Bayang Perang Redupkan Perayaan Idulfitri di Timur Tengah
Judul: Bayang Perang Redupkan Perayaan Idulfitri di Timur Tengah Jakarta, Suasana Idulfitri di kawasan Timur Tengah tahun ini jauh dari gegap gempita. Dentuman bom, sirene seranga...
Jakarta, Suasana Idulfitri di kawasan Timur Tengah tahun ini jauh dari gegap gempita. Dentuman bom, sirene serangan udara, hingga krisis ekonomi yang berkepanjangan membayangi perayaan hari kemenangan bagi jutaan umat Muslim.Di Beirut, Lebanon, Aziza Ahmad (49) mengaku tak merencanakan apa pun untuk Idulfitri. Tak ada hidangan keluarga, tak pula hadiah untuk anak-anaknya. Di tengah perang dan lonjakan harga kebutuhan, ia merasa "tak ada yang bisa dirayakan".Apartemen kecil dan sederhana yang ia tinggali bersama suami dan tiga anaknya kini dihuni hingga 12 orang, sebagian merupakan pengungsi. Kondisi ini mencerminkan tekanan yang dirasakan banyak keluarga di negara tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat Juga :Pesan Idulfitri Ketum Muhammadiyah, Jumat 20 Maret 2026"Mungkin bagi orang kaya berbeda, tapi kebahagiaan Idulfitri tidak terasa di sini. Kami tidak punya uang, dan para pengungsi bahkan tidak bisa pulang," ujarnya, mengutip AFP.Krisis ekonomi di Lebanon yang telah berlangsung bertahun-tahun semakin diperparah oleh konflik. Harga kebutuhan pokok melonjak tajam, memaksa banyak keluarga mencari cara bertahan.Menjelang Idulfitri, Ahmad membuka lapak kecil kue di depan rumahnya untuk menambah penghasilan suaminya yang bekerja sebagai pencuci mobil."Kami tidak akan makan satu pun. Semua untuk dijual," katanya.Pilihan RedaksiTrump Desak Jepang Bantu Perang Iran, Takaichi TertekanIran Ancam Serang Energi Teluk Usai Ladang Gas DiserangDalih Trump soal Perang Iran Semakin Rapuh dan BerantakanDi lorong masuk gedung tempat tinggalnya, seluruh anggota keluarga sibuk menguleni adonan dan menghancurkan pistachio. Namun, suasana tetap diliputi kecemasan."Kami bahkan tidak akan keluar untuk bermain. Semua orang takut, serangan Israel terus terjadi, jadi kami di rumah saja," kata Yasmine (11), putri Ahmad.Bayang ancaman di Negara TelukKetegangan juga terasa di negara-negara Teluk yang selama ini dikenal relatif aman. Serangan balasan Iran terhadap target yang berkaitan dengan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari membuat kawasan ini turut dilanda ketakutan.Hampir 30 orang dilaporkan tewas di negara-negara Teluk sejak konflik pecah.Di Kuwait, pemerintah bahkan melarang sementara pertunjukan, konser, hingga pesta pernikahan selama Idulfitri guna membatasi kerumunan. Dampaknya terasa di sektor ritel, di mana jumlah pembeli pakaian baru menurun signifikan.Sementara itu, Qatar menangguhkan seluruh acara publik hingga waktu yang belum ditentukan sejak konflik dimulai.Di Uni Emirat Arab, salat Idulfitri hanya diperbolehkan di dalam masjid, tanpa kegiatan di ruang terbuka, demi alasan keamanan. Juhi Yasmeen Khan, pekerja sosial asal India yang telah lama tinggal di Dubai, mengatakan perayaan tahun ini terasa berbeda."Tidak terasa tepat untuk merayakan secara besar-besaran," ujarnya. Ia memilih merayakan Idulfitri secara sederhana bersama keluarga inti di rumah."Bersama-sama, kami akan tetap menjaga semangat Idulfitri," katanya.[Gambas:Video CNN]Luka di YerusalemBagi warga Palestina di Yerusalem Timur, Ramadan tahun ini terasa belum lengkap. Penutupan Masjid Al-Aqsa oleh otoritas Israel membuat mereka kehilangan salah satu pusat ibadah terpenting."Ada rasa sakit di hati kami karena tidak bisa ke Al-Aqsa," kata Ihab (30).Biasanya, jalan-jalan kota tua dihiasi lampu dan lentera bernuansa Islami. Namun tahun ini, suasana itu menghilang. Gang-gang sempit yang biasanya ramai kini sepi sejak konflik pecah.Lihat Juga :Uni Eropa Peringatkan Israel soal Kelanjutan Serangan ke LebanonDi Bahrain, suara sirene peringatan serangan rudal dan drone menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.Di sebuah salon kecantikan di ibu kota Manama, seorang anak perempuan berusia lima tahun menunggu tangannya dihias henna menjelang Idulfitri. Ibunya, Maryam Abdullah, menegaskan bahwa perang tidak akan menghentikan keluarganya untuk merayakan."Ini pasti akan berlalu. Kami tetap akan menikmati suasana Idulfitri, meski hanya dengan mengunjungi keluarga di rumah," ujarnya.Hal senada disampaikan Hessa Ahmed, seorang pekerja di Bahrain. Ia tetap berbelanja pakaian dan aksesori untuk menyambut Idulfitri bersama keluarga dan teman.Di tengah ketidakpastian, sebagian warga memilih tetap merayakan, meski dengan cara yang lebih sederhana. Namun bagi banyak lainnya, Idulfitri tahun ini menjadi pengingat pahit bahwa damai masih jauh dari genggaman. (tis/tis)
Add
as a preferred source on Google
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260320083820-120-1339808/bayang-perang-redupkan-perayaan-idulfitri-di-timur-tengah
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
07 Apr 2026
Tenggat Negosiasi Mau Habis, Trump Ancam Ratakan Iran
07 Apr 2026
AS Bunuh Bos Intelijen IRGC, Khamenei 'Bangkit' dari Persembunyian
07 Apr 2026
Terungkap Momen Dramatis Navy Seal AS Masuk Iran Selamatkan Pilot F-15
07 Apr 2026
Detik-detik Ledakan di Taybeh Lebanon Imbas Serangan Israel
07 Apr 2026
Iran Respons Ultimatum Serangan Trump: Biarkan Dia Ngoceh
07 Apr 2026
Trump Ejek NATO Macan Kertas, Ngeluh Korsel-Jepang Ogah Perangi Iran