ISESS Soroti Tantangan Pemerintah Perkuat Alutsista Dalam Negeri
Judul: ISESS Soroti Tantangan Pemerintah Perkuat Alutsista Dalam Negeri Jakarta, Pengamat sekaligus Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi ...
Jakarta, Pengamat sekaligus Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi menyoroti langkah pemerintah yang tengah berupaya menyelaraskan kebutuhan TNI akan alat utama sistem senjata (alutsista) dengan kemampuan industri dalam negeri.Hal Ini dilakukan agar pengadaan tidak hanya memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga memperkuat kapasitas produksi industri pertahanan dalam negeri secara nasional."Pemerintah mendorong agar industri pertahanan, baik BUMN maupun swasta, tidak berhenti pada fungsi perakitan. Arah kebijakannya adalah mendorong penguasaan teknologi, peningkatan kualitas SDM, dan penguatan rantai pasok dalam negeri secara bertahap dan berkelanjutan," kata Fahmi mengutip Antara, Jumat (23/1).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Fahmi, salah satu tantangan utama mengembangkan industri pertahanan dalam negeri yakni memastikan kemandirian tidak berhenti pada tingkat perakitan.Lihat Juga :Pergantian Doktrin Perang TNI Relevan, Anggaran Bisa Jadi Penghalang
Dia menilai pengembangan industri pertahanan harus sesuai dengan UU Industri Pertahanan yang secara eksplisit mengamanatkan penguasaan teknologi, penguatan rantai pasok dalam negeri, serta peningkatan kualitas SDM sebagai tujuan jangka panjang.Dari segi fiskal, Fahmi menilai pembiayaan industri pertahanan tidak dapat sepenuhnya bergantung pada anggaran dan pendapatan belanja negara (APBN) saja.Menurut dia, anggaran pertahanan juga harus mengakomodasi pemeliharaan alutsista, kesiapan operasional, dan belanja rutin lainnya.Karena itu, kebijakan pemerintah mendorong pemanfaatan skema pembiayaan alternatif merupakan langkah rasional dan sesuai dengan praktik internasional.Saat ini pemerintah mulai mendorong skema pembiayaan alternatif. Salah satunya melalui kerja sama dengan perbankan nasional, khususnya bank BUMN, untuk mendukung pembiayaan proyek industri pertahanan."Dukungan sektor keuangan terhadap industri pertahanan sudah mulai terlihat, terutama dari perbankan nasional dan bank BUMN. Beberapa skema pembiayaan dan kerja sama sudah dijajaki untuk mendukung industri strategis ini," jelas Fahmi.Lihat Juga :Prabowo Perintahkan Pembelian 200 Helikopter Mulai Tahun DepanTerpisah, Direktur Teknik PT Nanggala Kencana Rekatama Indonesia (PT NKRI), Zaenal, menekankan bahwa pengalaman historis Indonesia menunjukkan risiko dari ketergantungan terhadap pemasok asing, termasuk potensi embargo dan gangguan rantai pasok akibat konflik geopolitik.Karenanya, dia mendorong adanya kemandirian industri pertahanan untuk menciptakan sistem pertahanan yang kuat dan maju.Selain itu, kemampuan mandiri di sektor pertahanan menciptakan deterrent effect bagi pihak luar karena Indonesia dinilai mampu memasok kebutuhan militernya sendiri tanpa khawatir aksesnya ditutup oleh negara lain."Hal ini meningkatkan posisi tawar Indonesia secara diplomatis. Pemerintah Indonesia telah menempatkan kemandirian pertahanan sebagai visi strategis jangka panjang," ucapnya.Lihat Juga :TNI AU Siapkan 3.650 Prajurit untuk Pasukan Perdamaian ke Gaza (antara/dal)
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260123220534-12-1320424/isess-soroti-tantangan-pemerintah-perkuat-alutsista-dalam-negeri
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
15 Feb 2026
Suami Anggota DPRD Jateng Ditembak OTK di Pekalongan
15 Feb 2026
Eks Kapolres Bima Kota AKBP Didik Positif Narkoba
15 Feb 2026
Polisi Buru Bandar Narkoba di Kasus Eks Kapolres Bima AKBP Didik
15 Feb 2026
Tersangka Kasus Narkoba AKBP Didik Jalani Sidang Etik 19 Februari
15 Feb 2026
Eks Kapolres Bima Kota AKBP Didik Terancam Penjara Seumur Hidup
15 Feb 2026
Komisi III DPR Sentil Jokowi Klaim Tak Teken RUU KPK