Intip Vending Machine yang Jual Obat, Tak Perlu ke Apotek?
Vending machine kini tidak hanya menjual makanan dan minuman, tetapi juga obat-obatan. ApoTech+ sedang menguji coba vending machine obat yang juga berfungsi sebagai sistem layanan...
Harie, Manager Retail ApoTech+, mengatakan bahwa uji coba ini bertujuan untuk melihat bagaimana masyarakat berinteraksi dengan mesin, memahami alurnya, dan sejauh mana layanan telefarmasi dapat membantu memenuhi kebutuhan obat sehari-hari.
Uji coba ini dikemas dalam agenda "Exclusive First Reveal of ApoTech+" dan diklaim sebagai mesin apotek digital pertama di Indonesia. ApoTech+ diperkenalkan di dua lokasi berbeda. Pertama, di kawasan M Bloc, Jakarta Selatan, yang ramai pengunjung. Kedua, uji coba dilanjutkan pada 14-15 Februari 2026 di Antasari Place, Jakarta Selatan, dengan sasaran utama pengunjung perkantoran.
Untuk membeli obat melalui vending machine ApoTech+, pengguna tidak bisa langsung membeli seperti di vending machine biasa. Ada alur khusus yang harus diikuti. Pengguna memulai dengan memilih obat atau kategori keluhan melalui layar sentuh. ApoTech+ menyediakan berbagai pilihan obat untuk keluhan ringan seperti pusing, sakit perut, alergi, hingga kebutuhan pertolongan pertama dan vitamin. Untuk obat tertentu, pengguna dapat berkonsultasi terlebih dahulu sebelum membeli.
Fitur telefarmasi memungkinkan pengguna terhubung langsung dengan apoteker melalui panggilan video. Layanan ini berfokus pada edukasi obat dan aturan pakai, bukan untuk diagnosis penyakit.
ApoTech+ menerapkan sistem klasifikasi obat yang sama seperti apotek pada umumnya. Untuk obat bebas dengan tanda hijau, pengguna dapat langsung memilih produk, melakukan pembayaran, dan obat akan otomatis dikeluarkan oleh mesin.
Namun, mekanisme berbeda berlaku untuk obat bebas terbatas dan obat keras. Pada kategori ini, sistem secara otomatis menghentikan transaksi dan mengarahkan pengguna untuk berkonsultasi dengan apoteker melalui fitur telefarmasi. Harie Wijayanto menjelaskan, "Kalau obat bebas terbatas atau obat keras, nanti sistem nggak akan bisa ngasih. Makanya sistem akan bikin warning untuk bicara dulu dengan telefarmasi."
Dalam proses tersebut, apoteker berperan memvalidasi kebutuhan obat, memastikan keberadaan resep bila diperlukan, serta menjelaskan aturan penggunaan obat secara langsung kepada pengguna. Kamera yang terpasang di dalam mesin memungkinkan apoteker melihat pembeli yang sedang berkonsultasi. Resep dokter yang diunggah juga diperiksa secara visual sebelum transaksi dilanjutkan. Harie menambahkan, "Di situ kan ada kamera. Jadi apoteker bisa lihat siapa yang nebus. Kalau misalnya yang nebus anak kecil, bisa ditolak."
Untuk obat keras, pengguna wajib memindai resep dokter. Resep tersebut kemudian diverifikasi oleh apoteker sebelum obat dapat dikeluarkan. Jika resep dianggap tidak valid atau tidak sesuai, transaksi tidak akan dilanjutkan.
Selain sistem konsultasi, ApoTech+ juga menerapkan standar pengelolaan obat layaknya apotek. Seluruh produk disimpan dalam kondisi suhu terkontrol sekitar 25 derajat Celcius untuk menjaga kualitas obat. "Semua barang di sini itu under temperature control. Jadi kualitas produk terjaga," kata Harie.
Pada tahap uji coba ini, jenis obat dan produk kesehatan yang tersedia disesuaikan dengan karakteristik masing-masing lokasi. Di area tertentu, mesin lebih banyak menyediakan vitamin, perlengkapan pertolongan pertama, serta kebutuhan kesehatan ringan. Sementara di lokasi lain, pilihan produk difokuskan pada obat keluhan umum seperti maag, pusing, hingga kebutuhan sanitasi harian.
"Setiap lokasi bisa berbeda. Kalau di gym atau area olahraga, kebutuhannya vitamin dan P3K. Kalau di kawasan perkantoran, bisa lebih ke obat keluhan harian. Itu yang sedang kami pelajari lewat pilot ini," ujar Harie.
Melalui uji coba ini, ApoTech+ juga mengumpulkan masukan langsung dari pengguna, mulai dari kemudahan berkonsultasi dengan apoteker, kejelasan informasi obat, hingga kenyamanan penggunaan mesin di ruang publik. Seluruh temuan dan evaluasi tersebut akan menjadi dasar pengembangan sistem ApoTech+ sebelum layanan ini dipasarkan dan diterapkan secara lebih luas di berbagai fasilitas publik.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260208151257-284-1325966/intip-vending-machine-yang-jual-obat-tak-perlu-ke-apotek
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
13 Feb 2026
7 Kepribadian yang Khas Dimiliki Anak Sulung, Suka Ngatur?
13 Feb 2026
7 Destinasi di Indonesia yang Punya Tradisi Khas Perayaan Imlek
13 Feb 2026
5 Jenis Makanan Pemicu Tumbuh Sel Kanker, Selektif Sejak Dini
13 Feb 2026
Tak Semua Pemalu, Ini 4 Tipe Introvert yang Perlu Kamu Tahu
13 Feb 2026
5 Makanan untuk Kesehatan Mental yang Lebih Baik, Wajib Dicoba
13 Feb 2026
Anti Gloomy, 10 Kebiasaan Sederhana yang Bisa Redakan Depresi