Ketika PBB Tidak Lagi Dihormati, Dunia di Ambang Perang Besar?
Judul: Ketika PBB Tidak Lagi Dihormati, Dunia di Ambang Perang Besar? Jakarta, Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus saja menyampaikan sikap tidak suka terhadap Perserikatan...
Jakarta, Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus saja menyampaikan sikap tidak suka terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).Saat berpidato di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80 di New York, 23 September 2025, mengecam PBB karena tidak membantu upaya perdamaian pemerintahannya dan karena "menciptakan masalah baru" bagi AS dan negara-negara anggotanya, sambil mempertanyakan tujuan PBB dan juga menawarkan "uluran tangan kepemimpinan dan persahabatan Amerika" kepada semua negara di badan tersebut."PBB tidak hanya gagal menyelesaikan masalah yang seharusnya diselesaikan, tetapi terlalu sering justru menciptakan masalah baru yang harus kita selesaikan," kata Trump.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Contoh terbaiknya adalah isu politik nomor satu di zaman kita: krisis migrasi yang tidak terkendali. Itu tidak terkendali. Negara-negara Anda sedang hancur," Trump menambahkan.Lihat Juga :Awal Mula dan Alasan Kezia Syifa Pilih Gabung Militer ASBahkan, dalam pidato pertamanya di Majelis Umum PBB di masa pemerintahan keduanya, ia menyoroti kekuatan Amerika yang telah mengaambil alih badan internasional tersebut.Tak hanya itu, Trump juga menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro, ikut membantu menyerang Iran bersama Israel dan berencana mencaplok Greenland. Meski PBB dan banyak pemimpin dunia mengingatkan, namun Trump seolah tidak peduli.Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres menyampaikan kekhawatiran soal peningkatan ketidakstabilan di Venezuela, menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS)."Saya sangat prihatin tentang kemungkinan peningkatan ketidakstabilan di negara tersebut, dampak potensialnya terhadap kawasan, dan preseden yang mungkin ditimbulkannya terhadap bagaimana hubungan antar negara dijalankan," kata Guterres dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Selasa (6/1).Laman thebulletin.org, menyebutkan Trump mengkontraskan penggambaran suram tentang organisasi tersebut dengan penilaian tinggi terhadap efektivitasnya sendiri, mengulangi klaim yang banyak diperdebatkan bahwa ia telah menghentikan beberapa perang berkepanjangan.[Gambas:Video CNN]Apa Jadinya Dunia Tanpa PBB?Menteri Luar Negeri RI Sugiono pernah mengungkapkan tantangan dunia saat ketika kualitas dan kerja sama dunia yang memudar, multilateralisme yang kehilangan daya, hukum internasional dan piagam PBB tidak lagi dihormati, arsitektur hingga tatanan global dunia yang tak lagi sesuai dengan zaman.Kemudian komitmen negara-negara berpengaruh yang lemah menjalankan sistem yang mereka bentuk."Semangat reformasi multilateral jalan di tempat dan banyak negara yang enggan untuk memperbaikinya karena ingin mempertahankan dominasi dan status quo," ujarnya saat memberikan keterangan pers awal tahun 2025 silam.Lihat Juga :WNI Gabung Garda Nasional AS, Berapa Gaji Tentara Amerika?Karena itu, menurut Menlu, jika dibiarkan sistem tatanan global akan makin mati suri. Negara berkembang, akan semakin dipinggirkan dan potensi konflik yang sifatnya global bakal semakin terbuka."Dan skenario terburuk, termasuk perang nuklir bisa terjadi," katanya.Senada dengan Sugiono, Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan kekhawatirannya atas kondisi dunia sekarang. Sebagai mantan petinggi militer dia mencium potensi perang dunia (PD) ketiga pecah, dengan melihat melihat situasi dan kondisi geopolitik baru-baru ini.Pendiri Partai Demokrat itu menyebut perang dunia ketiga sangat mungkin terjadi, meski hal itu bisa dicegah. Namun, melihat perkembangannya saat ini dari hari ke hari, ruang dan waktu untuk mencegahnya semakin kecil."Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit," tulis SBY lewat akun X pribadinya, Senin (19/1).SBY menyebutkan kondisi geopolitik saat ini memiliki banyak kesamaan menjelang pecahnya perang dunia pertama (1914-1918) dan kedua (1939-1945).Misalnya, muncul pemimpin negara kuat yang ingin perang, pembentukan persekutuan negara-negara yang saling berhadapan, hingga pembangunan kekuatan militer dalam skala besar.Lihat Juga :Armada AS Merapat ke Iran, Ini Kata Trump"Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini," ujar SBY.Padahal, Piagam PBB dan hukum internasional tidak lagi dihormati, tatanan dunia terancam chaos (kacau) dan kembali ke "hukum rimba" di mana kekuatan fisik (ekonomi/militer) menentukan segalanya.Multilateralisme kehilangan daya, agresi sepihak meningkat tanpa sanksi efektif, dan keadilan hanya tajam ke negara lemah namun tumpul ke negara adidaya.Sementara menurut Gregory Stanton, Presiden Pendiri Genocide Watch dan Ketua Aliansi Melawan Genosida, yang menulis di jurnal Cairo Review mengatakan, sejak didirikan, PBB telah gagal melakukan banyak tindakan kekejaman dunia, seperti genosida."Perserikatan Bangsa-Bangsa telah gagal mencegah perang dan genosida karena dibangun di atas sistem negara-bangsa lama, yang memungkinkan pemerintah nasional untuk mengklaim hak melakukan kejahatan terhadap warga negaranya sendiri dan membenarkan genosida dengan dalih kedaulatan," kata Gregory.Salah satu faktornya adalah hak veto. "Sejak didirikan, PBB lumpuh oleh hak veto dari lima anggota tetap (P5) Dewan Keamanan," ia menambahkan.Sementara negara yang paling kuat, AS, kata Gregory, ingin mempertahankan dominasi militer dan ekonominya. Kelima negara ini bersikeras untuk memiliki hak veto di Dewan Keamanan, satu-satunya badan PBB yang memiliki wewenang untuk mengizinkan penggunaan kekuatan militer.Jika salah satu dari P5 memveto suatu keputusan, PBB tidak dapat mengizinkan intervensi militer di mana pun di dunia. Ini menjadi tantangan dalam mengatasi kekejaman dan perang di di berbagai dunia.Lihat Juga :Iran soal Reza Pahlavi Mau Pulang ke Teheran: Cuma LeluconBahkan penjahat perang yang sudah ditetapkan oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC) tidak sulit ditangkap, karena tidak memiliki polisi untuk menangkap orang-orang yang didakwanya.Pengadilan tidak dapat bekerja tanpa pasukan polisi untuk menegakkan surat perintah penangkapan mereka. "Saat ini, tidak ada kekuatan polisi internasional yang efektif untuk menangkap orang-orang yang didakwa melakukan kejahatan oleh ICC," katanya. Maka Netanyahu yang jelas dinyatakan pelaku genosida pun tidak masih melenggang.Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah dokumen pendirian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Piagam ini ditandatangani pada tanggal 26 Juni 1945, di San Francisco, pada akhir Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Organisasi Internasional, dan mulai berlaku pada tanggal 24 Oktober 1945.Dikutip dari laman PBB, organisasi ini dapat mengambil tindakan atas berbagai macam isu karena karakter internasionalnya yang unik dan kekuasaan yang diberikan dalam Piagamnya, yang dianggap sebagai perjanjian internasional.Lihat Juga :Respons Iran soal Indonesia Gabung Board of Peace Besutan TrumpDengan demikian, Piagam PBB merupakan instrumen hukum internasional, dan Negara-negara Anggota PBB terikat olehnya. Piagam PBB mengkodifikasi prinsip-prinsip utama hubungan internasional, mulai dari kesetaraan kedaulatan Negara hingga larangan penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional.Sejak berdirinya PBB pada tahun 1945, misi dan kerja Organisasi ini telah dipandu oleh tujuan dan prinsip yang terkandung dalam Piagam pendiriannya, yang telah diamandemen tiga kali pada tahun 1963, 1965, dan 1973.Salah satu pembukaan dari piagam ini berbunyi:"Kami Rakyat Persatuan Bangsa -Bangsa Bertekad:untuk menyelamatkan generasi mendatang dari malapetaka perang, yang dua kali dalam hidup kita telah membawa kesedihan yang tak terhingga bagi umat manusia, dan untuk menegaskan kembali keyakinan pada hak asasi manusia fundamental, pada martabat dan nilai manusia, pada hak yang sama antara pria dan wanita serta bangsa-bangsa besar dan kecil, dan untuk menciptakan kondisi di mana keadilan dan penghormatan terhadap kewajiban yang timbul dari perjanjian dan sumber hukum internasional lainnya dapat dipertahankan, dan untuk mendorong kemajuan sosial dan standar hidup yang lebih baik dalam kebebasan yang lebih besar."
Apa Artinya Piagam PBB?
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260123185824-134-1320368/ketika-pbb-tidak-lagi-dihormati-dunia-di-ambang-perang-besar
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
14 Feb 2026
Trump Kirim Kapal Induk Terbesar di Dunia ke Iran
14 Feb 2026
Bukti Israel Pakai Senjata Pemusnah Buat Warga Gaza Lenyap Menguap
14 Feb 2026
Bakal Dijadikan Penerus, Bisakah Putri Kim Jong Un Pimpin Korut?
14 Feb 2026
FOTO: Sosok Mantan Pacar Epstein yang Minta Ampunan Trump
13 Feb 2026
Madagaskar Porak-poranda Diterjang Badai Siklon Gezani, 36 Orang Tewas
13 Feb 2026
Dua Bayi Ditemukan Tewas Mengenaskan di Freezer, Ibu Ditangkap