Menjaga Seni Tailoring di Tengah Gempuran Fast Fashion
Jakarta, Di tengah derasnya arus fast fashion dan dominasi pakaian siap pakai (ready-to-wear), keberadaan bespoke tailoring masih bertahan sebagai simbol kualitas, presisi, dan sen...
Nilai inilah yang membuat bespoke tailoring tetap memiliki tempat tersendiri di tengah industri fesyen modern yang serba cepat.Di Indonesia, salah satu rumah tailoring yang masih menjaga tradisi tersebut adalah Wong Hang. Berdiri sejak 1933, bisnis keluarga ini menjadi contoh bagaimana warisan craftsmanship dapat bertahan lebih dari sembilan dekade di tengah perubahan tren dan perilaku konsumen.Menurut Samuel Wongso, generasi keempat penerus Wong Hang, esensi seorang tailor bukan hanya membuat pakaian terlihat bagus, tetapi juga membantu seseorang tampil lebih proporsional dan percaya diri."Padahal ada sebuah art di balik bespoke tailoring itu. Tugas tailor itu apa?
Memperbaiki. Jadi kalau orang gemuk harus terlihat lebih ramping dan yang kurus harus terlihat lebih berisi. Itulah esensi sebuah tailor, yang hampir hilang dan sempat diremehkan," kata Samuel, mengutip Antara.Potret Samuel Wongso bersama kakak dan adiknya di Milan, Italia, usai menghadiri ajang fashion pria Pitti Uomo di Florence, Italia.
Samuel juga tampil dengan warna yang terinspirasi dari Pantone Color of The Year 2024. (ANTARA/HO- Dokumentasi pribadi)Pandangan tersebut lahir dari pengalaman panjang yang diwariskan turun-temurun dalam keluarga Wong Hang. Selama puluhan tahun, mereka mempertahankan filosofi bahwa pakaian bukan sekadar penampilan, tetapi bentuk pelayanan personal yang memahami karakter setiap pelanggan.Berawal dari Surabaya sebelum Indonesia merdekaPerjalanan Wong Hang dimulai ketika keluarga pendirinya datang dari Guangzhou, China, ke Indonesia pada 1933.
Saat itu, Surabaya menjadi salah satu pusat perdagangan penting yang dipenuhi masyarakat Eropa, Jepang, dan Tionghoa yang terbiasa mengenakan suit dalam keseharian.Melihat kebutuhan tersebut, keluarga Wong Hang mulai membangun bisnis tailoring dengan pendekatan yang sangat personal. Mereka tidak hanya membuat pakaian, tetapi juga memperhatikan kenyamanan, fungsi, dan proporsi tubuh pelanggan.Lihat Juga :"Puspa" Tandai 15 Tahun Desainer Ayu Dyah Andari BerkaryaNilai tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga Wong Hang mampu bertahan lebih dari 90 tahun dan kini hadir di 16 titik di berbagai kota besar.Samuel mengatakan, sejak kecil seluruh anggota keluarga sudah diperkenalkan pada dasar-dasar tailoring, mulai dari mengukur tubuh, membuat pola, menggunting kain, hingga memahami karakter bahan."Nenek saya selalu bilang, mau jadi apa pun boleh, tapi karena keluarga kami seorang tailor, minimal harus punya skill menjahit. Kata nenek, ke mana pun pergi, kalau punya meteran dan jarum, kita tetap bisa hidup," ujarnya.Baca kelanjutannya di sini..
Bertahan di tengah perubahan tren fesyenIndustri tailoring sempat mengalami perlambatan ketika tren fesyen bergeser ke gaya kasual dan oversized pada awal 2010-an. Saat itu, suit mulai dianggap terlalu formal dan identik dengan gaya lama.Namun Wong Hang memilih tetap mempertahankan identitasnya melalui potongan jas klasik bergaya Eropa dan Inggris yang dianggap lebih timeless. Menurut Samuel, tren dapat berubah dalam hitungan tahun, tetapi pakaian dengan potongan presisi akan selalu relevan.Karena itu, Wong Hang tidak hanya menjual pakaian, tetapi juga menekankan kualitas material dan teknik jahitan agar suit dapat digunakan dalam jangka panjang dan tetap bisa disesuaikan ketika bentuk tubuh pelanggan berubah.Lihat Juga :Apa Itu Smart Casual?
Ini Cara Padu PadannyaKomitmen tersebut diwujudkan melalui layanan lifetime guarantee untuk setiap suit yang dibuat. Pelanggan dapat melakukan penyesuaian ukuran secara gratis seumur hidup, baik ketika berat badan bertambah maupun berkurang.Menurut Samuel, penyesuaian tersebut bahkan bisa dilakukan hingga sekitar delapan sentimeter ke atas atau ke bawah tanpa merusak bentuk asli pakaian."Layanan tersebut sebetulnya tidak mudah diterapkan karena membutuhkan kualitas bahan, teknik tailoring, dan pola jahitan yang presisi agar pakaian tetap dapat disesuaikan tanpa merusak bentuk aslinya," kata Samuel.Pendekatan personal itu membuat Wong Hang tetap dipercaya berbagai kalangan, mulai dari profesional, pengusaha, pejabat, hingga figur publik.Pilihan RedaksiCoba-coba Pakai Kebaya dalam Sepekan, Ternyata Ini yang Terjadi'Personal Color Analysis' Berbasis AI, Kenapa Banyak Orang Tertarik?Tema Met Gala 2026, Saat Busana Jadi Karya SeniDi sisi lain, Wong Hang juga mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk lini bisnis pakaian jadi mereka, Wong Hang Bersaudara (WHB).Teknologi tersebut memungkinkan pemindaian ukuran tubuh pelanggan secara otomatis yang kemudian langsung terintegrasi ke sistem pembuatan pola. Namun, Samuel menegaskan sentuhan personal tetap menjadi inti layanan bespoke Wong Hang.Samuel menilai suit sempat mengalami masa ketika pakaian tersebut hanya dianggap cocok untuk pernikahan atau acara formal tertentu.
Karena itu, ia memilih membangun pengaruh melalui gaya berpakaian sehari-hari dengan tetap mengenakan suit atau blazer dalam berbagai kesempatan.Baginya, berpakaian rapi dan sesuai acara juga merupakan bentuk penghormatan kepada orang lain."Saya selalu pakai suit wherever I go, ke mana pun. Meeting juga pakai blazer. Waktu itu yang namanya tuxedo, itu belum common di Indonesia," katanya.Saat itu, mayoritas model suit yang populer masih bergaya Amerika dengan siluet longgar.
Wong Hang justru konsisten membawa pendekatan tailoring bergaya Eropa yang lebih presisi dan mengikuti bentuk tubuh.Meski sempat dianggap berbeda, pendekatan tersebut perlahan diterima dan memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap suit dan bespoke tailoring.Selain mempertahankan teknik craftsmanship, Wong Hang juga terus mengikuti perkembangan material kain premium dunia. Samuel menyebut Wong Hang menjadi official tailor di Indonesia untuk sejumlah merek kain internasional seperti Loro Piana, Ermenegildo Zegna, Cerruti, hingga Holland & Sherry.Menurutnya, perkembangan teknologi kain menjadi salah satu pembeda utama antara suit tailoring dan pakaian produksi massal."Dari Cerruti waktu itu pertama kali, dia mengel
uarkan suit yang waterproof. Jadi kain-kain yang seperti itu, itu adalah pembeda antara kita beli di mal dengan beli di tailor," ujar Samuel.
Menjaga Seni Tailoring di Tengah Gempuran Fast Fashion
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260515175452-277-1358931/menjaga-seni-tailoring-di-tengah-gempuran-fast-fashion
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
28 May 2026
Pesawat yang Akan Lakukan Penerbangan 22 Jam 'Delay' Hingga 2027
28 May 2026
4 Manfaat Minyak Zaitun untuk Wajah dan Tips Menggunakannya
28 May 2026
Daftar Tempat Wisata dan Atraksi Baru di Singapura Tahun 2026
28 May 2026
Mengenal Fictosexuality, Saat Hati Terpaut Tokoh Fiksi
28 May 2026
FOTO: Emma Stone hingga Zendaya Hadiri Louis Vuitton Cruise 2027
28 May 2026
FOTO: Mengintip Gaya Nyentrik Gen Z Berburu Tren Fashion di Blok M