Nestapa Korban Banjir Aceh, Segan Ngungsi ke Rumah Saudara saat Puasa
Nestapa Korban Banjir Aceh, Segan Mengungsi ke Rumah Saudara saat Puasa Bencana banjir di Sumatera telah menyebabkan banyak warga Aceh terpaksa berpindah-pindah tempat mencari lok...
Bencana banjir di Sumatera telah menyebabkan banyak warga Aceh terpaksa berpindah-pindah tempat mencari lokasi yang aman dan nyaman, setelah rumah mereka hanyut atau tertimbun longsor. Meskipun ada tenda pengungsian yang didirikan di setiap posko daerah terdampak, tidak sedikit korban yang memilih untuk mengungsi ke rumah saudara atau kerabat, meski dengan perasaan segan, sambil menunggu selesainya pembangunan hunian sementara (huntara).
Salah satu korban, Hasafah, harus menggendong putrinya menyusuri jalan setapak desa yang masih dipenuhi puing-puing bangunan dan retakan aspal, di tengah terik siang dan puasa Ramadan. Suaminya, Mohammad Natsir, mengikutinya dari belakang. Akses menuju Desa Pantan Kemuning, Dusun Pintu Rimba, Kecamatan Timang, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, tempat mereka tinggal saat ini, hanya bisa diakses dengan kendaraan roda dua. Jembatan penghubung empat desa di Kecamatan Timang telah diterjang banjir besar pada 26 November 2025 lalu, dan kini hanya ada jembatan darurat yang dibangun dengan material seadanya.
Natsir dan Hasafah kemudian berhenti di puing-puing yang tersisa dari rumah mereka, yang kini telah rata dengan tanah dan tertimbun lumpur setinggi atap. Tidak ada satu pun barang yang tersisa, hanya kenangan akan rumah yang mereka bangun empat tahun lalu. "Terpukul melihat kondisi rumah dibawa (banjir), kayak gitu. Kami menunggu dari atas bukit melihat sampai rumah kami habis, baru kami naik ke atas kemudian bertempat di sekolah sana," ungkap Hafisah, Minggu (22/2).
Setelah banjir bandang menerjang, Natsir dan Hafisah bersama kedua anaknya mengungsi ke Sekolah Dasar (SD) Impres yang tidak jauh dari desa mereka. Tak lama kemudian, bantuan datang dan mereka pindah ke posko pengungsian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Segan Mengungsi di Rumah Saudara saat Puasa Ramadan
Setelah sekitar satu bulan di posko, Natsir memberanikan diri untuk mengungsi ke rumah adiknya, Muslihadi, yang berlokasi di desa berbeda dan beruntung tidak terdampak bencana. Mendekati Ramadan, Natsir merasa perlu mencari tempat yang lebih nyaman untuk bernaung sementara. Muslihadi dengan senang hati menerima mereka. "Ini kan Bulan Ramadan, jadi enggak mungkin kayaknya di sana malam-malam sahur. Jadi pulang ke tempat saudara," ujar Hafisah.
Kenang Momen Sebelum Banjir
Hafisah mengenang momen Ramadan yang paling ditunggunya, yaitu saat ia menerima pesanan kain dari tetangga untuk dijahit menjadi baju hari raya. "Kalau dulu, Ramadan kami kan jahit baju, setiap hari ada yang orang datang hantar baju, jahit baju. Kalau sekarang kan sudah hilang semua alat kami itu, mesin jahitnya semua," ungkap perempuan 34 tahun tersebut. Mesin jahitnya dan mata pencarian suaminya sebagai pekebun kopi dan palawija kini telah hilang. Hafisah berharap segera mendapatkan tempat tinggal, meskipun harus berpindah dari satu rumah ke rumah lain lagi. "Dulu di rumah sendiri. Sekarang kami menumpang rumah orang, perasaannya beda. Enakan rumah sendiri. Walaupun rumah kami, nggak bisa diingat lagi. Sedih kalau diingat," ujarnya sambil meneteskan air mata.
Saat ini, setidaknya ada 70 kartu keluarga (KK) korban bencana dari Desa Pantang Kemuning yang berada di posko pengungsian di lokasi yang lebih aman, yaitu Desa Tunjang. Sebagian pengungsi, seperti Natsir dan Hafisah, mencari bantuan dari sanak saudara untuk mendapatkan tempat tinggal sementara hingga huntara selesai dibangun.
Masih Ada 4 Ribu Pengungsi di Bener Meriah
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu menunjukkan bahwa Provinsi Aceh mencatat total 32.553 jiwa pengungsi akibat bencana di Sumatera. Kabupaten Bener Meriah menjadi salah satu dari tiga kabupaten dengan jumlah pengungsi terbanyak, di bawah Aceh Utara dan Gayo Lues. Di Bener Meriah, kini ada sekitar 4 ribu pengungsi, sedangkan di Gayo Lues ada 5 ribu pengungsi, dan Aceh Utara mencapai 12 ribu pengungsi.
Total kerusakan rumah akibat bencana hidrometeorologi di Bener Meriah mencapai 1.411 unit, terdiri dari 854 rusak berat, 186 rusak sedang, dan 371 rusak ringan. Saat ini, Pemerintah Kabupaten Bener Meriah berfokus untuk memindahkan pengungsi ke huntara yang ditargetkan rampung pada pekan depan. "Hari ini dari 914 Huntara yang kami bangun, ini sudah hampir 70 persen diisi oleh pengungsi," kata Sekretaris Daerah Kabupaten Bener Meriah, Riswandika Putra.
Penanganan bencana di Sumatera yang kini memasuki tahap kedua akan difokuskan pada pemindahan korban ke huntara, serta pembukaan akses jalan yang terdampak yang hingga kini belum bisa diakses oleh kendaraan roda empat untuk pengiriman logistik dan alat berat. Di Kabupaten Bener Meriah, kerusakan 648 akses jalan dan 649 jembatan yang terdampak kini telah rampung sekitar 70 persen. Pemkab Bener Meriah juga fokus membuka akses jalan menuju pertanian dan perkebunan yang terdampak, terutama karena kopi Gayo sedang memasuki masa panen.
Dengan kondisi yang belum sepenuhnya pulih, proses revitalisasi pascabencana Sumatera diperkirakan memerlukan waktu yang lama, setidaknya sekitar tiga tahun. Kasus seperti Natsir dan Hafisah, serta korban lainnya, diharapkan dapat teratasi karena pemerintah daerah sedang mempercepat pembangunan huntara. Pemda berharap warga tidak perlu lagi mengetuk pintu dari rumah ke rumah demi bisa berteduh. "Harapannya memang dalam Minggu ini seluruh pengungsi wajib masuk Huntara. Kami terus mendorong vendor untuk lebih cepat menyiapkan Huntara," kata Riswandika Putra.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260222135701-20-1330547/nestapa-korban-banjir-aceh-segan-ngungsi-ke-rumah-saudara-saat-puasa
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
12 Apr 2026
SK ASN Palsu Gresik: Korban Bertambah, Mantan PNS Diduga Terlibat
12 Apr 2026
Viral Benda Langit di Malang Diduga Rudal, BMKG Buka Suara
12 Apr 2026
Longsor di Purbalingga: Satu Warga Meninggal Tertimpa Batu Besar
12 Apr 2026
Pohon Tumbang di Tol Jagorawi, Arus Lalu Lintas Padat
12 Apr 2026
Anggota Fraksi PAN Tom Liwafa Raih Gelar Doktor UNAIR, Lulus Cumlaude
12 Apr 2026
Survei LSI: Warga Pilih Presiden Penuhi Janji Kampanye Ketimbang PPHN