelian sapi bakalan, yang pada akhirnya justru memicu kekurangan pasokan di pasar."Kalau kita tekan khawatirnya mereka tidak belanja, nanti malah kita kekurangan stok. Ini lebih berbahaya lagi kalau kemudian stoknya tidak ada," ujarnya.Kementan bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) disebut tengah membahas langkah lanjutan, termasuk kemungkinan penyesuaian kebijakan harga agar tetap menjaga keseimbangan antara ketersediaan pasokan dan stabilitas harga di pasar. (del/sfr)

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260420125702-92-1349998/daging-sapi-terancam-kian-mahal-imbas-naiknya-harga-impor-sapi-bakalan
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.