Darurat Wabah Ebola, Uganda Larang Warga Jabat Tangan hingga Pelukan
Uganda melarang warganya berjabat tangan dan berpelukan setelah dua kasus Ebola terkonfirmasi di negara tersebut. Larangan ini diumumkan oleh Kementerian Kesehatan Uganda pada Sela...
Sekretaris Tetap Kementerian Kesehatan, Diana Atwine, menegaskan bahwa masyarakat harus mematuhi langkah-langkah pencegahan, termasuk menghindari kontak fisik yang tidak perlu. "Orang-orang harus berhenti saling bersalaman... virus ini menyebar lewat kontak fisik," kata Atwine dalam konferensi pers, seperti dikutip *The Telegraph*.
Selain itu, Kementerian Kesehatan Uganda juga menganjurkan masyarakat untuk rutin mencuci tangan dengan sabun, menggunakan antiseptik, dan segera melapor apabila mengalami gejala apa pun, seperti demam, muntah, atau pendarahan.
Kedua kasus Ebola di Uganda ini terkait dengan wabah di Republik Demokratik Kongo. Kongo sendiri tengah dilanda wabah Ebola strain Bundibugyo yang langka, di mana hingga kini belum ditemukan vaksin maupun obatnya. Wabah ini telah menyebabkan 130 orang meninggal dunia dan setidaknya 500 orang diyakini terinfeksi.
Salah satu pasien di Uganda, seorang pria berusia 59 tahun, meninggal dunia pada Kamis (14/5). Sementara itu, pasien kedua masih diisolasi dan dipantau secara ketat.
Menanggapi situasi ini, tiga negara di Asia Tenggara—Thailand, Vietnam, dan Indonesia—telah mulai memperketat perbatasan. Mereka meningkatkan pengawasan di rumah sakit dan bandara, sekaligus memantau ketat pos pemeriksaan karantina perbatasan. Sejauh ini, belum ada kasus Ebola yang terdeteksi di ketiga negara ASEAN tersebut.
Para ahli kesehatan internasional mengakui adanya kelengahan setelah pengawasan di Kongo gagal mengidentifikasi penyakit mematikan ini hingga Ebola menyebar dalam beberapa minggu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Sabtu (16/5) telah menyatakan epidemi ini sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat "yang menjadi perhatian internasional," menyebutnya sebagai peristiwa "luar biasa."
Kurangnya alat uji untuk strain Bundibugyo dan sulitnya beroperasi di provinsi perbatasan Ituri, yang menjadi pusat wabah, membuat para pejabat kesehatan meyakini bahwa jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi. "Saya sangat prihatin dengan skala dan kecepatan epidemi ini," ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Pemerintah Uganda juga telah memutuskan untuk menunda perayaan Hari Martir pada 3 Juni. Penundaan ini dilakukan karena kekhawatiran akan penularan Ebola lintas batas, mengingat acara nasional tersebut biasanya dihadiri ribuan peziarah dari wilayah timur Republik Demokratik Kongo. Lebih dari satu juta peziarah biasanya berkumpul di Kuil Katolik Para Martir Uganda di Namugongo, Uganda tengah, di mana banyak orang minum dan mandi di air yang diyakini memiliki khasiat penyembuhan. Kementerian Kesehatan Uganda khawatir rakyat Kongo akan berbondong-bondong datang ke Namugongo dengan keyakinan bahwa air kuil dapat menyembuhkan mereka.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260521083321-127-1360651/darurat-wabah-ebola-uganda-larang-warga-jabat-tangan-hingga-pelukan
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
28 May 2026
Korea Selatan Duga Rudal Iran Serang Kapal Kargonya di Selat Hormuz
28 May 2026
Ledakan Tambang di Shanxi China Ungkap Dugaan Pelanggaran Sistemik
27 May 2026
FOTO: Jamaah Haji Melaksanakan Ibadah Lempar Jumrah di Mina
27 May 2026
Momen Prabowo Salat Iduladha dengan Diaspora RI di Paris
27 May 2026
Menlu: Prabowo ke Prancis Penuhi Undangan Macron yang Tertunda
27 May 2026
Ribuan Umat Muslim Salat Iduladha di Masjid Katedral Moskow