Nasional 17 Feb 2026 5 views

Ketum Muhammadiyah Ajak Sikapi Perbedaan Ramadan dengan Cerdas

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengimbau umat Islam untuk menyikapi perbedaan awal puasa 1 Ramadan 1447 Hijriah atau tahun 2026 dengan cerdas dan toler...

Ketum Muhammadiyah Ajak Sikapi Perbedaan Ramadan dengan Cerdas
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengimbau umat Islam untuk menyikapi perbedaan awal puasa 1 Ramadan 1447 Hijriah atau tahun 2026 dengan cerdas dan toleran. Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari, sementara pakar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi 1 Ramadan baru akan dimulai pada Kamis, 19 Februari.

Haedar pada Selasa (17/2) menyatakan bahwa perbedaan ini adalah ruang ijtihad sehingga tidak perlu saling menyalahkan atau merasa paling benar. Ia menekankan pentingnya menyikapi perbedaan ini dengan arif dan bijaksana, mengingat tujuan utama adalah meningkatkan takwa, baik secara pribadi maupun kolektif.

Oleh karena itu, Haedar meminta umat Islam untuk fokus pada hal substantif, yaitu bagaimana puasa dapat menjadi jalan untuk mencapai ketakwaan sejati. Dengan demikian, hubungan sosial kemasyarakatan juga akan membaik melalui penyebaran kebaikan bagi sesama dan lingkungan. Ia mengingatkan agar berbagai urusan tidak mengganggu tujuan utama mencapai takwa. Menurutnya, umat Islam akan meraih ketakwaan dan kemuliaan dengan bekal kecerdasan dan keimanan.

Haedar juga berharap Puasa Ramadan 1447 H dapat dijalankan dengan tenang, damai, dan penuh kematangan, tanpa terganggu oleh hiruk pikuk kehidupan, termasuk perbedaan awal Ramadan. "Dalam konteks yang lebih luas, Ramadan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menebar segala kebaikan yang makin luas," ujarnya.

Puasa Ramadan juga diharapkan dapat menjadi jalan untuk menjaga dan memperbaiki akhlak harian serta akhlak publik seorang muslim, sehingga menjadi wahana perbaikan karakter dan kemampuan umat Islam untuk menjadi umat terbaik.

Haedar berpandangan bahwa jika umat muslim stagnan dan tidak "naik kelas" menjadi umat terbaik, maka kejayaan, martabat, dan upaya menciptakan peradaban maju akan sulit dicapai. Ia juga menekankan agar umat Islam tidak menjadi fatalis dan menyerah pada nasib, terutama dalam konteks ekonomi yang masih memerlukan perjuangan dan kerja keras untuk setara dengan peradaban lain.

"Meraih kualitas hidup umat Islam terutama di bidang ekonomi sungguh memerlukan kesungguhan. Puasa justru melatih kita untuk hidup efisien, prihatin, hidup untuk bisa hemat, dan lain sebagainya. Dan itu menjadi pangkal kita maju di bidang ekonomi," jelasnya.

Dalam konteks sosial yang lebih luas, Haedar berharap umat Islam menjadi perekat sosial. "Puasa itu melatih kita untuk tahan diri, bahkan di saat ada pihak yang mengajak kita berkonflik atau bertengkar," tambahnya.

Bagi Haedar, puasa lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga membendung nafsu dan hasrat yang merusak kerukunan sosial, termasuk mengajari muslim untuk bersabar. Terlebih dengan adanya media sosial yang sering memancing amarah, kebencian, dan perselisihan. "Dengan berbagai macam informasi, postingan, yang kira-kira memberi suasana panas dalam kehidupan sosial kebangsaan kita. Maka puasa harus menjadi kanopi sosial kita," katanya.

Terakhir, Haedar berpesan agar puasa Ramadan menjadi waktu untuk mencapai kemajuan hidup, selaras dengan substansi takwa yang ingin diraih setiap muslim yang berpuasa demi meraih segala keutamaan hidup di atas fondasi tauhid. "Takwa itu juga puncaknya adalah perbaikan martabat hidup tertinggi, maka umat Islam harus menjadi umat yang maju dalam berbagai kehidupan, baik spiritual, moral, sosial, ekonomi, politik dan berbagai aspek yang lain menuju peradaban utama," pungkasnya.

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar sidang isbat pemantauan hilal 1 Ramadan pada sore hari ini, Selasa (17/2). Menteri Agama Nasaruddin Umar akan mengumumkan hasil sidang tersebut. Peneliti BRIN, Thomas Djamaluddin, memprediksi bahwa awal puasa atau 1 Ramadan 1447 Hijriah antara pemerintah dan Muhammadiyah akan berbeda.

Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Sementara itu, pemerintah yang baru menggelar sidang isbat pada Selasa (17/2) sore, diperkirakan Thomas akan menetapkan awal Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026. Menurut Thomas, perbedaan penentuan awal Ramadan kali ini disebabkan oleh perbedaan penggunaan dua hilal, yaitu hilal global dan hilal lokal. "Perbedaan kali ini berbeda dengan yang sebelumnya karena beda metode (hisab vs rukyat) atau beda kriteria (Wujudul Hilal vs Imkan Rukyat). Perbedaan kali ini karena beda hilal global vs hilal lokal," kata Thomas, Selasa (17/1).

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260217143812-20-1328930/ketum-muhammadiyah-ajak-sikapi-perbedaan-ramadan-dengan-cerdas
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.