Lebaran dan Teror Halus Pertanyaan 'Kapan Nikah?'
Judul: Lebaran dan Teror Halus Pertanyaan 'Kapan Nikah?' Jakarta, Lebaran selalu identik dengan hangatnya pertemuan keluarga. Tawa, cerita, dan hidangan khas seolah menjadi pereka...
Jakarta, Lebaran selalu identik dengan hangatnya pertemuan keluarga. Tawa, cerita, dan hidangan khas seolah menjadi perekat yang menyatukan kembali hubungan yang sempat renggang oleh waktu.Namun di balik suasana akrab itu, ada satu pertanyaan yang nyaris tak pernah absen: 'kapan nikah?'Kalimat ini sering meluncur begitu saja di sela percakapan. Terdengar ringan, bahkan kadang dibumbui tawa. Tetapi bagi sebagian orang, pertanyaan itu tidak selalu terasa sesederhana cara penyampaiannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat Juga :Asal-usul THR Lebaran, dari Hadiah Raja hingga Hak PekerjaPertanyaan itu kerap datang tiba-tiba, biasanya di sela obrolan ringan. Kadang disampaikan sambil bercanda, kadang juga diikuti pertanyaan lain yang tak kalah klasik, 'kapan punya anak?' 'Kapan punya anak kedua?' Dan merembet ke pertanyaan yang sebenarnya bersifat personal lainnya. Bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut mungkin terasa seperti candaan keluarga. Tetapi bagi yang mendengarnya berulang kali, situasi itu bisa berubah menjadi tekanan yang tak selalu nyaman.Alifya (24) cukup akrab dengan pengalaman tersebut. Setiap kali berkumpul bersama keluarga besar, topik yang sama hampir selalu muncul."Sering, sering. Sering ditanya," kata Alifya ketika menceritakan pengalamannya kepada .com, Minggu (15/3).Pilihan RedaksiTradisi Unik 'Manampuang', Bagi Daging Kurban Tanpa Kupon di AgamKoleksi Lebaran Intresse x Sandiaga Uno Angkat Wastra Riau yang ModernSejarah Nastar, Tart Eropa yang Bertransformasi Jadi Favorit LebaranPertanyaan itu biasanya datang dari keluarga dekat seperti om, tante, atau sepupu yang lebih tua. Awalnya, ia merasa kesal karena topik yang sama terus diulang setiap kali ada pertemuan keluarga."Awalnya sih kesel, ya. Soalnya ngerasa, kenapa sih topiknya itu terus," ujarnya.Bagi Alifya, situasi itu pernah terasa cukup mengganggu. Ia merasa pertanyaan tersebut seolah menjadi topik wajib setiap kali keluarga berkumpul.Namun seiring waktu, ia mencoba menghadapi situasi itu dengan cara berbeda. Daripada menjelaskan panjang lebar atau menunjukkan rasa kesal, ia memilih menjawab dengan santai, bahkan bercanda."Sekarang aku mensiasati pertanyaan seperti itu dengan jawaban santai saja. Kayak, 'ya doain cepat, ya. Makanya sumbangannya,' gitu-gitu sih," katanya.Bagi Alifya, cara tersebut menjadi strategi sederhana agar momen berkumpul bersama keluarga tetap terasa nyaman.Meski begitu, ia memahami mengapa pertanyaan itu sering muncul. Di lingkungannya, banyak orang menikah tidak lama setelah menyelesaikan kuliah. Hal tersebut membuat pernikahan kerap dipandang sebagai langkah berikutnya setelah pendidikan selesai."Di lingkungan kami, setelah kuliah selesai, banyak orang yang memutuskan untuk menikah. Jadi anggapannya lulus kuliah itu menikah," ujarnya.Pandangan seperti itu membuat pernikahan sering diposisikan sebagai tahap penting dalam perjalanan hidup seseorang. Ketika seseorang belum menikah, pertanyaan tentang hal tersebut pun mudah muncul dalam percakapan keluarga.Padahal, bagi sebagian anak muda, masa setelah lulus kuliah justru menjadi waktu untuk mencoba berbagai kemungkinan. Ada yang ingin fokus membangun karier, ada pula yang memilih mengejar pengalaman baru sebelum memutuskan untuk berkeluarga.Namun dalam banyak percakapan keluarga, ukuran pencapaian hidup sering kali masih terlihat serupa, mulai dari pekerjaan tetap, pasangan hidup, lalu anak.
'Teror' LebaranPsikolog klinis Mira Amir mengatakan pertanyaan tentang pernikahan dapat menjadi tekanan sosial bagi sebagian orang, terutama mereka yang berada pada fase dewasa muda."Iya, itu kan memang jadinya social pressure bagi seseorang," kata Mira saat dihubungi .com, Rabu (11/3).Dalam tahap perkembangan psikologis, usia dewasa muda memang merupakan fase ketika seseorang mulai membangun hubungan yang lebih serius dengan pasangan. Namun, kondisi kehidupan modern membuat proses tersebut tidak selalu berjalan mudah.Kesibukan pekerjaan, keterbatasan waktu untuk berinteraksi, hingga tantangan menjaga hubungan menjadi beberapa faktor yang memengaruhi keputusan seseorang untuk menikah.Ilustrasi. Tradisi lebaran. (/Adhi Wicaksono)Karena itu, ketika pertanyaan tentang pernikahan terus dilontarkan, sebagian orang bisa merasa seolah belum memenuhi harapan sosial."Jadi, pertanyaan itu ibaratnya seperti menohok. Yang bisa berdampak pada diri seseorang, merasa gagal," ujarnya.Perasaan tersebut dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Dalam beberapa kasus, tekanan sosial itu bahkan bisa memengaruhi rasa percaya diri."Bisa memicu self-esteem, rasa percaya dirinya terganggu. Bisa berkembang menjadi kecemasan," kata Mira.Ia juga melihat tidak sedikit orang yang akhirnya merasa cemas ketika harus menghadiri acara keluarga besar. Bahkan, kecemasan tersebut bisa muncul jauh sebelum hari pertemuan berlangsung.Lihat Juga :Cerita Warga yang Memilih Perjalanan Mudik di Malam Hari"Alhasil, tidak mengherankan jika menjelang hari H, gejala cemasnya sudah mulai timbul. Sulit tidur, lalu jadi mudah tersinggung," katanya.Menurut Mira, cara penyampaian pertanyaan juga memengaruhi dampaknya. Ketika pertanyaan disampaikan berulang kali atau dengan nada yang merendahkan, situasi tersebut dapat terasa seperti perundungan.Oleh karena itu, ia menilai penting bagi keluarga untuk lebih peka terhadap perasaan anggota keluarga lainnya."Minimal, para keluarga belajar cara menyampaikannya dengan proper. Tetap mengedepankan empati," ujarnya.Lanjut di halaman berikutnya..
Menikah cepat dianggap suksesSosiolog Universitas Sumatera Utara, Harmona Daulay, menjelaskan bahwa pernikahan masih dipandang sebagai salah satu bentuk kehidupan yang ideal."Nilai dan norma yang ada di dalam masyarakat Indonesia masih kuat menempatkan pernikahan dalam institusi keluarga sebagai suatu nilai ideal," ujar Mona kepada .com, Sabtu (14/3).Nilai tersebut diperkuat oleh norma sosial, budaya, dan agama yang menempatkan keluarga sebagai fondasi kehidupan masyarakat.Dalam banyak komunitas, seseorang yang telah menikah sering dianggap telah mencapai tahap kedewasaan. Status tersebut juga kerap dipandang sebagai tanda stabilitas hidup.Lihat Juga :#UstazTanyaDongApa Hukumnya Tidak Menegur Teman yang Berbuat Dosa?Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pertanyaan tentang pernikahan mudah muncul ketika keluarga berkumpul. Menurut Mona, setiap masyarakat memiliki standar tertentu tentang apa yang dianggap sebagai keberhasilan hidup."Tidak bisa dipungkiri, dalam setiap masyarakat tentu ada nilai dan norma yang melekat tentang sesuatu yang dihargai. Apakah itu uang, status sosial, status ekonomi, maupun status pernikahan," katanya.Di Indonesia, status pernikahan masih sering menjadi salah satu indikator untuk menilai perjalanan hidup seseorang.Budaya keluarga besar juga membuat kehidupan pribadi seseorang kerap menjadi perhatian bersama. Berbeda dengan masyarakat yang lebih individual, kehidupan keluarga di Indonesia cenderung melibatkan banyak anggota keluarga dalam berbagai urusan.[Gambas:Photo CNN]"Karena konstruksi nilai idealnya secara dominan masih pada keluarga luas sebagai penopang keluarga yang ideal," ujarnya.Akibatnya, status lajang kadang dipandang tidak sepenuhnya sesuai dengan gambaran kehidupan yang dianggap ideal."Status single distereotipkan dengan hal yang kurang mendukung pada keseimbangan kehidupan," kata Harmona.Meski demikian, perubahan perlahan mulai terlihat di kalangan generasi muda. Perkembangan teknologi dan akses informasi membuat banyak orang memiliki perspektif yang lebih luas tentang pilihan hidup.Bagi sebagian anak muda, pencapaian hidup tidak lagi hanya diukur dari pernikahan. Karier, pendidikan, pengalaman hidup, hingga pengembangan diri mulai dipandang sebagai bentuk keberhasilan yang tidak kalah penting.Lihat Juga :#UstazTanyaDongSikat Gigi Pakai Odol Saat Puasa, Puasa Batal atau Enggak?Perbedaan cara pandang ini sering kali memunculkan jarak antara generasi yang lebih tua dan generasi muda.Lebaran tetap menjadi momen untuk mempererat hubungan keluarga. Pertemuan tersebut menghadirkan kesempatan untuk saling mendengar cerita dan berbagi pengalaman.Namun, di tengah kehangatan itu, percakapan tentang pencapaian hidup sering kali muncul tanpa disadari. Mulai dari pekerjaan, kondisi ekonomi, hingga pernikahan.Pertanyaan seperti 'kapan nikah?' mungkin akan terus ada dalam tradisi percakapan keluarga Indonesia. Bagi sebagian orang, pertanyaan itu hanya terdengar sebagai basa-basi.Namun bagi yang menerimanya berulang kali, kalimat sederhana tersebut kadang menyimpan tekanan yang jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan.
Add
as a preferred source on Google
Lebaran dan Teror Halus Pertanyaan ‘Kapan Nikah?’
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260317100751-284-1338894/lebaran-dan-teror-halus-pertanyaan-kapan-nikah
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
06 Apr 2026
Tak Cuma Sabtu, Night At Ragunan Zoo Kini Juga Buka Selasa-Jumat
06 Apr 2026
5 Penambahan Sederhana Ini Bikin Ruang Tamu Jadi Lebih Estetik
06 Apr 2026
5 Trik Cepat Pesan Ulang Tiket Saat Penerbangan Batal atau Ditunda
06 Apr 2026
WHO Prediksi 2,5 Miliar Orang Alami Gangguan Pendengaran pada 2050
06 Apr 2026
Turis Asing ke India Kini Wajib Isi Kartu Kedatangan Digital
06 Apr 2026
Studi Ungkap Alasan Senin Jadi Hari Paling Bikin Stres