Ini Arti Level A-D pada Label 'Nutri-Level' pada Produk Makanan
Judul: Ini Arti Level A-D pada Label 'Nutri-Level' pada Produk Makanan Daftar Isi 1. Level A 2. Level B 3. Level C 4. Level D Jakarta, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI re...
Daftar Isi
1. Level A
2. Level B
3. Level C
4. Level D
Jakarta, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI resmi memperkenalkan sistem label 'Nutri-Level' pada kemasan pangan olahan yang membagi produk ke dalam empat kategori, mulai dari Level A hingga D sebagai panduan sederhana bagi masyarakat dalam memilih makanan yang lebih sehat.Kebijakan ini ditandai dengan penandatanganan Rancangan Revisi Peraturan BPOM tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan oleh Kepala BPOM, Taruna Ikrar pada Senin (6/4).Lihat Juga :BPOM Setujui Penerapan 'Nutri-Level', Cegah Konsumsi Gula Berlebih
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu poin utama dalam revisi tersebut adalah penambahan ketentuan pelabelan gizi di bagian depan kemasan atau front of pack nutrition labelling (FOPNL) melalui sistem Nutri-Level.Melalui sistem ini, produk dengan olahan akan diklasifikasikan berdasarkan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) ke dalam empat level yang ditandai huruf dan warna yang berbeda. 1. Level ALevel A ditandai dengan warna hijau tua dan menunjukkan kandungan GGL paling rendah. Produk dalam kategori ini dinilai lebih sehat dan dapat menjadi pilihan utama untuk konsumsi sehari-hari.Pilihan RedaksiBakal Ditiru Indonesia, Apa Itu Nutri-Grade yang Diterapkan Singapura?Hati-Hati, 5 Suplemen Ini Justru Jadi Penyebab Sembelit Tambah Parah10 Makanan yang Tahan Lama, Nyaris Tak Bisa Kedaluwarsa2. Level BSementara itu, Level B berwarna hijau muda menandakan kandungan GGL yang masih tergolong rendah, meski sedikit lebih tinggi dibandingkan Level A. Produk dalam kategori ini masih relatif aman dikonsumsi, namun tetap perlu memperhatikan jumlah asupan.3. Level CPada Level C yang ditandai warna kuning, BPOM memberikan catatan bahwa produk dalam kategori ini perlu dikonsumsi dengan bijak. Artinya, kandungan gula, garam, atau lemak di dalamnya sudah cukup tinggi sehingga tidak disarankan dikonsumsi secara berlebihan atau terlalu sering.4. Level DAdapun Level D dengan warna merah menjadi kategori dengan kandungan GGL paling tinggi. Produk dalam level ini dianjurkan untuk dibatasi konsumsinya, terutama bagi orang dengan kondisi kesehatan tertentu.
Kepala BPOM menegaskan bahwa pelabelan Nutri-Level bukan bertujuan melarang masyarakat mengonsumsi produk tertentu, melainkan sebagai panduan untuk membantu konsumen membandingkan dan mengenali pilihan makanan yang lebih sehat."Dengan pelabelan Nutri-Level diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilih produk yang lebih sehat," ujarnya.Ia juga menambahkan bahwa kebijakan ini tidak dimaksudkan untuk membatasi pelaku usaha, melainkan justru membuka peluang bagi industri pangan untuk berinovasi menciptakan produk dengan kandungan GGL yang lebih rendah.Lihat Juga :Ini Cara Meningkatkan Penyerapan Zat Besi Lewat Makanan"Harapannya, kebijakan ini dapat dimanfaatkan pelaku usaha sebagai peluang bisnis, untuk menjadi pionir dalam menciptakan tren konsumsi pangan olahan yang lebih sehat," katanya.BPOM juga merencanakan penerapan Nutri-Level dilakukan secara bertahap, dimulai dari produk minuman. Pada tahap awal, kebijakan ini akan bersifat sukarela dengan masa transisi sebelum nantinya diberlakukan secara wajib. (nga/asr)
Add
as a preferred source on Google
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260407165757-255-1345229/ini-arti-level-a-d-pada-label-nutri-level-pada-produk-makanan
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
07 Apr 2026
Pilot Bikin Kapok Penumpang Egois yang Menyerobot ke Pintu Pesawat
07 Apr 2026
Ortu Perlu Tahu, Ini Beda Anak Aktif dan Hiperaktif
07 Apr 2026
Kapal Pesiar Khusus Dewasa, Temptation Cruises Sajikan Liburan Sensual
07 Apr 2026
FOTO: Tarian Geisha Menyambut Musim Semi di Jepang
07 Apr 2026
Pesona Wisata Kali Jodoh di Balik Mitos Wisatawan Jadi Enteng Jodoh
07 Apr 2026
Oatmeal vs Yogurt, Mana Menu Sarapan yang Lebih Sehat?