Internasional 25 Feb 2026 18 views

Suriname Punya Masjid-masjid Beda Arah Kiblat, Kenapa?

Judul: Suriname Punya Masjid-masjid Beda Arah Kiblat, Kenapa? Jakarta, Dua masjid di Paramaribo, ibu kota Suriname itu, hanya dipisahkan sebuah jalan. Namun keduanya berada dalam...

Suriname Punya Masjid-masjid Beda Arah Kiblat, Kenapa?
Judul: Suriname Punya Masjid-masjid Beda Arah Kiblat, Kenapa?

Jakarta, Dua masjid di Paramaribo, ibu kota Suriname itu, hanya dipisahkan sebuah jalan. Namun keduanya berada dalam posisi saling berhadapan, yang berarti arah kiblat keduanya tidak sama.Masjid Pemuda Islam punya arah kiblat ke Barat sedangkan Masjid Darul Falah menghadap kiblat ke Timur. Dari sisi geografis letak negara Suriname yang berada di Kepulauan Karibia, Amerika Latin itu, memang menghadap kiblatnya ke arah Timur (Mekah di Arab Saudi).Lihat Juga :Meksiko Lacak & Bunuh Bos Kartel El Mencho Melalui Kekasih
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun kedua jamaah dari masjid, yang sebagian berasal dari Jawa di Indonesia itu, tidak terlalu mempersoalkan urusan perbedaan kiblat itu. Meskipun secara perlahan jamaah dari Masjid Pemuda Islam mulai berangsur pindah ke Masjid Daru Falah.Proses perpindahan jamaah itu juga sama sekali tidak mencolok apalagi sampai menimbulkan ketegangan. Seorang pengurusa Masjid Darul Falah, Bogor Muhammad Mansyur, menjelaskan bahwa kedua jamaah dari dua masjid itu rukun-rukun saja."Alhamdulillah tidak pernah berantem," katanya lewat wawancara yang ditayangkan via Youtube Surindo Family dengan host Ustad Asari Latif.Bogor adalah orang Jawa yang lahir di Suriname. Diberi mana Bogor untuk mengenang perjalanan ayahnya saat tiba di Suriname dari Jawa menggunakan kapal Laut "Bogor". Dia menceritakan bahwa Masjid Darul Falah yang dibangun pada 1942 itu, memang dibangun untuk memperbaiki letak kiblat yang sebelumnya diyakini oleh orang Suriname keturunan Jawa yaitu ke arah Barat.
Satu masjid dua arah kiblatBila Darul Falah sengaja dibangun untuk membetulkan arah kiblat, beda lagi dengan Masjid Asyifatul Islam yang juga terletak di Pamaribo. Masjid ini justru membiarkan ada dua kiblat dalam satu masjid. Hal itu terlihat dari mimbar atau pengimaman yang saling berhadapan.Sehingga dulu, dua jamaah akan salat ke arah kiblat yang diyakini benar. Namun saat ini, hampir semua jamaah sudah berkiblat ke Timur dan meninggalkan kiblat ke arah barat. Meski begitu, karena keunikannya, masjid Asyiatul Islam populer dengan sebutan "Masjid Kibltain" alias Masjid Dua Kiblat.Pada awalnya masjid ini memang punya arah kiblat ke Barat, saat didirikan oleh Sumita. Sumita memiliki menantu John Waridi yang tekun mempelajari Islam hingga mampu menunaikan ibadah haji ke Mekkah.Lihat Juga :Kapal Induk Terbesar AS Tiba di Yunani Bersiap Menuju IsraelSepulang dari Mekkah itulah John Waridi mulai membetulkan letak arah kiblatnya ke Timur dan disepakati oleh keluarga lain hingga sekarang. Namun, mereka tetap memberi toleransi kepada yang masih berkeyakinan dengan kiblat ke Barat.Kelompok Madep Ngulon dan NgiblatPerbedaan arah kiblat dalam salat komunitas Islam keturunan Jawa di Suriname ini, dalam catatan sejarah, terentang hingga ke awal abad 19 saat para kuli kontrak dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dipekerjakan di perkebunan milik Belanda.Sejak tahun 1890 hingga 1939, Belanda mengirimkan 32.956 warga pribumi Hindia Belanda ke Suriname. Sebagian besar para kuli kontrak generasi awal ini adalah Muslim abangan Jawa yang masih mempraktikkan ajaran tradisi pra-Islam. Meski salat, namun pengetahuan tentang Islam masih minim termasuk arah kiblat yang mereka anggap sama seperti saat di Jawa (madep ngulon).Karena berdasarkan letak geografis, salat penduduk di Jawa memang ke arah Barat. Inilah yang mereka yakini hingga pindah ke Suriname. Tentu saja, mereka tidak memahami posisi Ka'bah bila dilihat dari Suriname. Selain disebut kelompok Madep Ngulon, mereka juga disebut "westbidders" (orang-orang yang salat ke arah barat) sedangkan yang ke arah Timur disebut Ngiblat atau "oostbidders" (orang-orang yang salat ke arah timur).Laman Muhammadiyah mencatat bahwa pada 1923, saat serombongan kuli kontrak dikirim ada sebagian warga Muhammadiyah."Ini menunjukkan bahwa di zaman itu komposisi pengikut Muhammadiyah tidak hanya terdiri atas pedagang ataupun mereka yang berpendidikan, tetapi juga para pekerja kasar," demikian tertulis di laman Muhammadiyah.Setelah melakukan pengkajian, mereka menyadari bahwa arah kiblat bagi umat Muslim Suriname bukanlah ke barat, tetapi ke arah timur laut.Lihat Juga :Gertak Trump, Pemimpin Iran Khamenei Ancam Tenggelamkan Kapal Induk ASMaka, mereka pun mendirikan salat ke arah timur laut Suriname. Namun, sebagian Muslim Jawa di sana tetap saja salat dengan mengarah ke barat karena menganggap hal itu sebagai tradisi nenek moyang mereka. Keberadaan dua kelompok ini berlanjut hingga ke dekade-dekade selanjutnya.Kendati secara keorganisasian Muhammadiyah tidak eksis di Suriname, relasi antara kaum Muslim Suriname dan Muhammadiyah tetap terjalin di masa selanjutnya.Sekitar Mei 1966, seorang tokoh Muslim Jawa dari Suriname, Haji S Saimo Mahdi Anshari, berkunjung ke Indonesia dan bertemu dengan sejumlah tokoh Muhammadiyah seperti HM Yunus Anis, HM Jindar Tamimy, Baried Ishom dan Baroroh Baried.Di Jakarta ia bertemu dengan HM Mulyadi Joyomartono, KH Faried KH Faried Ma'ruf dan H Marzuki Yatim. Sepulang dari Jakarta, Saimo sendiri termasuk yang mendirikan sebuah masjid dua lantai di Paramaribo dengan kiblat ke arah Timur, alih-alih ke barat.Di tanah air, upaya membenarkan atau memberi petunjuk arah kiblat bagi warga Jawa di Suriname bukannya tidak ada. Misalnya ada permintaan dari Gubernur Belanda di Yogyakarta (periode 1939-1942) Lucien Adams.Kemudian dari wakil Sumobu (Kantor Urusan Agama) di zaman Jepang, H Abdulhamid Ono, dan setelah kemerdekaan dari Menteri Agama RI KH Fakih Usman. Namun, tidak diketahui apakah penjelasan ini sampai dan diterapkan di Suriname.Keberadaan kelompok Islam reformasi di Suriname pernah ditulis sebagai bahan skripsi oleh Arifia Maulid, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, pada 2024 silam. Pokok pembahasan adalah kedatangan imigran Jawa Muslim yang datang setelah tahun 1920, mereka membentuk kelompok keagamaan sendiri yang kemudian disebut sebagai Muslim reformis Jawa. Kelompok inilah yang mulai menginisiasi perubahan arah kiblat itu.Dalam skripsi juga disebutkan, dampak eksistensi Muslim reformis di Suriname bagi komunitas Muslim tahun 1923-1950 adalah adanya peningkatan dalam kesalehan ritual.Hal ini ditandai dengan didirikannya organisasi Muslim Jawa pertama tahun 1932 yakni PII (Perhimpunan Islam Indonesia) yang kemudian menjadi pilar untuk terbentuknya organisasi Sahabatul Islam pada 1935. Kemudian SIS (Stichting Islamitische Gemeente). Organisasi-organisasi ini mempraktikan hukum agama secara ketat seperti melaksanakan salat lima waktu, meninggalkan praktik maksiat, dan melaksanakan salat menghadap kearah kiblat.Sementara yang masih setia dengan model Islam Jawa "Madep Ngulon", terhimpun ke dalam Federasi Islam Suriname (FIGS - Federatie Islamitische Gemeente Suriname). Kedua organisasi ini tetap hadir dan saling bertoleransi sebagai sesama keturunan Jawa yang tetap berpegang teguh pada keyakinan agama dan keyakinan leluhurnya.Kuli kontrak Pulau JawaBagaimana para kuli kontrak dari Jawa bisa sampai ke Suriname?Hal itu tidak lepas dari dihapuskannya perbudakan di Suriname pada 1863. Perkebunan-perkebunan Belanda di sana membebaskan lebih dari 33.000 budak, namun pada saat yang bersamaan masih membutuhkan tenaga kerja kasar.Pemerintah kolonial Belanda yang bercokol di Hindia Belanda pun mulai mengatur cara. Mereka memasok para tenaga kasar dari Sebagian kota-kota di Jawa seperti Tasikmalaya, Semarang, Surabaya dan sebagian dari pinggiran Jakarta.Maka pada periode 1890 dan 1939 ada 33 ribu orang Hindia Belanda diberangkatkan ke Suriname. Para kuli itu dijanjikan kontrak kerja selama lima tahun dan setelah itu akan kembali dipulangkan. Namun, yang penting bagi sistem kerja kontrak adalah skema yang disebut sanksi pidana, yang memberikan hak kepada pemberi kerja untuk mengajukan tuntutan pidana terhadap pekerja kontrak yang melanggar kontrak kerja mereka.Namun dari tenaga kuli sebanyak itu, hanya 20 hingga 25 persen migran Jawa yang kembali ke Jawa sebelum Perang Dunia II. Sebagian besar imigran menetap secara permanen di Suriname.Salah satu alasannya, Belanda tidak menepati janji. Pada tahun 1933, misalnya, ada gerakan "Politik Nagih Djangji" yang dipelopori oleh Iding Soemita, kuli kontrak asal Tasikmalaya. Gerakan ini meminta agar Belanda memulangkan para pekerja yang sudah habis kontrak. Namun janji tinggal janji, para kuli kontrak tetap tinggal di sana hingga Suriname mendapatkan kemerdekaan pada 25 November 1975.
Muslim reformis Jawa

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260224151352-134-1331311/suriname-punya-masjid-masjid-beda-arah-kiblat-kenapa
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.