Internasional 05 Apr 2026 3 views

Kisah Mordechai Vanunu, Pembongkar Program Bom Nuklir Israel

Judul: Kisah Mordechai Vanunu, Pembongkar Program Bom Nuklir Israel Bagian 1 dari 2. Parafrasekan bagian ini saja, jangan mengulang bagian lain. Jakarta, Israel tak pernah mengak...

Kisah Mordechai Vanunu, Pembongkar Program Bom Nuklir Israel
Judul: Kisah Mordechai Vanunu, Pembongkar Program Bom Nuklir Israel

Bagian 1 dari 2. Parafrasekan bagian ini saja, jangan mengulang bagian lain.

Jakarta, Israel tak pernah mengakui memiliki program senjata nuklir.Negara zionis ini selalu menuding Iran, musuh bebuyutannya, sebagai negara yang harus diserang karena mengembangkan nuklir. Namun peristiwa pada 1986, rahasia Israel yang lama ditutup rapat sejaka negara itu merdeka 1948, terbongkar sudah.Lewat mulut Mordechai Vanunu, Yahudi kelahiran Maroko 1954 itu, mengungkapkan semua program nuklir Israel di kawasan Dimona. Pengakuan Mordechai bukan saja valid, tapi juga berbahaya bagi Israel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana tidak? Mordechai adalah teknisi yang bekerja di pusat penelitian nuklir rahasia Dimona di gurun Negev, sekitar 150 km selatan Yerusalem melalui jalan darat.Lihat Juga :Presiden Iran Mendadak Kirim Pesan Panjang untuk Warga AS, Apa Isinya?Kelelahan mental yang membuatnya harus rela keluar dari pekerjaan tersebut lalu memilih jalan yang biasa ditempuh anak muda seusianya waktu itu, keliling Asia dan Australia sebagai turis backpacker pada 1985. Dalam ransel bututnya, dia menyelipkan dua rol film berisi gambar-gambar pembangkit listrik tenaga nuklir tempat dia bekerja, termasuk peralatan untuk mengekstraksi bahan radioaktif untuk produksi senjata dan model laboratorium perangkat termonuklir.Dalam perjalanannya, dia singgah di sebuah gereja di Sydney Australia. Bukan sekadar singgah untuk istirahat, tapi juga menemukan ketenangan batin bersama komunitas jemaat gereja Anglikan di sana.Di Sydney, ia memeluk agama Kristen dan dibaptis pada Juli 1986. Persahabatan dan kehangatan dalam jemaat gereja membuatnya sedikit membocorkan masa lalunya. Tak banyak yang tertarik atau curiga bahwa lelaki kurus dengan bahasa Inggris terbata-bata ini pernah bekerja di sebuah reaktor nuklir paling berbahaya dan tertutup di dunia.
Hingga seorang jemaat yang kebetulan wartawan lepas asal Kolombia tertarik dengan foto-foto hitam putih yang dimiliki Mordechai. Dia pun mengirim sebagian foto-foto itu ke London Sunday Times Inggris. Koran yang berbasis di kota London itu pun antusias. Mereka mengirimkan seorang wartawannya, Peter Hounam, untuk sengaja menemui Mordechai."Ketika saya melihat Vanunu berdiri di sana-seorang pria kecil, bertubuh mungil, sedikit botak, tidak percaya diri, berpakaian sangat kasual-dia jelas tidak terlihat seperti seorang ilmuwan nuklir," kenang Hounam kepada BBC. Setelah foto didapat, tim surat kabar meminta bantuan para ahli nuklir di Inggris untuk memverifikasi kebenaran foto-foto itu.Singkat cerita, London Sunday Times menerbitkan foto-foto tersebut beserta detail tentang kemampuan nuklir Israel, pada 26 Oktober 1986. Dunia terbelalak, Israel memiliki senjata pemusnah masal yang paling ditakuti umat manusia itu. Surat kabar itu menyimpulkan, Israel telah menjadi kekuatan nuklir keenam di dunia dan memiliki sebanyak 200 hulu ledak atom, jauh kalah jumlah dibandingkan musuh-musuhnya.Lihat Juga :Daftar Negara Sahabat Dekat Iran, Rusia hingga ChinaTerungkap pula, Israel membuat kesepakatan rahasia dengan Prancis untuk membangun fasilitas nuklir Dimona, yang diperkirakan mulai berproduksi untuk membuat bahan baku senjata nuklir pada 1960-an. Namun selama bertahun-tahun, Israel mengklaim bahwa situs itu adalah pabrik tekstil.Inspektur AS mengunjungi lokasi tersebut beberapa kali pada 1960-an, namun dilaporkan tidak menyadari adanya fasilitas di bawah tanah karena poros lift dan pintu masuk telah ditutup bata dan diplester."Kami tegang, kami kelelahan, sebagian besar orang di sana belum pernah membuat cerita sebesar ini," kata Peter Hounam.Namun setelah penerbitan itu, nasib Mordechai kini dalam bahaya. London Sunday Times membawa narasumber utama ini ke London."Ia mulai menguraikan kisah yang sangat menarik tentang bagaimana ia menyelundupkan kamera tanpa film apa pun, dan kemudian pada tahap selanjutnya ia menyelundupkan film di dalam kaus kakinya dan kemudian mulai mengambil beberapa foto secara diam-diam pada larut malam dan dini hari," kata Hounam.Lihat Juga :Minyak Iran Jadi Rebutan Negara-negara Barat Sejak Pertama DitemukanThe Sunday Times menempatkannya di sebuah hotel pedesaan terpencil di luar London. Tetapi Vanunu kemudian merasa gelisah dan dipindahkan ke hotel London, saat itulah kejadian tak terduga terjadi. Agen Mossad memburunya. Dia dijebak lewat seorang perempuan Cheryl Bentov, yang menyamar sebagai turis.Awalnya Mordechai dan sang gadis hanya ingin bersenang-senang."Saya hanya akan pergi selama beberapa hari ke utara Inggris, saya akan baik-baik saja," itulah pesannya yang terakhir kepada Hounam sebelum menghilang.Dijebak MossadTanpa sadar, mantan pegawai nuklir ini sudah dijebak. Jebakan klasik dengan memanfaatkan gadis cantik untuk kemudian diringkus tanpa daya. Sebulan kemudian, tepatnya Oktober 1986, Mordechai sudah berada di Roma di bawah pengawasan intelijen Israel untuk kemudian kembali dibawa ke negara asalnya.Mordecahi kemudian diadili pada Maret 1987 atas tuduhan pengkhianatan dan spionase serta dijatuhi hukuman 18 tahun penjara. Lebih dari separuh masa hukumannya dihabiskan di sel isolasi ukuran 3 meter kali 2 meter."Saya ingin memberi tahu dunia tentang apa yang tengah terjadi. Ini bukan pengkhianatan, ini adalah upaya memberi informasi kepada dunia, tidak seperti kebijakan Israel," katanya dalam rekaman wawancara di penjara. Dia dibebaskan pada 21 April 2004 dan sejak itu ditolak izinnya untuk meninggalkan Israel.Sejak itu, ia telah dikembalikan ke penjara beberapa kali karena melanggar ketentuan pembebasan atau pembebasan bersyaratnya. Sebelum kembali dijebloskan ke penjara pada 2009, ia masih sempat berteriak,"Kalian tidak mendapatkan apa pun dari saya selama 18 tahun; kalian tidak akan mendapatkan apa pun dalam tiga bulan. Malu kalian, Israel."Saat dibawa ke pengadilan di Israel dengan tudingan pengkhianatan dan spionase karena membocorkan rahasia persenjataan nuklir Israel kepada sebuah surat kabar Inggris, usia Mordechai 34 tahun.Ketiga hakim di pengadilan distrik Yerusalem mengatakan saat menjatuhkan hukuman bahwa mereka telah mempertimbangkan segala hal dan kerja samanya dengan pihak berwenang. Namun mereka menolak argumen pembelaan yang menyatakan bahwa motifnya bersifat ideologis.Pengacara Mordechai, Avigdor Feldman, menegaskan bahwa ia akan mengajukan banding ke Mahkamah Agung. Sepanjang persidangan, yang dimulai Agustus, Feldman berpendapat bahwa pengadilan Israel tidak memiliki yurisdiksi dalam kasus ini karena kliennya diculik di luar negeri dan dibawa pulang secara ilegal untuk diadili.Saudara laki-laki Mordechai, Asher, mengatakan di luar ruang sidang yang dijaga ketat: "Saya merasa telah terjadi ketidakadilan terhadapnya. Persidangan tidak dilakukan secara sah. Tidak ada seorang pun di dalam untuk melihat apa yang terjadi."Lihat Juga :2 Pasukan Elite AS Army Rangers & Navy SEALs yang Dikirim ke TimtengFeldman mengajukan petisi yang ditandatangani oleh 20 ilmuwan terkemuka, termasuk 12 peraih Nobel, yang menggambarkan sang terdakwa sebagai 'seorang pria yang berhati nurani'. Para penandatangan, termasuk Linus Pauling dan Carl Sagan, menulis: 'Tidak ada penghargaan yang lebih besar yang dapat ditunjukkan oleh pengadilan terhadap opini yang layak dari umat manusia selain dengan mengakui keberanian Mordechai Vanunu yang sendirian.'Penting diketahui, Linus Carl Pauling adalah ilmuwan Amerika Serikat dan satu-satunya orang yang memenangkan dua penghargaan Nobel yang tidak terbagi, yakni Penghargaan Nobel dalam Kimia pada 1954 dan Perdamaian pada 1962. Sementara Carl Sagan adalah astronom Amerika Serikat dan dikenal sebagai orang yang gigih mempopulerkan sains. Ia menulis sejumlah buku yang berkaitan dengan sains, terutama alam raya.Mordechai Vanunu sendiri telah dinominasikan untuk hadiah Nobel Perdamaian 1988 oleh Yayasan Perdamaian Bertrand Russell. Profesor Richard Falk, seorang ahli hukum internasional dari Universitas Princeton, tidak diizinkan untuk memberikan kesaksian atas nama Vanunu. Pengadilan mengatakan bahwa mereka telah menerima pernyataan tertulis darinya.Ketika ditanya apakah tidak adil untuk menuntut Mordechai dengan tuduhan pengkhianatan, Profesor Falk berkata: 'Mungkin ada alasan untuk menuntutnya dengan tuduhan pengkhianatan, tetapi apakah ada alasan yang meyakinkan untuk menghukumnya karena pengkhianatan adalah hal lain. Pengkhianatan bergantung pada niat.'"Saya belum pernah mendengar kasus di mana seseorang dinominasikan untuk Hadiah Nobel dan dihukum karena pengkhianatan pada saat yang bersamaan," katanya.Pihak negara menolak upaya pihak pembela untuk membuka kasus tersebut kepada pers dan publik. Pemerintah Israel terus mengabaikan banyak protes internasional atas hukuman yang tidak manusiawi ini dan banyak permohonan pengampunan.Terpenjara di Katedral Anglikan St GeorgeKini di usia senjanya (72 tahun), Mordechai menjadi "tahanan" dalam sebuah gereja, tepatnya Katedral Anglikan St. George., Yerusalem. Tak banyak kabar tentang dia sebab pemerintah Israel melarangnya menggunakan internet atau telepon seluler dan tidak diperbolehkan mendekati kedutaan atau perbatasan.Sebelum diasingkan ke tempat yang sekarang, Mordechai pernah berbicara kepada sejumlah awak media, "Kepada semua orang yang menyebut saya pengkhianat, saya bangga dan senang melakukan apa yang telah saya lakukan," katanya.Lihat Juga :Balas Bombardir Israel, Apakah Iran Punya Rudal Penembus Bunker?"Saya menderita di sini selama 18 tahun karena saya seorang Kristen". Tak lama kemudian ia dipindahkan ke sebuah apartemen di Jaffa. Namun setelah alamatnya dipublikasikan di media, ia memutuskan untuk tinggal di Katedral St. George di Yerusalem.Laman Theothercheek.com, situs berita Kristen yang berbasis di Sydney, Australia tahun lalu menggambarkan kondisi Mordechai."Dia ingin mengunjungi Australia lagi untuk berterima kasih kepada teman-temannya di gereja lamanya, tempat diadakannya acara doa bersama setiap tahun untuk menghormatinya. Dia sangat ingin menikah, memiliki anak, dan tinggal di Barat," tulis lama itu."Saat musim panas yang panas dan kering menyelimut

Judul: Kisah Mordechai Vanunu, Pembongkar Program Bom Nuklir Israel

Bagian 2 dari 2. Parafrasekan bagian ini saja, jangan mengulang bagian lain.

i Tanah Suci (Yerusalem), orang yang paling dibenci di Israel ini tetap terkunci di dalam Katedral St. George, terlalu gugup untuk keluar kecuali dalam keadaan yang sangat jarang terjadi. Visanya untuk meninggalkan negara itu telah ditolak. Namun seperti biasa, para pendukungnya di seluruh dunia terus mendesak pemerintah untuk mencabut pembatasan tersebut," tulis situs tersebut.Pada tahun 2015, Mordechai menikahi profesor teologi Norwegia, Kristin Joachimsen. Pasangan tersebut meminta reunifikasi keluarga setelah pernikahan. Direktorat Imigrasi Norwegia telah memberikan izin kepadanya untuk berimigrasi demi bersatu kembali dengan kekasihnya. "Nilai-nilai keluarga telah menang," kata Kristin. Namun, tidak jelas apakah atau kapan ia akan diizinkan untuk pindah.Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel tidak dapat menjelaskan apakah Mordechai telah mengajukan permintaan baru untuk melakukan perjalanan ke Norwegia. Namun, ia mengatakan pembatasan kebebasan bergerak si pembocor informasi itu disebabkan "bahaya yang ditimbulkannya" bagi negara Yahudi tersebut.
Add
as a preferred source on Google
Didukung 12 Ilmuwan Nobel

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260402173215-120-1343798/kisah-mordechai-vanunu-pembongkar-program-bom-nuklir-israel
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.