Internasional 29 Dec 2025 3 views

Kisah Biara Santo Hilarion dari Gaza yang Diratakan Israel

Judul: Kisah Biara Santo Hilarion dari Gaza yang Diratakan Israel Jakarta, Biara Santo Hilarion yang terletak di daerah bernama Tell Umm Amer di desa Nuseirat, Gaza, Palestina, ha

Kisah Biara Santo Hilarion dari Gaza yang Diratakan Israel
Judul: Kisah Biara Santo Hilarion dari Gaza yang Diratakan Israel

Jakarta, Biara Santo Hilarion yang terletak di daerah bernama Tell Umm Amer di desa Nuseirat, Gaza, Palestina, hanya tersisa fondasinya saja.
Tapi keindahan bangunannya masih terlihat dari lantai keramik bermotifkan mosaik geometris, bunga, dan hewan yang rumit, serta menampilkan kombinasi elemen alami dan arsitektur yang berasal dari abad keempat hingga kedelapan.
Lihat Juga :
Kepincut Saudi, Trump Mau Tinjau Ulang Kerja Sama Militer AS-Israel

Dari sisi bangunan masih bisa terlihat sisa pusat gerejawi yang terdiri dari tiga gereja, ruang bawah tanah yang besar, dan ruang makan; serta kompleks penginapan dengan pemandian air panas yang berdekatan.
Awalnya biara ini dibangun gurun yang sepi, tapi menjadi tempat persinggahan berbagai praktik keagamaan dan budaya di masa lalu.
Biara ini merupakan salah satu situs Kristen tertua di wilayah Asia Barat Daya dan Afrika Utara, didirikan pada abad keempat oleh Santo Hilarion, seorang biarawan yang dianggap sebagai pendiri monastisisme Palestina - sebuah gerakan Kristen yang melibatkan pembangunan biara-biara di seluruh Palestina selama periode Bizantium (330-1453 M).
Dan kini kawasan itu, Nuseirat, menjadi salah satu kamp pengungsi warga Palestina korban kekejaman tentara Israel. Invasi Israel ke Gaza dalam dua tahun terakhir memang telah menghancurkan, bukan saja warga Gaza, tapi juga hampir seluruh bangunan dan artefak budaya di sana. Biara Santo Hilarion salah satunya.
Laporan Al Jazeera menyebutkan selain meningkatnya jumlah korban jiwa, pemboman Israel telah menghancurkan puluhan situs warisan budaya dan barang antik Palestina di Gaza.
Serangan itu dikecam oleh kelompok hak asasi manusia internasional. Komite Antar Pemerintah untuk Perlindungan Properti Budaya dalam Kasus Konflik Bersenjata memberikan perlindungan tambahan sementara kepada situs biara tersebut setelah adanya laporan bahwa situs tersebut telah rusak akibat konflik.
Pada bulan Januari 2024, 92 hari setelah dimulainya agresi Israel yang berkelanjutan, Kelompok Regional Arab di Dewan Internasional untuk Monumen dan Situs menyatakan bahwa lebih dari 60% situs warisan budaya terdaftar di Gaza telah hancur akibat pemboman Israel.
"Kejahatan menargetkan dan menghancurkan situs arkeologi seharusnya mendorong dunia dan UNESCO untuk bertindak guna melestarikan warisan peradaban dan budaya yang agung ini," kata Kementerian Pariwisata dan Purbakala Gaza, setelah serangan udara Israel pada 8 Desember 2023.
Afrika Selatan bahkan membawa Israel ke Mahkamah Internasional dengan kejahatan yang sama.
Lihat Juga :
Israel Bunuh Pejabat Keuangan Hamas di Gaza
Dalam dalam gugatan yang disidangkan, Afrika Selatan menyatakan, "Israel telah merusak dan menghancurkan banyak pusat pembelajaran dan budaya Palestina", termasuk perpustakaan, situs keagamaan, dan tempat-tempat bersejarah kuno."
Situs bersejarah biara Santo Hilarion sebelumnya terkubur selama beberapa abad setelah gempa melanda kawasan itu pada abad ke-7. Para arkeolog Palestina kemudian memulai penggalian pada tahun 1990-an.
Pada tahun 2010, tindakan perlindungan darurat dimulai oleh tiga kelompok di Gaza untuk melindunginya dari hujan lebat yang mengancam akan menghancurkan mosaik dan sisa-sisa arkeologisnya. Pada tahun 2012, organisasi advokasi warisan budaya World Monuments Fund memasukkan biara tersebut dalam daftar dua tahunan situs warisan global yang membutuhkan perlindungan.
Lihat Juga :
Ledakan Bom di Moskow Rusia Jelang Natal, Dua Polisi Tewas
Komite Warisan Dunia UNESCO, yang mengadakan pertemuan di New Delhi, India, pada 2023, telah memutuskan untuk memasukkan situs 'Biara Santo Hilarion/Tell Umm Amer' di Palestina secara bersamaan ke dalam Daftar Warisan Dunia dan Daftar Warisan Dunia yang Terancam Punah. Keputusan ini mengakui nilai situs tersebut dan kebutuhan untuk melindunginya dari bahaya.
Mengingat ancaman terhadap situs warisan budaya ini yang ditimbulkan oleh konflik yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, Komite Warisan Dunia menggunakan prosedur pendaftaran darurat yang diatur dalam Konvensi Warisan Dunia.
Sesuai dengan ketentuan Konvensi, 195 Negara Pihak berkomitmen untuk menghindari tindakan yang disengaja yang kemungkinan akan menyebabkan kerusakan langsung atau tidak langsung pada situs ini, yang sekarang terdaftar dalam Daftar Warisan Dunia, dan untuk membantu dalam perlindungannya.
Pencantuman dalam Daftar Warisan Dunia yang Terancam Punah secara otomatis membuka pintu bagi peningkatan mekanisme bantuan teknis dan keuangan internasional untuk menjamin perlindungan situs tersebut dan, jika perlu, membantu memfasilitasi rehabilitasinya.
Santo Hilarion adalah sang pertapa dari Gaza. Tradisi gereja ortodok menyebutnya Hilarion Agung. Britannica menulis, sebagian besar pengetahuan tentang Hilarion berasal dari kisah hidupnya yang semi-legendaris dan dihiasi secara retoris, yang ditulis sekitar tahun 391 oleh seorang sarjana Alkitab Latin Santo Hieronimus. Ia menggunakan materi dari Uskup Epifanius dari Constantia (sekarang Siprus), seorang teolog-kronikus berpengaruh abad ke-4.
Namun dalam catatan Britannica, sebagian sejarah hidup Hilarion dilebih-lebihkan untuk memuliakan monastisisme Palestina. Oleh karena itu, meskipun memiliki inti sejarah, seringkali sulit untuk menentukan fakta-faktanya.
Hilarion lahir pada tahun 291 di Desa Thabata, Gaza, dan bukan dari keluarga Kristen. Bahkan disebutkan saat remaja dia bukan seorang yang percaya Tuhan. Namun saat memutuskan pergi ke Mesir untuk sekolah, disana ia belajar iman Kristiani dan diusia 15 tahun, pada pada seorang rahib Antonius. Dia pun dibaptis. Pertobatannya membawanya untuk semakin akrab dengan Tuhan.
Setelah perkenalannya dengan Antonius itulah Hilarion pun memutuskan untuk menjadi seorang pertapa di sebuah gurun sunyi. Mulanya dia hanya membuat gubuk sederhana di sana hingga akhirnya menjadi bangunan permanen setelah banyak didatangi para peziarah.
Hilarion kembali ke Gaza pada usia 15 di tahun 306 Masehi. Ia menjalankan aturan pertapaan yang ketat berupa puasa dan melantunkan doa-doa mazmur Perjanjian Lama, dan, seperti para pertapa Mesir, ia menganyam keranjang dari alang-alang untuk mencari nafkah, hanya memiliki pakaian biarawan, yang ia wariskan kepada seorang rekannya setelah kematiannya.
Catatan menyebutkan dia sangat pandai dalam menyembuhkan orang sakit dan kerasukan setan. Kisah mujizat-mujizatnya semakin tersebar yang mengundang orang-orang untuk mendatanginya.
Mujizat-mujizatnya yang terkenal antara lain, menyembuhkan seorang wanita dari Suriah yang telah mandul selama 15 tahun, menyembuhkan 3 orang anak dari sakit parah, menyembuhkan kusir yang lumpuh dan mengusir setan.
Setelah mendirikan biara di Gaza, pada usia ke 65 tahun, Hilarion kembali berkelana mencari kedamaian dan ketenangan. Ia bermigrasi ke pusat biara di Thebes, Mesir, kemudian melalui Afrika Utara dan Sisilia, dan akhirnya menetap di Siprus.
Di Siprus pula dia bertemu dengan muridnya yang di kemudian hari menjadi Uskup Siprus, yaitu Epifanius. Seperti sang guru, Efipanus dibaptis dan menjadi murid Santo Hilarion lalu setelah memasuki biara, ia menjalani kehidupan monastik dan ia menyibukkan diri dengan menyalin buku-buku Yunani.
Karena perjuangan asketis dan kebajikannya, Santo Epifanius dianugerahi karunia melakukan mukjizat. Untuk menghindari kemuliaan duniawi, ia meninggalkan biara dan pergi ke gurun Spanidrion, seperti dikutip dari situs Orthodox Church in America.
Hilarion meninggal di Siprus dalam usia 80 tahun pada sekitar 371 Masehi.
Sang Pertapa dari Gaza

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20251224200811-120-1310481/kisah-biara-santo-hilarion-dari-gaza-yang-diratakan-israel
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.