Nasional 11 Mar 2026 4 views

Satgas PRR Ungkap Strategi Kunci Relokasi Pengungsi Bencana Sumatra

Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera terus berupaya meningkatkan hunian sementara (huntara) bagi pengungsi bencana di Aceh, Su...

Satgas PRR Ungkap Strategi Kunci Relokasi Pengungsi Bencana Sumatra
Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera terus berupaya meningkatkan hunian sementara (huntara) bagi pengungsi bencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Upaya ini juga dibarengi dengan penyaluran dana tunggu hunian (DTH) untuk mengurangi jumlah pengungsi yang masih tinggal di tenda akibat banjir dan longsor.

Menurut laporan harian Satgas PRR per 10 Maret, sebanyak 14.725 unit huntara telah selesai dibangun dari target 18.697 unit di tiga provinsi terdampak. Aceh memiliki pembangunan huntara terbanyak dengan 12.926 unit dari 16.847 unit yang direncanakan. Di Sumut, 969 unit telah rampung dari 1.020 unit target, sementara di Sumbar, seluruh 830 unit huntara telah selesai dibangun.

Selain itu, Satgas juga membangun hunian tetap (huntap). Sebanyak 1.463 unit huntap sedang dalam pembangunan dari target 36.669 unit, dan enam unit telah selesai.

Bagi korban bencana yang tidak memilih tinggal di huntara, diberikan bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600.000 per bulan selama tiga bulan, sehingga setiap kepala keluarga menerima total Rp1,8 juta. Hingga saat ini, seluruh rekening penerima DTH telah menerima dana bantuan.

Juru Bicara Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Amran, menyatakan bahwa strategi percepatan pembangunan huntara, huntap, dan penyaluran DTH telah secara signifikan mengurangi jumlah pengungsi di tenda. Ia optimistis jumlah pengungsi di tenda akan terus berkurang hingga Idulfitri 2026.

Sementara itu, Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, fokus pada pemulihan konektivitas dengan perbaikan jalan dan jembatan fungsional. Langkah ini merupakan kelanjutan dari pemulihan infrastruktur dasar, yang diharapkan dapat mengembalikan mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.

Tito menyebutkan bahwa sebagian besar jalan nasional dan jalan provinsi di wilayah terdampak sudah dapat digunakan kembali, kecuali satu ruas di Lokop menuju Blangkejeren. Berdasarkan data Satgas PRR per 10 Maret 2026, 2.277 dari 2.520 ruas jalan daerah yang terdampak (sekitar 90%) telah fungsional kembali. Seluruh ruas jalan nasional yang terdampak juga telah berfungsi 100%.

Untuk jembatan, 790 dari 1.180 jembatan daerah yang terdampak (sekitar 67%) telah fungsional kembali, dan seluruh jembatan nasional telah berfungsi sepenuhnya.

Selain perbaikan jalan dan jembatan, pemulihan layanan dasar seperti listrik dan jaringan komunikasi juga telah berlangsung. Pemerintah menyalurkan genset untuk desa-desa yang belum teraliri listrik penuh. Dengan membaiknya akses infrastruktur, aktivitas ekonomi masyarakat juga mulai pulih, dan pasar-pasar kembali beroperasi.

Tito menegaskan bahwa pemerintah akan memprioritaskan penanganan infrastruktur penghubung yang masih bersifat sementara, khususnya jembatan darurat. Jembatan dan jalan-jalan fungsional akan dipermanenkan. Dalam proses ini, pemerintah melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI dan Polri melalui Satgas Jembatan untuk membangun jembatan darurat di titik-titik terisolasi.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260311143929-20-1336846/satgas-prr-ungkap-strategi-kunci-relokasi-pengungsi-bencana-sumatra
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.