Alasan PDIP Pakai Istilah Partai Penyeimbang, Bukan Oposisi Pemerintah
Judul: Alasan PDIP Pakai Istilah Partai Penyeimbang, Bukan Oposisi Pemerintah Jakarta, Politikus muda PDIP, Aryo Seno Bagaskoro mengungkap alasan partainya memilih istilah sebagai...
Jakarta, Politikus muda PDIP, Aryo Seno Bagaskoro mengungkap alasan partainya memilih istilah sebagai partai penyeimbang, bukan oposisi usai memutuskan berada di luar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.Sikap sebagai partai penyeimbang kembali ditegaskan PDIP lewat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I yang digelar pada 10-12 Januari di Ancol, Jakarta Utara.Lihat Juga :Politikus PDIP: Megawati Sentil Demokrasi RI Kayak Senam Poco-Poco
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sudah menyampaikan suatu bentuk pandangan bahwa PDI Perjuangan tidak akan-dalam sikap waktu itu-tidak di dalam pemerintahan Pak Prabowo," kata Seno dalam jumpa pers di lokasi, Minggu (11/1).Seno menjelaskan, sikap politik tersebut di luar urusan mendukung atau menolak setiap program pemerintah.
Pilihan RedaksiRocky Gerung Beber Detail Pidato Megawati di HUT PDI PerjuanganKaesang PSI Gaungkan Jateng 'Kandang Gajah', Hasto PDIP Buka SuaraDia berkata, PDIP akan mendukung semua program yang baik dari pemerintah. Begitu pula sebaliknya, partainya tak akan segan mengkritik program atau kebijakan yang tak sesuai kehendak rakyat.Menurut dia, rasionalitas sikap PDIP itulah yang membedakan status antara partai oposisi dan partai penyeimbang."Di dalam konstitusi kita, kita tidak mengenal yang namanya oposisi. Karena kalau kita pakai sistem secara berpikir oposisi, apa pun yang dilakukan pemerintah pasti kami akan anggap salah," kata Seno.Dengan menjadi oposisi, ujar dia, PDIP memposisikan diri sebagai cermin atau antitesis dari setiap kebijakan atau program pemerintah. Berbeda dengan penyeimbang, di mana PDIP siap menjadi mitra strategis maupun mitra kritis."Partai politik penyeimbang itu bisa berperan sebagai mitra kritis, bisa juga berperan sebagai mitra strategis," katanya.
Di sisi lain, menurut Seno, Indonesia merupakan negara yang menganut sistem presidensial, yang tak mengenal istilah koalisi. Dalam presidensial, hanya ada istilah berada di dalam atau di luar pemerintahan."Di dalam pemerintahan Indonesia yang menganut asas presidensial, maka tidak ada oposisi. Maka sebetulnya kalau ditarik lagi logikanya, tidak ada koalisi. Yang ada adalah di dalam atau di luar pemerintahan," ujar Seno.Lihat Juga :Ganjar Ungkap Topik Rakernas PDIP, Pilkada hingga Kebebasan BerbicaraDia mencontohkan sikap PDIP yang menolak wacana pemilihan kepala daerah (pilkada) lewat DPRD. Menurut dia, prinsip pemilu adalah kedaulatan rakyat. Oleh karena itu, tak semestinya hak rakyat untuk memilih calon pemimpinnya dirampas."Kita memasuki rezim pemilu, bukan rezim elit, bukan rezim pemilihan secara tertutup dari segelintir orang. Loh rakyat ini lima tahun sudah berbagai kesempatannya untuk hidup layak itu banyak kesulitan, masa haknya untuk menyuarakan saja dia mau memilih siapa," katanya. (thr/els)
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260111151425-32-1315823/alasan-pdip-pakai-istilah-partai-penyeimbang-bukan-oposisi-pemerintah
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
08 Apr 2026
Mensesneg Pastikan Belum Ada Rencana Reshuffle Kabinet di Waktu Dekat
08 Apr 2026
Kawal Gugatan UU TNI di MK, BEM UI Tolak Kebangkitan Negara Militer
08 Apr 2026
Sidang UU TNI Beber Kesaksian Intervensi Tentara ke Serikat Pekerja
08 Apr 2026
Hakim Soroti Setoran Rp425 Juta ke Adik Ipar Jokowi di Kasus DJKA
08 Apr 2026
Bupati Bekasi Ade Kuswara Tak Tahu Ada Rumah Saksi Dibakar
08 Apr 2026
Polda Sumsel Serahkan 497 Kendaraan Hasil Kejahatan kepada Pemilik Sah