Kenapa Iran Masih 'Perkasa' Meski Sudah Dikeroyok Rudal AS-Israel?
Judul: Kenapa Iran Masih 'Perkasa' Meski Sudah Dikeroyok Rudal AS-Israel? Jakarta, Perang antara Iran vs Amerika Serikat dan Israel memasuki hari keenam, namun Teheran masih belum...
Jakarta, Perang antara Iran vs Amerika Serikat dan Israel memasuki hari keenam, namun Teheran masih belum terlihat menunjukkan tanda-tanda takluk apalagi bertekuk lutut terhadap AS.Alih-alih menyerah, Iran masih terus melancarkan serangan balasan yang membuat AS ikut kerepotan lantaran menyasar situs-situs militernya di negara-negara sekutunya di Timur Tengah.Lihat Juga :Stok Rudal Menipis di Hari Kelima Perangi Iran, AS Mulai Kewalahan?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian besar serangan balasan Iran memang berhasil dicegat AS dan negara-negara Arab. Namun beberapa rudal dan drone Iran berhasil lolos dari pencegatan sistem pertahanan rudal AS hingga memicu kerusakan hingga kebakaran di situ-situs strategis di kawasan.Sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Qatar, Kuwait, hingga Siprus juga kena imbas serangan Iran, lantaran menampung pangkalan militer AS yang jadi target serangan balasan Teheran.Semua ini terjadi kala Iran juga harus menelan pil pahit kematian pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei, dan sejumlah komandan militer dalam serangan AS-Israel di hari terakhir Februari lalu.Peperangan ini juga terjadi kala Iran masih terkena isolasi dan embargo internasional sehingga memiliki akses terbatas untuk membeli senjata ataupun material pembuatannya.Apa yang menyebabkan Iran bisa bertahan sejauh ini meski getol perang dengan AS-Israel?Lihat Juga :ANALISISIran Dikeroyok AS-Israel, Kenapa Arab Cs Malah Dukung Paman Trump?'Miskalkulasi' AmerikaKetua Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, Yon Machmudi, menilai resiliensi Iran terbentuk karena keteledoran dan keserampangan Amerika sendiri. Menurut Yon, AS dan Israel terlalu mudah menyepelekan Iran sehingga salah perhitungan terkait seberapa besar kekuatan Iran sesungguhnya.Yon menuturkan Presiden Donald Trump, yang kekeh melancarkan serangan ke Iran terlepas dari keengganan jajaran militer AS dan Kongres, telah menggampangkan kekuatan Iran yang sebenarnya tidak pernah diketahui publik hingga intelijen sesungguhnya."Tentu soal persenjataan Iran, terutama misil dan rudal jarak jauh, itu kan tidak sepenuhnya bisa diprediksi oleh Amerika Serikat atau Israel soal seberapa banyak dan besarnya ya karena mereka (Iran) banyak menyimpan alutsista di bawah tanah, tidak terekspos," ucap Yon kepada .com pada Rabu (4/3).[Gambas:Video CNN]"Nah bisa saja kemudian Amerika-Israel miskalkulasi berkaitan dengan kemampuan dan daya tahan iran, cenderung underestimate lah," paparnya menambahkan.Miskalkulasi AS ini, kata Yon, terlihat dari klaim Trump yang meyakini bisa membuat Iran takluk lewat serangan udara gabungannya dalam hitungan pekan, termasuk dengan membunuh Khamenei."Dia (Trump) berharap kematian Khamenei mendorong rakyat Iran akan turun ke jalan, mengambil alih kekuasaan. Ternyata kan tidak. Justru semangat perlawanan yang semakin kuat dari rakyat Iran mendukung untuk melawan balik dengan retaliasi yang lebih hebat karena pemimpin mereka terbunuh," kata Yon.Pilihan RedaksiMossad Israel Sampai Hack Kamera Lalu Lintas demi Bunuh KhameneiMojtaba Khamenei Kandidat Kuat Pengganti Ali Khamenei, Siapa Dia?CIA Ketahuan Mau Senjatai Milisi Kurdi Buat Merecok Iran dari DalamSwasembada alutsistaSelain itu, pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia Sya'roni Rofii menilai embargo sanksi hingga isolasi internasional ternyata justru membuat Iran makin "mandiri", termasuk soal merakit dan membuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) seperti rudal dan drone.Meski selama puluhan tahun berada di bawah sanksi ketat Amerika dan berbagai sanksi multilateral lain, Iran tetap mampu membangun dan mempertahankan industri pertahanan domestik serta memproduksi berbagai sistem persenjataan secara mandiri.Hal ini bukan berarti sanksi AS sepenuhnya gagal, melainkan karena Teheran mengadaptasi strategi untuk mengakali pembatasan dan menekankan kemandirian.Embargo dan isolasi internasional, kata Sya'roni, berhasil membuat Iran dipaksa mengandalkan teknologi dalam negeri."Ilmuwan Iran dituntut untuk berinovasi di tengah embargo. Dan itu berhasil. Kedua, prinsip yang ditanamkan kepemimpinan Iran: menanamkan semangat perlawanan terhadap Barat. Sehingga dari tingkat sekolah hingga perguruan tinggi semangatnya sama yakni menjadi bangsa mandiri," ucap Sya'roni kepada .com.Dikutip CNBC International, Iran bukan hanya bisa swasembada alutsista. Teheran bahkan telah mengekspor persenjataan mereka dan menjadi pemasok penting drone militer dan rudal bagi Rusia sejak invasi skala penuh Moskow ke Ukraina dimulai pada 2022.Hal itu dikonfirmasi sendiri oleh Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Pada Februari 2025 lalu, Laksamana Muda Habibollah Sayyari mengeklaim Iran memproduksi lebih dari 90% peralatan tempurnya sendiri.Sayyari menuturkan kemampuan itu muncul sebagai dampak dari puluhan tahun sanksi yang membuat Iran tidak bisa memperoleh berbagai platform canggih seperti pesawat atau kapal perang baru."Sayyari, yang merupakan Wakil Komandan Angkatan Darat Iran untuk urusan koordinasi, mengatakan pada Kamis bahwa Angkatan Bersenjata Iran mampu memenuhi seluruh kebutuhan pertahanan. Iran tidak lagi meminta peralatan dari negara asing," demikian dilaporkan IRNA.Baca di halaman berikutnya >>>
Struktur baja rezim ulamaYon bahkan menilai kematian Khamenei tidak membuat Iran gentar menghadapi gempuran Israel dan AS. Sebab, struktur politik dan pemerintahan Iran yang matang dan kuat membuat negara itu masih bisa bergerak sesuai roda pemerintahan meski para pemimpinnya gugur oleh musuh.Iran, kata Yon, sudah sering menghadapi upaya pembunuhan para pemimpin militer dan tokoh-tokoh penting lainnya oleh musuh. Hal itu menyebabkan Iran sudah terbiasa dengan mekanisme kontingensi yang rapih ketika mengalami kondisi serupa."Yang kedua tidak masuk perhitungan AS adalah berkaitan dengan struktur politik Iran yang ternyata pimpinan Ayatollah ini tidak mudah untuk bisa dihancurkan walaupun pemimpin tertingginya meninggal. Saya kira aspek struktur politik Iran tidak betul dipahami dengan baik oleh AS-Israel," kata Yon.Lihat Juga :Iran Sebut Pengganti Khamenei Segera Dipilih, Siapakah Dia?"(Ancaman pembunuhan) tidak menggoyahkan mereka (Iran) karena sudah siap dengan risiko yang dihadapi--bahwa siapa pun yang masuk dalam pucuk pemimpin Iran sewaktu-waktu bisa terbunuh," paparnya menambahkan.Hal serupa juga dikatakan Sya'roni. Ia menuturkan Iran memiliki struktur politik "yang unik" sehingga tahan guncangan.Sya'roni menilai kematian Khamenei tentu memberikan pengaruh dalam internal pemerintahan Iran yang sadar bahwa masih banyak lubang intelijen dan pertahanan hingga rawan menjadi sasaran operasi intel."Tetapi di sisi lain, wafatnya Khamenei menjadi pemicu menguatnya semangat perlawanan di Iran dan sekitarnya (sekutunya)," papar Sya'roni.Tangan-tangan 'tersembunyi' bantu IranYon menuturkan meski sejauh ini Iran terlihat menghadapi gempuran AS-Iran "sendirian", sekutu dekatnya seperti Rusia dan China tetap menyokong Teheran secara tidak langsung.Sejauh ini, China dan Rusia memang tidak secara gamblang menyatakan dukungan terhadap Iran secara militer. Namun, kedua negara sekutu Teheran itu sudah mengecam serangan AS-Israel ke Iran.Beijing juga menilai serangan gabungan Israel-AS "pelanggaran nyata dan serius terhadap kedaulatan serta keamanan Iran."Pilihan RedaksiPutin Tawarkan Jadi Mediator Iran vs Negara-negara TelukIsrael Tembak Jatuh Jet Iran, Ternyata Buatan RusiaSejumlah pihak, terutama dari Barat, bahkan menilai Rusia dan China pada akhirnya tak bisa berbuat banyak dan tetap menjaga jarak untuk tidak terlibat konflik langsung dengan AS dalam hal mendukung Iran.Meski sebagian analis menafsirkan ketiadaan intervensi militer langsung dari Rusia atau China sebagai bentuk pengabaian terhadap Iran, pandangan tersebut dinilai mengabaikan realitas strategis yang lebih mendalam.Selama bertahun-tahun, Moskow dan Beijing telah bertransformasi dari sekadar mitra diplomatik menjadi "jangkar teknologi" Teheran.Rusia dan China semakin berperan sebagai "mata" bagi Iran dengan menyediakan aset strategis berteknologi tinggi, mulai dari pengawasan hingga sistem pemandu rudal canggih. Kerja sama ini meningkat pesat setelah eskalasi regional pada 2025 yang kerap disebut sebagai "Perang 12 Hari" Iran vs Israel.Rusia selama ini banyak memasok perangkat keras militer berat serta kemampuan pengintaian orbit khusus seperti satelit mata-mata Khayyam, jet tempur Su-35, sistem pertahanan udara berlapis S-400, hingga radar Rezonans-NE.Sementara itu, dikutip Defense and Security Monitor, China banyak memasok intelijen dan pemandu ke Iran seperti sistem navigasi BeiDou-3, rudal supersonik CM-302, hingga radar anti-siluman YLC-8B ke Iran."Memang mereka (China dan Rusia) tidak secara langsung mendeklarasikan bahwa mendukung bersama Iran dalam perang, tapi tentu tidak bisa dipungkiri bahwa bantuan teknologi dari China, kemampuan untuk jamming, teknologi IT, dan sebagainya yang berkaitan dengan AI itu kan juga banyak di-support China, kemudian teknologi rudal itu kan juga banyak berasal dari Rusia," ucap Yon.Meski begitu, Yon juga menilai Rusia dan China tidak akan secara gamblang menyatakan dukungan strategis ke Iran untuk melawan AS-Israel, apalagi ikut turun tangan ke medan perang.
Ada Tangan-tangan 'Tersembunyi' Bantu Iran
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260304172601-120-1334343/dikeroyok-as-israel-kenapa-iran-masih-bisa-gagah-balas-serangan
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
08 Apr 2026
UEA Bantah Luncurkan Drone Wing Loong II Buatan China ke Iran
08 Apr 2026
Serangan Israel Tewaskan Imam Terkemuka Lebanon Sadiq al-Nabulsi
08 Apr 2026
Israel Bombardir Lebanon saat Gencatan AS-Iran, Ratusan Tewas
08 Apr 2026
IRGC Iran Pasang Foto Donald Trump Jadi Hitler di Rudal
08 Apr 2026
Klaim Menang Perang, Warga Iran Bakar Bendera AS-Israel saat Gencatan
08 Apr 2026
Respons Negara-negara Teluk soal Gencatan Senjata AS vs Iran