3 Tanda Rezim Khamenei di Iran Bisa Makin Melemah
Judul: 3 Tanda Rezim Khamenei di Iran Bisa Makin Melemah Jakarta, Iran menjadi sorotan karena demonstrasi besar-besaran yang mengguncang negara itu hingga kini telah menewaskan 64...
Jakarta, Iran menjadi sorotan karena demonstrasi besar-besaran yang mengguncang negara itu hingga kini telah menewaskan 646 orang. Amerika Serikat dan sekutunya mewanti-wanti pemerintahan bisa tumbang jika terus menanggapi pedemo dengan kekerasan.AS juga menunjukkan sinyal bakal menyerang Iran dengan klaim mendukung kebebasan rakyat. Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menilai pemerintahan Donald Trump punya motif lain: mengincar minyak.Lihat Juga :Rezim Khamenei Iran Musuh Terkuat Israel, Akankah Mudah Ditumbangkan?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khamenei juga menduga kerusuhan yang terjadi di Iran belakangan ini ada campur tangan AS."Mereka memulai konflik ini. AS yang memulainya, musuh yang bergantung pada AS yang memulai ini. Mengapa mereka memulai ini? Mengapa AS begitu muak dan marah terhadap Iran? Alasannya jelas. Itu karena kekayaan negara ini," ucap Khamenei.Iran pernah punya riwayat diguncang demo besar hingga pergantian pemerintahan. Namun, perubahan itu juga tak lepas dari campur tangan asing.Dalam demo kali ini dan 2022 lalu, Iran kembali diguncang unjuk rasa besar-besaran setelah Mahsa Amini tewas. Warga saat itu menuntut keadilan dan transparansi. Namun, pasukan keamanan menindak pendemo dengan kekerasan.Demo kali ini pun menggambarkan pola yang sama: protes massal, penindasan, dan seruan perubahan pemerintahan. Namun, pergantian rezim tak bisa terjadi begitu saja.Meski tak langsung berganti, ada situasi atau tanda-tanda yang bisa membuat rezim Khamenei melemah, dikutip CNN.Lihat Juga :Trump Ejek Greenland Cuma Dijaga 2 Kereta Anjing, Apakah Benar?1. Lebih lemah dari sebelumnyaSejak Israel meluncurkan agresi ke Palestina, Iran adalah salah satu negara yang paling keras mengecam pemerintahan Benjamin Netanyahu.Milisi-milisi yang didukung Iran juga turut melancarkan serangan ke Israel sebagai bentuk dukungan atau solidaritas ke warga di Palestina.Iran bahkan beberapa kali sempat bertempur dengan Israel saat agresi di Gaza masih membara. Beberapa di antaranya pada Oktober 2024 dan Juni 2025 atau yang dikenal Perang 12 Hari.Lihat Juga :Waswas Nasib Susul Maduro, Kim Jong Un Pecat 3 Pejabat Keamanan KorutSerangan terakhir membuat pertahanan Iran berkurang meski mereka mengeklaim senjata andalannya belum dikeluarkan dan kehancurannya tak seberapa.Namun, jika AS dan Israel akan melancarkan serangan tentu akan membuat pertahanan Iran kian melemah.Baca ke halaman selanjutnya >>>
2. Faktor eksternalTrump sudah berulang kali menyatakan ancaman untuk menggempur Iran dengan dalih membela warga sipil. Sebelum perang 12 hari, Teheran bisa saja menganggap ancaman itu gertakan biasa.Namun, setelah perang Juni berlangsung, Iran harus punya strategi baru dan bersiap.AS mungkin juga memilih untuk menargetkan para pemimpin milisi Basij. Namun, tidak seperti serangan AS sebelumnya, operasi tersebut akan lebih dinamis dan tidak pasti.Di luar aksi militer, Trump bisa memperketat sanksi terhadap Iran. Ia juga bisa bekerja sama dengan perusahaan teknologi terkemuka AS untuk mendukung langkah-langkah yang mungkin memungkinkan warga Iran untuk mengatasi pemadaman komunikasi di negara tersebut.Tak cuma itu, Iran bisa mendorong sekutu untuk bergabung dengan turut menjatuhkan sanksi ke negara Timur Tengah ini.[Gambas:Photo CNN]3. Krisis suksesiKhamenei berusia 86 tahun dan berada di dekade keempat kekuasaannya.Selama perang Juni tahun lalu, Khamenei tampak absen dari pandangan publik. Ketidakhadiran ini terus jadi pertanyaan dan menggema.Selain itu, banyak ajudan dan orang kepercayaan Khamenei tewas dalam Perang 12 Hari. Sebegitu banyak pejabat penting yang gugur, kekompakan aparatur dalam mengambil keputusan pun diuji.Tanpa ada gejolak rakyat, Iran pun sudah di ada perubahan sistemik. Salah satu kemungkinan hasilnya adalah evolusi teokrasi Islam menjadi negara nasionalis garis keras yang diperintah struktur keamanan.Lihat Juga :Trump Dukung Warga Iran Lanjutkan Demo: Bantuan Dalam PerjalananKorps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan milisi Basij punya banyak pengalaman menekan tuntutan rakyat dengan kekerasan massal. Di tubuh korps itu juga belum ada tanda-tanda perubahan struktur akibat pembelotan.Namun, krisis suksesi yang membayangi, bersamaan dengan kerentanan dan keresahan rakyat yang meluas, menciptakan kondisi unik perubahan revolusioner. SItuasi ini punya kesamaan dengan pemberontakan yang melanda Iran 47 tahun lalu dan mengarah ke pendirian Republik Islam.
Apa Saja Tanda Rezim Ayatollah Ali Khamenei Iran Melemah?
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260113203840-120-1316759/3-tanda-rezim-khamenei-di-iran-bisa-makin-melemah
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
14 Feb 2026
Konspirasi Gedung Putih dan Epstein Buat Gulingkan Paus Terbongkar
14 Feb 2026
FOTO: Israel Bebaskan 53 Jenazah dan Potongan Tubuh Warga Gaza
14 Feb 2026
Pemerintah Gaza Minta Komite Bentukan Trump Segera Mulai Bertugas
14 Feb 2026
Presiden Iran Blak-blakan Cuma Digaji Rp16,8 Juta Imbas Krisis
14 Feb 2026
Israel Kembali Batasi Akses Muslim ke Masjid Al-Aqsa Selama Ramadan
14 Feb 2026
Departemen Keamanan Dalam Negeri AS Shutdown Buntut Chaos Operasi ICE