Geliat Pengembangan Nuklir di Indonesia, Dirintis Sejak Era Sukarno
Jakarta, Indonesia tengah memproyeksikan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang ditargetkan beroperasi pada 2032.Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Sa...
BRIN juga tengah berfokus pada pengembangan teknologi struktur, sistem dan komponen (SSK) serta keselamatan reaktor nuklir.BRIN menjelaskan Pembangunan PLTN di Indonesia telah dirancang secara bertahap dalam dokumen Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). PLTN Beroperasi 2032, BRIN Butuh 200 Peneliti BaruRUEN menetapkan bahwa kontribusi energi nuklir dalam bauran energi nasional bisa mencapai 4-5 persen pada 2050.Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 menyatakan Indonesia diproyeksi akan membangun dan mengoperasikan PLTN komersial pertama dengan kapasitas 250 megawatt di fase dua atau fase commissioning pada 2030-2034, khususnya 2032."Dalam fase satu atau fase persiapan antara 2025-2029, akan dilakukan penyiapan regulasi dan kelembagaan PLTN. Sehingga, dalam fase keempat - tahun 2040-2045, Indonesia diharapkan dapat melakukan ekspansi operasi PLTN komersial serta kemandirian teknologi PLTN," demikian pernyataan BRIN.Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang dengan fasilitas nuklir.
Semua bermula sejak kepemimpinan Presiden ke-1 RI Ir. Sukarno.Era SukarnoTeuku Reza Fadeli dalam buku Nuklir Sukarno Kajian Awal atas Politik Tenaga Atom Indonesia 1958-1967, mencatat Indonesia adalah satu dari 18 negara panitia persiapan yang mempersiapkan pendirian badan tenaga atom internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA).IAEA adalah badan internasional yang diinisiasi Amerika Serikat dan berada di bawah payung PBB. IAEA dimaksudkan sebagai sarana pengendalian penyebaran senjata nuklir serta mengarahkan agar tenaga atom digunakan untuk tujuan damai.IAEA resmi berdiri 29 Juli 1957.
Satu tahun berselang, Sukarno mendirikan Lembaga Tenaga Atom (LTA) guna melakukan riset nuklir dan mengembangkan potensi teknologi nuklir di Indonesia.Dalam perjalanan awalnya, LTA memiliki landasan pemikiran bahwa Indonesia tak tertarik terhadap senjata nuklir maupun berbagai hal yang menyangkut nuklir sebagai perangkat militer.Hal itulah yang kemudian membuat Indonesia dijanjikan berbagai bantuan asing.Kala itu, AS menjanjikan bantuan sebesar US$350 ribu untuk program riset di bawah perjanjian bilateral Atom for Peace Program. Biaya itu pun digunakan untuk mendanai proyek reaktor atom di Bandung.Dalam rencana lima tahun awal LTA, salah satu proyek awalnya adalah pembangunan reaktor nuklir untuk penelitian, latihan, dan produksi isotop.Reaktor nuklir pertama di Bandung itu bernama TRIGA-Mark II dan diketuai Ir. Djali Ahimsa, proyek pengerjaannya diserahkan ke ITB dengan pengawasan LTA.
Reaktor TRIGA-Mark II berkapasitas 250 KW.Namun, Indonesia bukan hanya menerima bantuan dari AS, tapi Indonesia juga menerima bantuan dari Uni Soviet. Saat itu, dibangun sebuah reaktor tipe IRT-1.000 di dekat Jakarta.Lalu, proyek lain yang dikerjakan dengan bantuan Uni Soviet adalah proyek Subcritical Assembly di Yogyakarta.Lihat Juga :Para Ahli Nuklir Rusia Kunjungi RI, Ada Apa?Suasana perang dingin dan semangat melawan neo-kolonialisme dan neo-imperialisme sedikit banyak menggeser pandangan Sukarno atas senjata nuklir.Pada 1965, LTA direorganisasi menjadi Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) yang juga diiringi dengan pernyataan Sukarno bahwa Indonesia akan memiliki senjata nuklir berupa bom atom.BATAN dibentuk berdasarkan UU No. 31 Tahun 1964 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Tenaga Atom.
BATAN saat itu dikepalai oleh Dr GA Siwabessy yang di kemudian hari dikenal sebagai 'Bapak Atom Indonesia'.Puncaknya, pada Juli 1965, dalam konferensi Muhammadiyah di Bandung, Sukarno melontarkan keinginan Indonesia memiliki senjata nuklir berupa bom atom ."Insya Allah di waktu dekat kita membuat bom atom kita sendiri! Wah, jangan kata, bom atom, bom atoman. Ini apakah kita itu dijadikan agresor-agresor?
Tidak-tidak! bukan untuk agresi, tetapi untuk menjaga kedaulatan kita, menjaga tanah air kita," kata Sukarno dalam pidatonya.Mandek di era SoehartoSukarno lengser sebagai Presiden RI, tampuk kepemimpinan berpindah ke Soeharto, bersamaan dengan itu kebijakan nuklir Indonesia juga ikut bergeser.Di bawah Soeharto, perkembangan energi nuklir di Indonesia mengalami perubahan.Orientasi politik mengenai pengembangan nuklir di bawah Soeharto menekankan pada pengembangan energi nuklir yang didasari dengan tujuan perdamaian di bawah pengawasan ketat dunia internasional.Pada 1967, Soeharto menandatangani perjanjian keamanan dengan IAEA. Persetujuan itu menunjukkan komitmen Indonesia dalam menggunakan teknologi nuklir untuk kegiatan perdamaian.Pada era Soeharto juga sejumlah fasilitas tambahan untuk program penelitian dan pengembangan dibangun.Pada 1979, Indonesia membangun reaktor penelitian kedua di Yogyakarta.
Reaktor ini disebut reaktor buatan dalam negeri karena proses desain dan konstruksinya dilakukan oleh ilmuwan dan insinyur Indonesia dengan bantuan pengawasan dari General Atomic (GA).Kemudian pada tahun 1987 reaktor penelitian ketiga (GA Swabesy) didirikan dengan daya relatif tinggi untuk sebuah reaktor penelitian.Meskipun pembangunan reaktor penelitian pada masa Soeharto telah dilakukan, namun dalam perkembangannya, pembangunan PLTN ini pada akhirnya tidak terealisasi.BATAN selaku pihak yang berperan dalam rencana pengembangan PLTN telah melakukan berbagai upaya dan pengajuan kepada pemerintah. Namun proposal yang mereka ajukan selalu ditolak Soeharto.Geliat nuklir era reformasiMemasuki era reformasi, Indonesia juga masih cukup menaruh perhatian atas pemanfaatan teknologi nuklir.Di bawah kepemimpinan BJ. Habibie sebagai Presiden RI, ia mengirimkan puluhan putra-putri Indonesia ke luar negeri untuk studi lanjut di bidang nuklir.Lihat Juga :Indonesia Punya Bahan Baku Nuklir 24.112 Ton di Melawi KalbarSelain itu, ia juga menguatkan fasilitas riset di Serpong, fokus riset nuklir itu terpusat di Kawasan Sains dan Teknologi BJ Habibie di Serpong, Tangerang Selatan.
Reaktor Serbaguna GA Siwabessy (30 MW) di lokasi itu dioptimalkan untuk uji material, produksi radioisotop, dan penelitian teknologi nuklir.Memasuki era Jokowi, kebijakan nuklir bertransformasi dari tidak memprioritaskan menjadi mendorong nuklir sebagai bagian dari bauran energi baru terbarukan (EBT) dan pertambangan.Hal itu terlihat dari target pemerintah dalam percepatan pembangunan PLTN pertama pada 2032-2034 dan membentuk tim percepatan Ketua Tim Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) atau Nuclear Energy Program Implementing Organization (NEPIO) yang diketuai oleh Luhut Binsar Pandjaitan yang menjabat sebagai Menko Marves saat itu.Selain itu, Jokowi juga menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 52 Tahun 2022 yang menyatakan bahan baku nuklir, mulai dari uranium dan thorium menjadi bagian dari industri pertambangan di Indonesia. Pada hari ini, BRIN memiliki tiga kompleks pengembangan nuklir di Indonesia.Pertama, di Serpong, yakni reaktor Serba Guna GA Siwabessy (RSG-GAS) yang berada di KST BJ Habibie Serpong Tangerang Selatan.
Instalasi Reaktor Serba Guna GA Siwabessy merupakan reaktor riset terbesar se-Asia Tenggara dengan
kapasitas nominal yang dapat dibangkitkan sebesar 30 MW Thermal.RSG-GAS berperan dalam layanan rumah sakit, industri, laboratorium, universitas, dan lembaga riset di dalam maupun luar negeri.Reaktor ini mendukung produksi radioisotop medis dan industri, pengujian material seperti Power Ramp Test, serta penelitian dan pengembangan elemen bakar nuklir.Selain itu, RSG-GAS digunakan untuk radiografi, analisis aktivasi neutron, dan neutron scattering yang penting bagi berbagai bidang riset.Reaktor ini juga dimanfaatkan untuk pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia, serta aplikasi khusus seperti pewarnaan batu permata.Lihat Juga :Kementerian ESDM Kebut PLTN: Lagi Tawar-menawar Reaktor NuklirKedua, kompleks fasilitas nuklir itu berada di Yogyakarta, yakni Reaktor TRIGA Kartini. Reaktor ini merupakan reaktor riset non-daya tipe TRIGA Mark II yang digunakan sebagai fasilitas pelatihan, penelitian, pengembangan, dan pendidikan.Reaktor ini bertipe TRIGA Mark II dan memiliki daya reaktor nominal sebesar 250 kW untuk desain dan 100 kW sesuai izin operasi. Reaktor ini digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk penelitian fisika reaktor, analisis aktivasi, serta pendidikan dan pelatihan.Terakhir, kompleks fasilitas nuklir di Bandung, Reaktor Triga 2000, pada tahun 1971 daya reaktor ditingkatkan dari 250 kW menjadi 1000 kW dan telah dioperasikan dengan keadaan normal dan aman sampai tahun 1996 untuk tujuan produksi radioisotop, penelitian dan pendidikan. Pada April 1996 dilaksanakan program peningkatan daya dari 1000 kW menjadi 2000 kW.Dukungan risetSelain itu, BRIN juga memiliki sejumlah organisasi riset yang membawahi isu pengembangan teknologi nuklir, yakni Organisasi Riset Teknologi Nuklir (ORTN)Mengutip dari situs resmi BRIN, ORTN merupakan salah satu organisasi riset di BRIN yang berfokus pada riset dan inovasi dalam bidang ketenaganukliran.ORTN mempunyai tugas yaitu melakukan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi di bidang Ketenaganukliran dan Penyelenggaraan Ketenaganukliran.ORTN sendiri dibagi menajdi tujuh pusat riset, meliputi Pusat Riset Teknologi Akselerator, Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi, Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir, Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri, Pusat Riset Teknologi Analisis Berkas Nuklir, Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif, dan Pusat Riset Teknologi Keselamatan Metrologi dan Mutu Nuklir.Kepala BRIN Arif Satria menargetkan PLTN di Indonesia akan beroperasi pada 2032 yang diproyeksikan berkapasitas 7 GWe pada 2040 dan 35-45 GWe di 2060.Ia juga menyampaikan pemerintah telah memasukkan PLTN dalam peta jalan energi nasional sebagai baseload yang handal, aman, terjangkau dan bersih."Langkah selanjutnya pemerintah juga tengah menyiapkan NEPIO nuclear energy program implementing organization, serta tapak tapak yang bisa menjadi alternatif pembangunan PLTN sesuai demand yang ada," kata Arif kepada .com, Selasa (12/5).Opsi reaktor nuklir IndonesiaSelain itu, ia menyebut saat ini BRIN tengah mengkaji dan siap mendukung pemilihan teknologi yang aman dan selamat, baik itu SMR (Small Modular Reactors) maupun reaktor skala besar.Arif juga menyampaikan peralihan ke tenaga nuklir juga makin menemukan relevansinya hari ini.Ia menyampaikan hal itu bertalian dengan tantangan perubahan iklim, dan kebutuhan beban dasar atau baseload yang andal dan capacity factor tinggi.Arif menyampaikan PLTN sangat strategis untuk mencapai net zero emission 2060 karena menghasilkan listrik besar dengan emisi rendah."Banyak sekali produk-produk juga yang menghendaki supply listrik yang green. Urgensi ini harus diikuti dengan kesiapan regulasi, keselamatan, dan penerimaan publik," ujar dia.Lihat Juga :Dari mana Indonesia Dapat Bahan Radioaktif untuk PLTN?Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN Syaiful Bakhri menjelaskan saat ini BRIN juga memiliki 28 tapak area yang tersebar mulai dari Sumatra, Jawa, Sulawesi, hingga Kalimantan.Ia menyampaikan BRIN telah meneliti ke-28 tapak area itu yang dinilai berpotensi dibangun PLTN lantaran di sana berpotensi ada demand atau permintaan, lalu daerahnya yang secara seismik, hingga meterologi dan hidrologinya dinilai memenuhi syarat untuk dibangun PLTN."Itu tapak PLTN yang kita sodorkan kepada pemerintah sebagai alternatif kalau di situ mau dibangun, nah tapak itu bisa menjadi area PLTN yang memenuhi syarat untuk keselamatan, belum tentu di 28 itu," ucap Syaiful.Perihal kesiapan sumber daya manusia, Syaiful menyebut Indonesia telah merintis sejak lama.Ia menyampaikan secara nasional BRIN telah bekerjasama dengan universitas dan politeknik terkait.Syaiful menargetkan hal itu dapat menjadi peta jalan dan strategi penyiapan SDM PLTN, dari seluruh aspek, baik tenaga kerja konstruksi, operator, supervisor, regulator, tenaga terampil engineer, researcher, dan scientist sejak fase awal perencanaan sampai fase operasi dan dekomisioning."BRIN juga telah menyiapkan berbagai skema pengembangan kompetensi dan beasiswa, serta vokasi Poltek nuklir dengan lulusan tiap tahun kurang lebih 100 mahaiswa, siap mendukung pembangunan sampai operasi PLTN," ucapnya.
Seberapa Siapkah Indonesia Punya PLTN?
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260513212406-20-1358461/geliat-pengembangan-nuklir-di-indonesia-dirintis-sejak-era-sukarno
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
29 May 2026
PKS Salurkan Hewan Kurban hingga ke Daerah Banjir Sumatra
29 May 2026
Pecah Ban, Ambulans Bawa Jenazah Tabrak Rumah Warga di Jembrana Bali
28 May 2026
Rumah Youtuber di Bone Dibobol Maling, Emas 500 Gram Raib
28 May 2026
Pemilik Hanania Travel Dipolisikan Terkait Dugaan Penipuan Umrah
28 May 2026
Mulai Kunjungan di Paris, Prabowo Disambut di Istana Elysee
28 May 2026
Tito Karnavian Ungkap Tahapan Penanganan Pascabencana Sumatera