Finlandia Kembali Dinobatkan Jadi Negara Paling Bahagia
Finlandia kembali menduduki peringkat pertama sebagai negara paling bahagia di dunia dalam laporan tahunan World Happiness Report 2026. Ini adalah tahun kesembilan berturut-turut F...
Keberhasilan negara-negara tersebut dikaitkan dengan faktor-faktor seperti kesejahteraan tinggi, distribusi kekayaan merata, sistem perlindungan sosial yang kuat, dan harapan hidup sehat. Presiden Finlandia, Alexander Stubb, menyatakan bahwa kebahagiaan negaranya berasal dari komitmen terhadap kebebasan, kesetaraan, dan keadilan.
Laporan yang dirilis oleh Wellbeing Research Centre ini juga mencatat Kosta Rika sebagai pendatang baru di lima besar, menempati posisi keempat. Peningkatan ini disebut karena kuatnya ikatan keluarga dan hubungan sosial yang erat di masyarakat.
Namun, laporan tahun ini menyoroti dampak mengkhawatirkan dari penggunaan media sosial terhadap kesejahteraan generasi muda, terutama di negara-negara berbahasa Inggris dan Eropa Barat. Dalam satu dekade terakhir, tingkat kepuasan hidup kelompok usia di bawah 25 tahun di Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru mengalami penurunan signifikan.
Profesor ekonomi Oxford, Jan-Emmanuel De Neve, salah satu penyunting laporan, menduga bahwa kebiasaan "scrolling" media sosial selama berjam-jam telah memengaruhi kesehatan mental anak muda. Dampak ini paling terasa pada remaja perempuan. Gadis berusia 15 tahun yang menggunakan media sosial lima jam atau lebih per hari cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah dibandingkan mereka yang menggunakannya lebih singkat.
Menariknya, anak muda yang menggunakan media sosial kurang dari satu jam per hari melaporkan tingkat kesejahteraan tertinggi, bahkan lebih tinggi dari mereka yang tidak menggunakan media sosial sama sekali. Rata-rata remaja saat ini menghabiskan sekitar 2,5 jam per hari di platform digital.
Peneliti juga menyoroti bahwa media sosial dengan *algorithmic feeds*, konten visual dominan, dan kehadiran *influencer* berpotensi menimbulkan perbandingan sosial yang tidak sehat. Sebaliknya, platform yang berfokus pada komunikasi interpersonal cenderung memberikan dampak positif.
Meskipun demikian, hubungan antara media sosial dan kesejahteraan tidak selalu negatif di semua wilayah. Di Timur Tengah dan Amerika Selatan, penggunaan media sosial yang tinggi tidak selalu diiringi penurunan kesejahteraan, menunjukkan adanya faktor budaya dan sosial yang turut memengaruhi.
Laporan ini juga mencatat bahwa untuk tahun kedua berturut-turut, tidak ada negara berbahasa Inggris yang masuk dalam 10 besar negara paling bahagia. Amerika Serikat berada di peringkat 23, Kanada di posisi 25, dan Inggris di urutan 29.
Di bagian bawah daftar, negara-negara yang berada di zona konflik masih mendominasi. Afghanistan kembali dinobatkan sebagai negara paling tidak bahagia, diikuti oleh Sierra Leone dan Malawi.
Laporan ini disusun berdasarkan survei terhadap sekitar 100.000 responden di 140 negara, dan mengajak dunia untuk meninjau kembali hubungan antara teknologi dan kualitas hidup. De Neve menekankan tantangan ke depan adalah mengembalikan esensi "sosial" dalam media sosial itu sendiri.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260320142701-277-1339892/finlandia-kembali-dinobatkan-jadi-negara-paling-bahagia
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
06 Apr 2026
WHO Prediksi 2,5 Miliar Orang Alami Gangguan Pendengaran pada 2050
06 Apr 2026
Turis Asing ke India Kini Wajib Isi Kartu Kedatangan Digital
06 Apr 2026
Studi Ungkap Alasan Senin Jadi Hari Paling Bikin Stres
06 Apr 2026
Kuliner Jadi Faktor Penentu Turis Asia Pilih Destinasi Liburan
06 Apr 2026
Cara Booking Trans Hotel Jakarta dengan Promo Menarik
06 Apr 2026
Ikuti 5 Tips Jalan Kaki Ini Jika Ingin Sekaligus Bentuk Massa Otot