Anak Mogok Sekolah Habis Libur Panjang? Ini Cara Mengatasinya
Judul: Anak Mogok Sekolah Habis Libur Panjang? Ini Cara Mengatasinya Daftar Isi Cara mengatasi anak mogok sekolah 1. Usia taman kanak-kanak 2. Usia sekolah dasar 3. Usia sekolah m...
Daftar Isi
Cara mengatasi anak mogok sekolah
1. Usia taman kanak-kanak
2. Usia sekolah dasar
3. Usia sekolah menengah pertama
4. Usia sekolah menengah atas
Jakarta, Kembali ke sekolah setelah libur panjang sering kali menjadi momen yang berat bagi sebagian anak. Tidak jarang, anak mogok sekolah karena merasa malas atau bahkan membenci aktivitas belajar di sekolah.
Sebagai orang tua, bagaimana sebaiknya merespons sikap ini? Apakah harus dianggap serius atau sekadar fase biasa dalam masa tumbuh kembang anak?
Lihat Juga :
5 Kata-Kata Ini Sering Diucapkan ke Cucu, Sepele tapi Ternyata 'Toxic'
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cara mengatasi anak mogok sekolah
Sebenarnya, anak mogok sekolah adalah hal yang wajar terjadi dan bisa dialami oleh anak dari berbagai usia dan tingkat pendidikan.
Hampir setiap anak pasti pernah mengalami benci sekolah atau malas pergi ke sekolah. Alasannya bisa beragam, seperti kurang motivasi, lelah secara mental, atau tak suka dengan gaya pertemanan di sekolahnya.
Pilihan Redaksi
Benarkah Suntik Vitamin K Berbahaya untuk Bayi? Ini Penjelasan IDAI
Terlalu Rajin di Kantor Bikin Pekerja Dibebani Lebih Banyak Tugas
Atasi Kepunahan, Kebun Binatang Gelar Kencan Buta untuk Panda Merah
Mengutip laman Parents, berikut ini cara mengatasi anak mogok sekolah sesuai dengan usia dan tingkat pendidikannya.
1. Usia taman kanak-kanak
Anak-anak usia taman kanak-kanak atau TK sering merasa lelah atau kewalahan dengan lingkungan baru. Mereka juga mungkin kesulitan berpisah dari orang tua.
Menurut psikolog Anne Welsh, ketika anak usia TK menunjukkan penolakan, yang sebenarnya mereka inginkan adalah koneksi atau kepastian.
"Menambahkan momen-momen kecil untuk menjalin koneksi sebelum atau sesudah sekolah dapat membuat perbedaan besar," Welsh menyarankan.
Anak juga mendambakan konsistensi. Menurut Sanam Hafeez, ahli neuropsikologi di New York, menyarankan orang tua untuk membuat rutinitas pagi yang mencakup elemen sama setiap hari. Misalnya, sarapan bersama atau salam khusus yang lucu sebelum keluar rumah.
2. Usia sekolah dasar
Anak-anak di usia SD mulai merasakan kemandirian dan mungkin mulai tidak suka dengan materi pelajaran atau lingkungan sosialnya.
Hafeez mengatakan, memberikan anak kesempatan untuk terlibat dalam keputusan sehari-hari, seperti memilih bekal makan siang, dapat meningkatkan rasa kontrol dan motivasi mereka.
Orang tua juga dianjurkan untuk menanyakan hal-hal terbuka tentang pengalaman sekolah anak, misalnya, "Apa yang membuatmu tertawa hari ini?" atau "Apa hal baru yang kamu pelajari?"
Adapun Monica Barreto, Direktur Klinis Kesehatan Perilaku di Nemours Children's Health, mendorong orang tua untuk fokus membentuk kebiasaan tidur yang sehat pada anak. Salah satunya, dengan mengurangi penggunaan teknologi di malam hari.
Lihat Juga :
6 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Merapikan Tempat Tidur Setiap Pagi
3. Usia sekolah menengah pertama
Masa SMP merupakan periode yang lebih kompleks. Anak mulai menghadapi tekanan akademik yang lebih berat, drama pertemanan, dan mungkin ketertarikan romantis pertama.
"Siswa SMP cenderung merasakannya lebih intens, terutama jika ada drama dengan teman, tekanan untuk berprestasi, atau guru yang mereka rasa tidak memahami mereka," kata Hafeez.
Pada tahap ini, penting bagi orang tua untuk menjadi tempat yang aman bagi anak agar mereka merasa nyaman berbagi masalah. Selain itu, orang tua bisa membantu anak mengaitkan pelajaran dengan minat dan passion mereka agar sekolah terasa lebih bermakna dan relevan.
4. Usia sekolah menengah atas
Tekanan anak untuk sukses di SMA meningkat karena persiapan untuk perguruan tinggi dan karier masa depan. Anak remaja mungkin merasa pelajaran yang diambil tidak relevan dengan tujuan mereka, sehingga menimbulkan ketidaksukaan pada sekolah.
"Hal terpenting yang dapat Anda lakukan untuk mempromosikan hubungan yang sehat dengan sekolah adalah menumbuhkan pola pikir berkembang (growth mindset)," kata Hafeez.
Tanamkan kepada anak bahwa sekolah merupakan tempat untuk mencoba, gagal, dan belajar tanpa takut dihakimi. Orang tua juga harus memberikan ruang bagi anak untuk bereksperimen dan menyelesaikan masalah sendiri, sambil tetap siap membantu jika diperlukan.
Mengatasi anak mogok sekolah memerlukan pendekatan yang berbeda sesuai dengan tingkat pendidikan dan kebutuhan emosional anak.
Yang terpenting, yakni menjaga komunikasi terbuka, memahami penyebab anak mogok sekolah, dan memberikan dukungan yang tepat agar anak dapat kembali semangat menjalani aktivitas sekolahnya. (rti)
Add
as a preferred source on Google
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260330122605-284-1342508/anak-mogok-sekolah-habis-libur-panjang-ini-cara-mengatasinya
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
05 Apr 2026
Plus Minus Situationship, Hubungan Tanpa Status yang Lagi Tren
05 Apr 2026
Suhu Kawah Gunung Slamet Naik, Seluruh Jalur Pendakian Ditutup
05 Apr 2026
Trans Hotel Jakarta, Sekali Coba Ingin Datang Lagi
05 Apr 2026
10 Makanan yang Tahan Lama, Nyaris Tak Bisa Kedaluwarsa
05 Apr 2026
Tak Selalu 'I Love You', Ini 9 Tanda Si Dia Sayang Kamu
05 Apr 2026
Terungkap! Studi Ini Sebut Laki-laki Lebih Cepat Meninggal