IDAI Tanggapi Gerakan Anti-Vaksin Campak: Orang Tua Jangan Egois
Judul: IDAI Tanggapi Gerakan Anti-Vaksin Campak: Orang Tua Jangan Egois Jakarta, Kasus campak di Indonesia kembali memunculkan perdebatan soal vaksinasi. Di tengah munculnya berba...
Jakarta, Kasus campak di Indonesia kembali memunculkan perdebatan soal vaksinasi. Di tengah munculnya berbagai keraguan hingga gerakan anti-vaksin di masyarakat, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan imunisasi tetaplah cara paling efektif untuk melindungi anak.Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menilai keraguan masyarakat terhadap vaksin menjadi salah satu faktor yang memengaruhi turunnya cakupan imunisasi campak.Lihat Juga :Sering Dianggap Sama, Dokter Jelaskan Beda Ruam Campak dan Cacar Air
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Indonesia, saya kira yang paling jelas adalah memang keraguan masyarakat untuk melakukan imunisasi pada anaknya," kata Piprim di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta Timur, Kamis (12/3).Ia menegaskan, vaksinasi bukan sekadar anjuran medis, melainkan langkah pencegahan berbasis ilmu pengetahuan yang telah melalui proses penelitian panjang. Tujuan utamanya memberikan kekebalan tubuh tanpa harus membuat seseorang sakit terlebih dahulu. Menurutnya, tidak masalah jika ada orang yang ingin mendapatkan kekebalan secara alamiah. Namun cara tersebut berarti seseorang harus terlebih dahulu mengalami sakit sebelum tubuhnya kebal terhadap penyakit."Nah kalau kita inginnya, karena kita dikasih akal oleh Allah, kita ingin kebalnya, tidak mau sakitnya. Makanya virus campak itu diproses oleh para ahli di laboratorium, dibuat lemah, kemudian disuntikkan. Dia dapat kebalnya, tidak dapat sakitnya. Itu inti dari vaksinasi sebetulnya," tutur Piprim.Pilihan RedaksiWaspada Peningkatan Campak, Pramono Galakkan Vaksinasi Lewat PosyanduTak Cuma Anak, Campak pada Orang Dewasa Bisa Picu Komplikasi SeriusKemenkes Kebut Imunisasi Campak Sebelum Idulfitri 2026Sejarah panjang praktik vaksinasiPiprim juga menyinggung praktik vaksinasi sebenarnya memiliki sejarah panjang. Bahkan, menurutnya, konsep vaksin sudah dikenal sejak lama dalam tradisi masyarakat Muslim."Tradisi vaksinasi, penemuan vaksinasi cacar, itu dulu dari masyarakat Turki, Usmani. Kemudian diadopsi oleh istri Dubes Inggris, kemudian diteliti lebih jauh oleh Edward Jenner, dikembangkan jadi vaksin cacar yang pertama," Piprim menjelaskan.Menurutnya, imunisasi bukan hanya melindungi anak yang divaksin, tetapi juga melindungi anak-anak lain yang lebih rentan terhadap penyakit. Misalnya, anak dengan kondisi kesehatan tertentu yang justru tidak dapat menerima vaksin."Kalau kena anak-anak kita yang gizinya jelek, malnutrisi, anak-anak kita yang kena penyakit kronik, penyakit jantung bawaan, kena penyakit-penyakit ginjal yang kena steroid, itu anak-anak harus dilindungi oleh lingkungannya," ujar Piprim.Oleh karena itu, ia mengajak para orang tua untuk kembali fokus pada tujuan utama, yakni menjaga kesehatan anak."Jadi, ayolah sama-sama para orang tua semuanya, ayo kembali, fokus kita satu, jaga kesehatan anak-anak Indonesia. Jangan egois, karena bisa jadi ketika kita menolak vaksinasi, anak-anak kitalah yang sumber penularan dari virus campak ini," katanya.Baca halaman selanjutnya...
Pandangan orang tua soal vaksin campakDi sisi lain, sebagian orang tua tetap memilih memberikan vaksin kepada anak mereka meski berbagai isu beredar di masyarakat.Salah satunya Ayu (29) yang datang membawa anaknya yang berusia 15 bulan untuk mendapatkan vaksin campak untuk kedua kalinya. Menurutnya, vaksin merupakan hak dasar anak yang perlu dipenuhi oleh orang tua."Vaksin kan hak anak, ya. Kalau kita takut hak anak, jadi kita orang tua ya kita ingin hak anak aja udah," kata Ayu kepada .com.Ia mengaku sempat mendengar berbagai kekhawatiran terkait vaksin. Namun ia memilih tetap mengikuti anjuran tenaga kesehatan."Kalau dokter bilang panas, itu reaksi dari tubuh. Jadi kalau ada panas sedikit, kayaknya tidak apa-apa. Nanti sehatnya di depan," ujarnya.[Gambas:Infografis CNN]Hal serupa juga disampaikan Arjiyanti (29) yang datang membawa anaknya yang berusia 5 tahun 2 bulan untuk menerima vaksin campak untuk pertama kalinya. Ia juga berencana menyiapkan vaksin yang sama untuk anaknya yang lain.Arjiyanti mengaku keputusan tersebut diambil setelah mendengar meningkatnya kasus campak belakangan ini. Apalagi ada kekhawatiran akan banyak bertemu orang saat momen Lebaran."Terus sekarang aku dengar bahwa campak lagi seperti ini, jadi parno sendiri. Terus tambah lagi kayak kerabat dekat juga ada, apalagi momen Lebaran nanti ketemu sama orang," katanya saat ditanyai.Menurut Arjiyanti, vaksin tetap penting selama terbukti aman dan memberikan manfaat bagi kesehatan anak."Kalau selama itu baik, menurut aku, kita ikutin," ujarnya.Ia juga menilai keputusan untuk menolak vaksin dapat berdampak pada kesehatan anak. Hal ini terutama karena penyakit menular seperti campak bisa menyebar dengan cepat.Perbedaan pandangan terkait vaksin memang masih ada di masyarakat. Namun para ahli menekankan, imunisasi tetap menjadi salah satu cara paling efektif untuk melindungi anak dari penyakit menular yang berpotensi menyebabkan komplikasi serius.
Add
as a preferred source on Google
Pandangan Orang Tua Soal Vaksin Campak
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260312182457-255-1337418/idai-tanggapi-gerakan-anti-vaksin-campak-orang-tua-jangan-egois
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
06 Apr 2026
Aplikasi Ini Beri Informasi Pesawat Delay Lebih Cepat dari Bandara
06 Apr 2026
Skor IQ Rata-rata Orang Indonesia, Peringkat ke-131 dari 142 Negara
06 Apr 2026
Aksi 3 Menit, Pencurian Rapi Lukisan Para Maestro di Museum Italia
06 Apr 2026
Psikolog Sebut Baligo Film 'Aku Takut Mati' Bisa Berbahaya buat Mental
06 Apr 2026
Tak Cuma Sabtu, Night At Ragunan Zoo Kini Juga Buka Selasa-Jumat
06 Apr 2026
5 Penambahan Sederhana Ini Bikin Ruang Tamu Jadi Lebih Estetik