Momen-momen Simbolis di Pelantikan Zohran Mamdani, Apa Artinya?
Zohran Mamdani resmi dilantik sebagai Wali Kota New York City pada Kamis (1/1). Proses pelantikan Mamdani dipenuhi dengan simbolisme, mulai dari pemilihan lokasi hingga Al-Qur'an y...
**Pelantikan Tengah Malam di Stasiun Balai Kota Tua**
Mamdani memilih untuk dilantik pertama kali pada tengah malam di malam Tahun Baru, bertempat di Stasiun Balai Kota Tua yang sudah tidak terpakai. Upacara kedua akan diadakan di Balai Kota pada siang harinya.
Pemilihan waktu dan lokasi ini mencerminkan visi Mamdani untuk New York. Dalam pidatonya, ia menyebut lokasi ini sebagai simbol "pelantikan era baru". Di media sosial X, Mamdani juga berulang kali menggunakan frasa "A New Era" saat memperkenalkan pejabat yang akan membantunya di pemerintahan New York, seperti Kamar Samuels sebagai konselor pendidikan, Ahmed Tigani sebagai Komisaris gedung departemen, dan Louise Yeung sebagai Kepala Petugas Isu Iklim.
Mamdani juga menyatakan bahwa Stasiun Balai Kota adalah simbol kelas pekerja dan pembangunan. Ia menyebutnya sebagai "monumen fisik bagi sebuah kota yang berani menjadi indah sekaligus membangun hal-hal besar yang akan mengubah kehidupan kaum pekerja." Mamdani menegaskan bahwa ambisi tersebut tidak boleh hanya menjadi kenangan masa lalu, melainkan tujuan pemerintahan yang melayani warga New York.
Jaksa Agung New York, Letitia James, yang memimpin pengambilan sumpah jabatan Mamdani, juga menganggap pemilihan lokasi ini sangat tepat. Ia menyoroti bagaimana sistem transportasi umum menjadi bagian integral dari kehidupan warga New York, menyatukan mereka dalam perjalanan menuju berbagai tempat.
**Tiga Al-Qur'an Penuh Makna Simbolis**
Sebagai seorang Muslim, Mamdani meletakkan tangannya di atas Al-Qur'an saat disumpah. Dalam upacara pelantikan di stasiun kereta bawah tanah, ia menggunakan dua Al-Qur'an: milik kakeknya dan sebuah Al-Qur'an berukuran kecil dari abad ke-18 atau 19.
Pada upacara di Balai Kota yang dipimpin oleh Senator Vermont Bernie Sanders, Mamdani kembali disumpah dengan meletakkan tangan di atas Al-Qur'an milik kakek-neneknya. Total, Mamdani menggunakan tiga Al-Qur'an dalam dua upacara tersebut: dua dari kakek-neneknya dan satu dari Perpustakaan Umum New York.
Kakek dan nenek Mamdani berasal dari Tanzania, bagian dari komunitas Muslim Gujarat yang menetap di sepanjang pantai Swahili selama pemerintahan kolonial Inggris.
Al-Qur'an berukuran kecil dari Perpustakaan Umum New York memiliki sejarahnya sendiri. Berasal dari akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19, Al-Qur'an ini merupakan bagian dari koleksi Penelitian Budaya Kulit Hitam Schomburg. Meskipun tidak jelas bagaimana sejarawan kulit hitam Puerto Rico, Arturo Schomburg, memperolehnya, para cendekiawan meyakini bahwa Al-Qur'an ini mencerminkan minat Schomburg terhadap hubungan historis Islam dengan budaya kulit hitam di Amerika Serikat dan Afrika.
Mamdani sendiri lahir di Uganda, dan ayahnya, Mahmood Mamdani, adalah seorang antropolog keturunan Uganda-India.
Hiba Abid, Kurator Studi Timur Tengah dan Islam di Perpustakaan Umum New York, menjelaskan bahwa Al-Qur'an saku ini melambangkan keragaman dan jangkauan umat Muslim di New York. Ia menyatakan, "Ini adalah Al-Qur'an kecil, tetapi menyatukan unsur-unsur iman dan identitas dalam sejarah Kota New York."
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260101161743-134-1312631/momen-momen-simbolis-di-pelantikan-zohran-mamdani-apa-artinya
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
13 Feb 2026
Madagaskar Porak-poranda Diterjang Badai Siklon Gezani, 36 Orang Tewas
13 Feb 2026
Dua Bayi Ditemukan Tewas Mengenaskan di Freezer, Ibu Ditangkap
13 Feb 2026
Makin Tegang, Jepang Sita Kapal Ikan China kala Beijing Boikot Tokyo
13 Feb 2026
Gedung Putih Disebut Pecat Staf Komisi Agama Gegara Tolak Zionisme
13 Feb 2026
Pengadilan Batalkan Putusan Inggris yang Cap Palestine Action Teroris
13 Feb 2026
Apa Itu Senjata Termal Israel yang Buat Warga Gaza Lenyap 'Menguap'?