BPS Beber Alasan Kenaikan Harga Plastik Belum Terasa di Kantong
Jakarta, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti membeberkan alasan kenaikan harga plastik di pasaran belum terasa signifikan terhadap pengeluaran masyaraka...
Berdasarkan data BPS per April 2026, tarif listrik menjadi komoditas dengan bobot terbesar dalam keranjang konsumsi masyarakat, yakni 4,9 persen. Setelah itu disusul bensin sebesar 4,4 persen dan beras 3,4 persen.Lihat Juga :IHSG Rontok 2,44 Persen ke 6.559 Usai Libur Panjang
Komoditas lain dengan bobot besar antara lain kontrak rumah 3,29 persen, sewa rumah 2,96 persen, nasi dengan lauk 2,32 persen, biaya langganan internet 2,31 persen, hingga biaya perguruan tinggi 2,17 persen.Winny menjelaskan besarnya bobot tarif listrik membuat perubahan harga pada komoditas tersebut sangat cepat memengaruhi inflasi nasional. "Kalau waktu ada diskon listrik itu langsung berdampak luar biasa terhadap inflasi kita yang memberikan kontribusi terhadap deflasi. Kemudian setelah kembali normal ada lonjakan inflasi karena memang tarif listrik itu bobotnya di dalam keranjang konsumsi masyarakat adalah yang terbesar," katanya.Ia menambahkan dampak kenaikan harga bensin terhadap inflasi juga belum terlalu besar karena mayoritas masyarakat masih menggunakan bahan bakar bersubsidi."Kemudian terjadi kenaikan tadi bensin adalah yang berasal dari bensin non-subsidi," ujarnya.Menurut Winny, berbeda dengan listrik atau beras, konsumsi produk plastik secara langsung dalam rumah tangga relatif kecil. Dalam daftar 20 komoditas terbesar penyumbang konsumsi masyarakat, produk plastik bahkan nyaris tidak terlihat.Lihat Juga :Rupiah Jatuh ke Rp17.630, Kompak Anjlok Bersama Mata Uang LainData BPS menunjukkan botol minuman plastik hanya memiliki bobot 0,0139 persen dalam keranjang konsumsi masyarakat, sementara lemari plastik hanya 0,0026 persen."Botol minuman plastik, lemari plastik ini bobotnya di dalam konsumsi keranjang masyarakat relatif sangat-sangat kecil," tutur Winny.Ia menjelaskan dampak kenaikan harga plastik baru akan terasa apabila produsen makanan dan minuman mulai menaikkan harga produk yang menggunakan kemasan plastik."Yang dirasakan oleh konsumen adalah bukan harga plastiknya, tetapi harga air kemasannya," ujarnya.Dalam paparan BPS, air kemasan tercatat menjadi komoditas ke-17 dengan bobot konsumsi sebesar 1,07 persen dan mengalami inflasi tahunan 1,36 persen pada April 2026.Winny mengatakan transmisi kenaikan harga plastik terhadap inflasi sangat bergantung pada keputusan produsen untuk menaikkan harga jual produk ke konsumen."Transmisi kenaikan harga plastik kepada konsumen itu bergantung dari seberapa besar produsen-produsen makanan yang menggunakan plastik dalam pembungkusnya, seperti air kemasan atau kue-kue dalam plastik, kemudian menaikkan harga barangnya. Itulah yang kemudian nanti dirasakan oleh konsumen dan tercermin di dalam indeks harga konsumen," katanya.
(del/ins)
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260518111852-92-1359508/bps-beber-alasan-kenaikan-harga-plastik-belum-terasa-di-kantong
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
28 May 2026
Pertamina Berbagi Lebih dari 4.400 Hewan Kurban di Momen Iduladha 2026
28 May 2026
Dari Sumatra ke Nusa Tenggara, BNI Salurkan 1.200 Kurban Iduladha 2026
28 May 2026
Pimpinan Bank Mandiri Hadiri Nobar Film 'Semua Akan Baik-baik Saja'
28 May 2026
Harga Minyak Naik Setelah AS Kembali Serang Iran
28 May 2026
Rupiah Melemah Pagi Ini, Dibuka Dekati Rp17.900 per Dolar AS
28 May 2026
Harga Emas Antam Turun Rp31.000 Jadi Rp2,754 Juta/gram