Wisata Astronomi Jadi Tren Liburan Utama Global di 2026
Jakarta, Tren perjalanan global bergeser secara signifikan pada 2026, ditandai dengan lonjakan popularitas astrotourism atau wisata astronomi. Aktivitas yang dulu dianggap hobi kel...
Di Eropa, hanya sekitar 15 persen warga yang bisa melihat galaksi Bima Sakti dari rumah mereka, sementara di Amerika Serikat angkanya berkisar di 20 persen.Sehingga, alih-alih memadati pantai atau museum di kota besar, pelancong modern kini berbondong-bondong memburu kawasan dengan langit tergelap di berbagai penjuru bumi demi menyaksikan keindahan bintang-bintang. Destinasi wisata astronomi tersebar dari kawasan gurun, seperti Chile hingga perkampungan terpencil di Afrika. Kawasan tersebut wajib memenuhi dua syarat mutlak, yakni langit yang cerah dan tingkat polusi cahaya yang sangat rendah. Karakteristik ini biasanya ditemukan pada wilayah dengan dataran tinggi atau beriklim kering guna memastikan pandangan ke angkasa tidak terganggu.Gurun Atacama di Cile menjadi salah satu lokasi terbaik dunia karena kombinasi ketinggian dan kelembapan yang minim, bersanding dengan Gurun Namib di Namibia dan Wadi Rum di Yordania yang kini mulai dipadati penginapan mewah.Pilihan RedaksiMeneropong Sejarah Planetarium Jakarta yang Baru Bangun dari Mati SuriCara Pesan Tiket Planetarium Jakarta, Pelajar Bisa Masuk Gratis!Selain gurun, gunung berapi mati, seperti Mauna Kea di Hawaii, serta pulau-pulau kecil berpenduduk jarang juga menjadi incaran.Maladewa dan Cagar Langit Gelap Aoraki Mackenzie di Selandia Baru bahkan telah menjadi standar emas industri ini.Wilayah Selandia Baru tersebut telah menerapkan pembatasan lampu yang ketat sejak dekade 1980-an, menjadikannya situs krusial bagi wisatawan, ilmuwan, hingga suku lokal Maori.Bahkan di negara padat polusi cahaya seperti Inggris dan Amerika Serikat, kawasan lindung seperti Brecon Beacons dan taman nasional di Utah tetap mampu menarik minat pencinta langit malam.Nilai pasar wisata ini tercatat menembus angka US$1 miliar pada 2025 dan diproyeksikan melonjak hingga tiga kali lipat dalam tujuh tahun ke depan.Maraknya wisata ini juga berkelindan dengan tren pemulihan kesehatan mental serta detoks digital dari hiruk-pikuk gawai. Ironisnya, platform visual seperti Instagram justru menjadi motor utama yang mempopulerkan keindahan astrofotografi ke masyarakat luas.Lihat Juga :Negara Paling Menyebalkan Versi Pelancong yang Sudah Keliling DuniaBerpijak pada pariwisata berbasis pengalaman, kesempatan menyaksikan gerhana matahari atau gugusan bintang telah bergeser menjadi pencapaian hidup yang prestisius bagi banyak orang.Fenomena tersebut sekaligus menjadi refleksi kerinduan manusia modern untuk terhubung kembali dengan alam murni seperti yang disaksikan oleh para leluhur.Namun, popularitas wisata yang meroket ini membawa ancaman tersendiri. Lonjakan jumlah turis berisiko memicu pembangunan infrastruktur baru yang justru berpotensi merusak kegelapan langit malam di lokasi-lokasi terpencil tersebut.Guna menjaga keseimbangan yang sensitif ini, sejumlah otoritas wisata di berbagai negara mulai menerapkan regulasi ketat dan membatasi kuota kunjungan harian.Pada akhirnya, meski astrotourism lahir sebagai respons atas kerusakan langit perkotaan, tren ini diharapkan mampu menjadi benteng terakhir untuk menyelamatkan tempat-tempat tersisa yang masih memiliki langit malam yang sempurna. (chri)
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260527143446-269-1362856/bukan-ke-pantai-turis-kini-berburu-langit-gelap
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
27 May 2026
FOTO: Tinggalkan Plastik, Distribusi Kurban Beralih ke Wadah Alami
27 May 2026
Ternyata Ini Alasan Mengapa Nafsu Makan Jadi Hilang saat Sakit
27 May 2026
Cara Aman Mengusir dan Hancurkan Sarang Tawon Vespa
27 May 2026
Daging Kurban Ternyata Tak Cocok Langsung Disate, Ini Alasannya
27 May 2026
Studi Temukan Pola Asuh Keras Bisa Pengaruhi Otak Anak
27 May 2026
Waspadai Ciri-ciri Hamil di Luar Kandungan Sejak Dini