Internasional 04 Jan 2026 5 views

Kronologi Agresi AS dan Penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro

Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer dan menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari kediamannya di Caracas. Peristiwa ini menandai puncak agresi Presiden AS Donal...

Kronologi Agresi AS dan Penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer dan menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari kediamannya di Caracas. Peristiwa ini menandai puncak agresi Presiden AS Donald Trump terhadap Venezuela sejak masa jabatan pertamanya. Penangkapan Maduro menambah daftar panjang pemimpin negara yang ditangkap paksa oleh AS, termasuk Manuel Noriega dari Panama, Saddam Hussein dari Irak, dan Juan Orlando Hernandez dari Honduras.

**Kronologi Penculikan**

Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diseret keluar dari kamar tidur mereka oleh pasukan AS pada tengah malam saat mereka sedang tidur. Penangkapan dan penggerebekan ini dilakukan oleh Delta Force, satuan elite Angkatan Darat AS.

Menurut Trump, Maduro ditangkap di sebuah rumah yang ia sebut mirip benteng. Rencana awalnya adalah menangkap Maduro pada awal pekan itu, tetapi pasukan AS harus menunggu kondisi cuaca yang tepat. Dalam wawancara dengan "Fox & Friends Weekend", Trump menjelaskan bahwa Maduro berada di rumah yang "sangat dijaga ketat" saat hendak ditangkap.

Maduro dan istrinya kemudian dibawa dengan helikopter ke USS Iwo Jima, lalu diterbangkan ke New York. Dari pangkalan udara nasional Stewart, ia dibawa ke Manhattan dengan helikopter, dan selanjutnya diangkut menggunakan kendaraan khusus ke pusat tahanan Brooklyn, New York. Maduro akan menghadapi dakwaan narkoterorisme di pengadilan federal AS di Manhattan.

**Awal Mula Ketegangan**

Pada tahun 2018, di masa jabatan pertama Trump, muncul laporan bahwa ia mempertimbangkan untuk menyerang Venezuela. Laporan ini memicu kewaspadaan Maduro, yang kemudian memerintahkan angkatan bersenjata untuk siaga. Beberapa media AS melaporkan bahwa Trump sempat menanyakan kemungkinan invasi Venezuela kepada sejumlah penasihat kebijakan luar negeri Gedung Putih pada Agustus.

Maduro menganggap berita-berita ini mendukung asumsinya bahwa AS merencanakan serangan militer untuk menguasai cadangan minyak negaranya yang besar. Ia juga menuding gagasan Trump muncul tak lama setelah sejumlah tokoh oposisi Venezuela mengunjungi Gedung Putih. Trump disebut mengajukan gagasan invasi saat rapat dengan sejumlah pejabat untuk membahas sanksi AS terhadap Venezuela.

Trump mempertimbangkan hal ini demi menggulingkan Maduro yang ia anggap sebagai pemimpin diktator sayap kiri yang korup, di tengah krisis ekonomi dan politik Venezuela. Namun, para penasihat Trump menolak gagasan tersebut, menganggap aksi militer akan memicu eskalasi konflik dan membahayakan kepentingan AS di Amerika Latin.

Trump tidak pernah mengakui kemenangan Maduro sejak terpilih sebagai Presiden Venezuela pada pemilihan umum (pemilu) 2018. Ketika kembali menjabat pada 2024, pemerintahannya juga tidak mengakui kemenangan Maduro dalam pemilu Venezuela tahun lalu, menuduh pemilu tersebut penuh kecurangan.

**Eskalasi Ketegangan**

Ketegangan antara Trump dan Maduro kembali memuncak pada tahun 2025. Pada Agustus, Trump bahkan mengerahkan tiga kapal perang AS ke pantai Venezuela. Kemudian, pada September, Washington mengerahkan lima jet tempur siluman F-35 ke Puerto Rico, sekutu AS yang bertetangga dengan Venezuela. Selain F-35, sejumlah helikopter dan Osprey milik AS juga terlihat di pangkalan udara Ceiba, Puerto Rico.

Di bulan yang sama, militer AS melancarkan serangan dan penyergapan terhadap kapal berbendera Venezuela, menewaskan 11 orang. Washington mengklaim serangan itu sebagai bagian dari operasi perang melawan kartel narkoba. Venezuela membantah, menyatakan tidak satu pun dari 11 orang yang tewas tersebut merupakan bagian dari kartel narkoba.

Trump bahkan menawarkan hadiah sebesar US$50 juta (sekitar Rp814 miliar) bagi siapa saja yang bisa menangkap Maduro, yang ia anggap sebagai dalang jaringan narkoba di Venezuela.

**Narkoba sebagai Alasan**

Maduro dituduh memimpin jaringan narkoba melalui "Cartel de los Soles" atau Cartel of the Suns, yang ditetapkan Kementerian Keuangan AS sebagai organisasi teroris khusus pada Juli lalu. Penetapan ini dilakukan karena kartel tersebut diyakini mendukung kartel narkoba Tren de Aragua dan Sinaloa, yang lebih dulu ditetapkan sebagai organisasi teroris asing pada awal tahun ini.

Namun, operasi pemberantasan narkoba tampaknya hanya menjadi kedok. Akhir Agustus lalu, tersiar kabar bahwa Trump sedang berusaha menggulingkan rezim Maduro setelah berbicara dengan beberapa pejabat pemerintah AS. Laporan CNN pada Jumat (5/9) juga mewartakan hal serupa. Sejumlah pejabat Gedung Putih mengakui bahwa Trump sedang menyusun strategi menggulingkan Maduro melalui operasi anti-narkoba.

Beberapa pihak mengaitkan sikap Trump terhadap Maduro dengan dugaan bahwa ia ingin menegaskan dominasi AS di Amerika Latin, khususnya untuk menangkal pengaruh Rusia dan China yang mendukung Maduro. Sementara itu, sejumlah pihak, termasuk para pemimpin dari Kolombia hingga Kuba, menilai penggulingan rezim Maduro dilakukan demi AS bisa menguasai minyak dan gas Venezuela.

**Cadangan Minyak Venezuela**

Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, mengalahkan negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Iran. Menurut data Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, Venezuela, salah satu pendiri OPEC, memiliki cadangan minyak terbesar di dunia sebesar 303 miliar barel atau 17 persen dari cadangan global.

**Nasib Pemerintahan Venezuela**

Berdasarkan konstitusi Venezuela 1999, wakil presiden, Delcy Rodríguez, akan mengambil alih kendali eksekutif pemerintahan. Saudaranya, Jorge Rodríguez, yang menjabat presiden badan legislatif National Assembly (Majelis Nasional), berada di urutan ketiga suksesi. Selain itu, Diosdado Cabello, tokoh paling berpengaruh kedua Venezuela, saat ini masih menjabat Menteri Dalam Negeri dan memimpin lembaga sipil-militer yang pro-pemerintah.

Trump sendiri telah menyatakan niatnya untuk ikut campur dalam pemerintahan Venezuela. Ketika ditanya tentang masa depan Venezuela tanpa Maduro, Trump mengatakan pihaknya sedang mengambil keputusan. "Kami tidak bisa mengambil risiko membiarkan orang lain mengambil alih dan melanjutkan apa yang dia tinggalkan. Jadi kami sedang mengambil keputusan itu sekarang," kata Trump dalam wawancara bersama Fox.

"Kami akan sangat terlibat dalam hal ini, dan kami ingin memberikan kebebasan bagi rakyat. Kami ingin, Anda tahu, memiliki hubungan yang baik. Saya pikir rakyat Venezuela sangat, sangat bahagia karena mereka mencintai Amerika Serikat. Anda tahu, mereka telah dipimpin oleh sebuah diktator atau bahkan lebih buruk," tambahnya.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260104150002-134-1313403/kronologi-agresi-as-dan-penculikan-presiden-venezuela-nicolas-maduro
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.