AI di Situs Agen Travel Rekomendasikan Destinasi Fiktif, Turis Tertipu
AI di Situs Agen Travel Rekomendasikan Destinasi Fiktif, Turis Tertipu Jakarta, Penggunaan kecerdasan buatan (AI) memang memudahkan pekerjaan, namun terlalu bergantung pada AI tan...
Jakarta, Penggunaan kecerdasan buatan (AI) memang memudahkan pekerjaan, namun terlalu bergantung pada AI tanpa verifikasi data yang ketat bisa merusak reputasi bisnis. Hal ini dialami oleh Tasmania Tours, operator tur asal Australia, akhir tahun lalu. Mereka menggunakan AI untuk membuat konten blog, termasuk rekomendasi tempat wisata di Weldborough, sebuah desa kecil di Tasmania yang berjarak sekitar 110 kilometer dari Launceston.
Masalah muncul ketika AI merekomendasikan "Weldborough Hot Springs", sebuah pemandian air panas tersembunyi yang eksotis. Padahal, destinasi tersebut fiktif. Tasmania Tours telanjur mempublikasikan artikel itu di situs resmi mereka. Akibatnya, turis membanjiri Weldborough untuk mencari mata air panas tersebut. Kristy Probert, pemilik Hotel Weldborough, mengaku kewalahan menanggapi pertanyaan turis sepanjang September 2025. "Awalnya hanya beberapa panggilan telepon, namun kemudian orang-orang mulai berbondong-bondong datang. Saya menerima sekitar lima panggilan sehari, dan setidaknya ada dua hingga tiga orang yang tiba di hotel setiap hari hanya untuk mencari mata air panas itu," ujar Probert mengutip CNN.
Setelah menyadari penipuan ini, para pelancong melayangkan keluhan keras kepada Tasmania Tours. Perusahaan di bawah naungan Australian Tours and Cruises itu pun dibanjiri ujaran kebencian secara daring, merusak reputasi bisnis mereka. "Sistem AI kami benar-benar kacau," aku Scott Hennessey, pemilik Australian Tours and Cruises. Hennessey beralasan bahwa pihaknya menggunakan agen pemasaran pihak ketiga untuk mengelola blog, dan artikel tersebut diunggah saat manajemen sedang di luar negeri, sehingga luput dari peninjauan internal. "Kami mencoba bersaing dengan perusahaan lain sehingga merasa perlu menjaga konten agar tetap segar. Kami bukan penipuan, kami sah, nyata, dan mempekerjakan staf penjualan yang kompeten," tegasnya dalam klarifikasi.
Fenomena ini menjadi peringatan bagi dunia pariwisata yang semakin didominasi AI. Data menunjukkan sekitar 37 persen wisatawan menggunakan AI untuk merancang rencana perjalanan. Namun, kepercayaan ini sering kali tidak tepat. Profesor pariwisata di Southern Cross University, Anne Hardy, menyebutkan bahwa penelitian menunjukkan 90 persen rencana perjalanan yang dihasilkan AI mengandung kesalahan. "Para turis cenderung lebih memercayai AI daripada situs ulasan. Ini sangat berbahaya," kata Hardy. Hardy menambahkan bahwa penggunaan AI oleh operator tur untuk materi pemasaran sering menghasilkan informasi tidak akurat, mulai dari jarak tempuh, tingkat kesulitan medan, hingga kondisi cuaca di lokasi terpencil.
Sebagai langkah antisipasi, ia menyarankan para pelancong untuk tetap merujuk pada buku panduan perjalanan yang kredibel, agen perjalanan resmi, atau situs web dengan ulasan asli. Konfirmasi langsung kepada penyedia akomodasi atau warga lokal juga sangat disarankan untuk memastikan akurasi destinasi tujuan.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260131141614-269-1323135/ai-di-situs-agen-travel-rekomendasikan-destinasi-fiktif-turis-tertipu
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
13 Feb 2026
Cek Jadwal War Tiket Mudik Kereta Lebaran 2026, Berikut Cara Pesannya
13 Feb 2026
50 Ucapan Hari Valentine untuk Sahabat yang Tulus dan Berkesan
13 Feb 2026
7 Cara 'Ngucapin' Hari Valentine ke Pacar yang Romantis dan Tulus
13 Feb 2026
Changi Jadi Salah Satu Bandara Terbaik untuk Bertemu Belahan Jiwa
13 Feb 2026
Vlogger Filipina Meninggal Setelah Makan 'Kepiting Setan'
13 Feb 2026
7 Ciri-Ciri Orang Baik Hati dan Tulus yang Mudah Dikenali