Kemenkes Ungkap 8 Persen Kasus Campak Terjadi pada Orang Dewasa
Judul: Kemenkes Ungkap 8 Persen Kasus Campak Terjadi pada Orang Dewasa Jakarta, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap bahwa kasus campak di Indonesia tidak hanya terjadi pad...
Jakarta, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap bahwa kasus campak di Indonesia tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga menyerang orang dewasa.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni menyebut sekitar 8 persen kasus campak tercatat pada kelompok usia di atas 18 tahun.
Lihat Juga :
Dokter di Cianjur Meninggal Positif Tertular Campak Diduga Saat Tugas
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita lihat data di Indonesia, jadi 8 persen kasus terjadi pada orang dewasa. Memang paling banyak pada anak-anak, tetapi ada 8 persen yang tercatat adalah kelompok usia dewasa," ujar Andi dalam konferensi pers, Senin (30/3).
Ia menjelaskan, meski proporsi kasus pada orang dewasa lebih kecil dibanding anak-anak, kelompok ini tetap memiliki risiko, terutama jika memiliki kondisi kesehatan tertentu atau intensitas paparan yang tinggi.
Kemenkes juga mencatat kasus kematian akibat campak pada kelompok dewasa. Andi mencontohkan, pada 2022 terdapat satu kasus kematian pada pasien berusia 25 tahun dalam periode Januari hingga Juni.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kematian akibat campak lebih banyak terjadi pada kelompok balita.
Andi turut menjelaskan bahwa orang dewasa yang telah menerima vaksin campak tetap bisa terinfeksi, meskipun umumnya memiliki perlindungan imun yang lebih baik.
Menurutnya, dalam program imunisasi nasional, vaksin campak diberikan dua kali pada masa anak-anak, yakni saat usia 9 bulan dan 18 bulan, serta dilanjutkan dengan booster pada usia sekolah dasar untuk memberikan perlindungan optimal.
Pilihan Redaksi
Ragu untuk Imunisasi Diduga Jadi Penyebab Tingginya Kasus Campak di RI
Booster Vaksin pada Orang Tua Bisa Lindungi Bayi dari Campak
Ciri-Ciri Campak pada Orang Dewasa, Ini Gejala yang Umum Terjadi
Namun, sejumlah faktor dapat memengaruhi tingkat keparahan infeksi pada usia dewasa.
"Walaupun sudah diberikan dua kali imunisasi, pada kondisi dewasa ada faktor-faktor yang memengaruhi," ujarnya.
Faktor tersebut antara lain kondisi imun yang lemah, seperti pada penderita HIV/AIDS dan kanker, serta penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.
Selain itu, tingkat paparan virus juga berperan penting, terutama pada tenaga kesehatan yang memiliki kontak intens dengan pasien.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan, Yuli Farianti menekankan pentingnya perlindungan bagi tenaga kesehatan yang berisiko tinggi terpapar campak.
Ia mengingatkan agar tenaga kesehatan tidak mengabaikan kondisi kesehatan diri sendiri, termasuk saat mengalami gejala awal penyakit.
Menurut Yuli, kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), seperti penggunaan alat pelindung diri (APD), menjadi kunci pencegahan.
"Jangan mengabaikan hal-hal yang dianggap barangkali 'oh ini nggak mungkin kena'" ujarnya.
Selain itu, Kemenkes juga akan memperketat pengawasan kesehatan tenaga medis, termasuk melalui pemeriksaan kesehatan (medical check-up) dan vaksinasi campak ulang bagi peserta program internship.
Kemenkes memastikan pemantauan kasus campak dilakukan secara real-time melalui sistem surveilans nasional.
Andi menjelaskan, data dikumpulkan melalui laporan langsung dari rumah sakit dan puskesmas, kemudian diverifikasi oleh dinas kesehatan daerah untuk memastikan akurasi.
"Kami pastikan bahwa perbedaan-perbedaan data itu terverifikasi dan tervalidasi dengan baik," ujarnya.
Melalui sistem ini, pemerintah berharap dapat mendeteksi kasus secara cepat sekaligus mencegah penyebaran yang lebih luas, termasuk pada kelompok dewasa yang selama ini kerap dianggap berisiko rendah. (nga/fef)
Add
as a preferred source on Google
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260330172054-255-1342654/kemenkes-ungkap-8-persen-kasus-campak-terjadi-pada-orang-dewasa
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
05 Apr 2026
Plus Minus Situationship, Hubungan Tanpa Status yang Lagi Tren
05 Apr 2026
Suhu Kawah Gunung Slamet Naik, Seluruh Jalur Pendakian Ditutup
05 Apr 2026
Trans Hotel Jakarta, Sekali Coba Ingin Datang Lagi
05 Apr 2026
10 Makanan yang Tahan Lama, Nyaris Tak Bisa Kedaluwarsa
05 Apr 2026
Tak Selalu 'I Love You', Ini 9 Tanda Si Dia Sayang Kamu
05 Apr 2026
Terungkap! Studi Ini Sebut Laki-laki Lebih Cepat Meninggal