AS Agresi Venezuela, Apa yang Harus Dilakukan RI hingga Dunia?
Judul: AS Agresi Venezuela, Apa yang Harus Dilakukan RI hingga Dunia? Jakarta, Amerika Serikat di bawah pimpinan Donald Trump meluncurkan agresi ke Ibu Kota Venezuela, Caracas, da
Jakarta, Amerika Serikat di bawah pimpinan Donald Trump meluncurkan agresi ke Ibu Kota Venezuela, Caracas, dan menangkap Presiden Nicolas Maduro pada akhir pekan lalu.Serangan udara AS di Caracas menyebabkan 80 orang tewas dan korban kemungkinan akan terus bertambah. Gempuran itu juga membuat sejumlah fasilitas sipil hancur.Dunia bersikap beragam. Ada negara yang mengecam keras seperti Malaysia dan Norwegia, ada pula negara yang cuma meminta semua pihak menahan diri seperti Indonesia.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Menteri Luar Negeri Norwegia menyatakan dengan tegas penangkapan serta operasi AS di Venezuela melanggar hukum internasional.Lihat Juga :Dibidik Trump, Presiden Kolombia Petro Siagakan PasukanPara pakar meyakini dunia harus bertindak lebih jauh untuk memastikan kejadian semacam itu tak berulang.Lalu, apa yang perlu dilakukan dunia termasuk Indonesia terkait agresi Amerika Serikat di Venezuela?Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia Sya'roni Rofii mengatakan negara-negara di dunia termasuk Indonesia perlu membawa isu tersebut ke dalam forum Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)."Untuk memastikan bahwa tindakan sewenang-wenang negara besar terhadap negara berdaulat dihormati. Sebab jika dibiarkan, maka kedepan negara-negara kecil akan menjadi sasaran hegemoni dan dominasi negara besar," kata Sya'roni saat dihubungi .com, Senin (5/1).
Lebih lanjut, Sya'roni mengatakan tindakan unilateral AS memasuki wilayah Venezuela bertentangan dengan hukum internasional dan konsensus PBB, dalam hal ini Piagam PBB.Dalam pasal 2 Piagam PBB tertera bahwa setiap negara harus menahan diri menggunakan kekuatan militer untuk melawan negara lain dan menghargai kedaulatan mereka.AS juga tak mengantongi mandat DK PBB untuk meluncurkan operasi di Venezuela.Lihat Juga :Trump Sinyal Presiden Negara Ini Target AS Selanjutnya usai MaduroPresiden Majelis Umum PBB Annalena Baerbock mengatakan Piagam PBB harus menjadi kerangka panduan di hari mendatang bagi para negara anggotanya."Dunia yang damai, aman, dan adil bagi semua orang hanya mungkin tercipta ditegakkan, bukan jika kekuasaan yang menentukan kebenaran," kata Baerbock, dikutip situs resmi PBB.Tak lama setelah gempuran AS di Caracas, Kolombia dan Venezuela meminta DK PBB untuk menggelar rapat darurat. Pertemuan akan digelar pada Senin pukul 10.00 waktu setempat atau pukul 22.00 WIB.Di kesempatan ini, Sya'roni memandang AS tak perlu cawe-cawe urusan politik dalam negeri negara lain."Sebab Presiden Maduro merupakan pemimpin legitimate (sah) di negaranya. Urusan domestik menjadi wewenang rakyat Venezuela untuk memutuskan," ucap dia.Sejak di periode pertama pemerintahan Trump, AS enggan mengakui kepemimpinan Maduro di Venezuela karena dianggap mencurangi pemilu dan tak demokratis.Selama memimpin, Maduro juga dianggap otoriter dan menyingkirkan oposisi dengan cara apapun.Lihat Juga :Wapres Venezuela Ajak AS Kerja Sama usai Maduro Dibui TrumpAsisten Profesor Hubungan Internasional dari University of Manchester Inggris, Yusra Suedi juga mencatat hukum internasional secara tegas melarang campur tangan urusan negara lain."Apakah Maduro tak populer, menindas, atau tidak sah, bukan berarti negara lain berhak memaksakan perubahan rezim dengan kekerasan," kata Yusra dalam tulisan yang dirilis di situs pribadi Simplified Approach to International Law (SAIL)..com sudah menghubungi dan mendapat izin untuk mengutip tulisan Yusra di platformnya.Yusra turut menggarisbawahi tindakan yang harus dilakukan negara-negara lain. Menurut dia komunitas internasional perlu dengan sangat jelas mengecam langkah Amerika Serikat.Dia lalu mencontohkan pernyataan samar soal keprihatinan atau dukungan dari Ketua Komisi Uni Eropa Ursula Von der Leyen dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.Pernyataan kedua orang itu terkesan menyalahkan kepemimpinan Maduro dan tak mengecam apapun soal agresi AS di Venezuela. Menurut Yusra pernyataan itu tidak cukup.Lihat Juga :Demokrat AS: Minyak Alasan Penangkapan Maduro, Bukan Narkoba"Jika kita menerima dunia tanpa menghormati hukum internasional dan di mana kekuatan lah menentukan kebenaran, ini tak akan berhenti di sini," ucap Yusra.Dia lalu berkata, "Rusia akan melakukan hal yang sama dengan Ukraina, China dengan Taiwan, dan AS di Greenland dan sekitarnya."Trump belum lama ini juga memberi sinyal AS akan melakukan hal yang sama seperti Venezuela ke Kuba dan Kolombia.Terkait konflik di Venezuela, Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) merilis pernyataan dua kali.Pernyataan pertama disampaikan pada Sabtu. Isinya memantau perkembangan di Venezuela dan memantau warga negara Indonesia di sana. Mereka juga meminta semua pihak menahan diri, tanpa menyebut negara Amerika Serikat."Indonesia juga menyerukan kepada seluruh pihak terkait untuk mengedepankan penyelesaian secara damai melalui langkah-langkah deeskalasi dan dialog, serta tetap mengutamakan perlindungan terhadap warga sipil," demikian pernyataan Kemlu.Keesokan harinya, Kemlu kembali mengeluarkan pernyataan resmi. Indonesia, lanjut mereka, terus mencermati dengan seksama perkembangan yang terjadi di Venezuela.Lihat Juga :Tembakan Pecah di Istana Presiden usai Pelantikan Pengganti Maduro"Indonesia menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas setiap tindakan yang melibatkan penggunaan atau ancaman kekuatan," lanjut Kemlu. Dalam pernyataan ini juga tak menyebut Amerika Serikat.Mantan wakil menteri luar negeri Indonesia Dino Patti Djalal mengaku heran membaca pernyataan resmi Kemlu yang dianggap sangat standar dan sama sekali tak menyebut Amerika Serikat."Sejak kapan kita sungkan/takut mengkritik kawan yang lakukan pelanggaran hukum internasional?" kata Dino dalam unggahan di X pada Minggu..com sudah menghubungi dan mendapat izin dari Dino untuk mengutip unggahan tersebut.Dino lalu menyoroti Menteri Luar Negeri RI Sugiono yang belum memberi pernyataan terkait Venezuela. Menurut dia, saat ini momen tepat bagi RI menunjukkan sikap sebagai salah satu pemain Global South."Ini momen, Indonesia perlu percaya diri menunjukkan sikap, sama ketika kita dulu menentang invasi AS terhadap Irak. Bebas aktif itu artinya BERANI berpendirian," ungkap dia.Dino juga menekankan bermitra dengan Amerika Serikat atau negara manapun, tak boleh membuat Indonesia jadi negara penurut yang mengorbankan hal-hal prinsipil.Sementara itu, Sya'roni punya penilaian berbeda. Ia memandang pernyataan tersebut sebagai upaya Indonesia menjaga hubungan dengan Amerika Serikat di tengah situasi ekonomi dunia saat ini.Dia lalu mengatakan bahwa menyinggung negara besar tidak mudah untuk dilakukan apalagi jika ada irisan kerjasama ekonomi yang berlaku"Posisi Indonesia cenderung normatif karena faktor hubungan ekonomi dengan AS-negosiasi tarif," ujar dia.
Bagaimana dengan Indonesia?
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260105200403-134-1313842/as-agresi-venezuela-apa-yang-harus-dilakukan-ri-hingga-dunia
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
14 Feb 2026
Trump Kirim Kapal Induk Terbesar di Dunia ke Iran
14 Feb 2026
Bukti Israel Pakai Senjata Pemusnah Buat Warga Gaza Lenyap Menguap
14 Feb 2026
Bakal Dijadikan Penerus, Bisakah Putri Kim Jong Un Pimpin Korut?
14 Feb 2026
FOTO: Sosok Mantan Pacar Epstein yang Minta Ampunan Trump
13 Feb 2026
Madagaskar Porak-poranda Diterjang Badai Siklon Gezani, 36 Orang Tewas
13 Feb 2026
Dua Bayi Ditemukan Tewas Mengenaskan di Freezer, Ibu Ditangkap