Kiamat Ketiga Timnas Italia: Revolusi Setengah Mati Gli Azzurri
Judul: Kiamat Ketiga Timnas Italia: Revolusi Setengah Mati Gli Azzurri Jakarta, Tak ada yang lebih pahit dari gagal ke Piala Dunia bagi tim nasional sebuah negara. Dan, bagi Itali...
Jakarta, Tak ada yang lebih pahit dari gagal ke Piala Dunia bagi tim nasional sebuah negara. Dan, bagi Italia, gagal ke Piala Dunia 2026 adalah kiamat ketiga.Gli Azzurri, julukan Italia, adalah juara empat kali Piala Dunia. Gagal ke Piala Dunia tentu saja bukan tradisi. Kini, gagal ke Piala Dunia, sepertinya sudah menjadi budaya sepak bola Italia.Italia gagal ke Piala Dunia 2018 saat Lamine Yamal masih berusia tujuh, lantas gagal ke Piala Dunia 2022 ketika Lionel Messi sudah tak di Barcelona, dan kini gagal ketiga kalinya secara beruntun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pilihan RedaksiTop 3 Sport: Ranking Indonesia Naik, Malaysia Kalah, Italia GagalPengamat: Identitas Permainan Timnas Terlihat, Ole Romeny Beri WarnaProtes Keras, Pemain Bosnia U-21 Tolak Jabat Tangan dengan IsraelApa yang salah dengan Italia? Bukankah pembinaan di Italia berjalan lancar. Lihatlah, Italia U-20 masuk semifinal tiga kali dalam satu dekade terakhir Piala Dunia U-20.Bahkan, Italia U-20 jadi runner up Piala Dunia U-20 2023. Namun, siapa dari skuad Piala Dunia U-20 yang namanya melambung? Nyaris tak ada. Mungkin hanya Pio Esposito.
Italia U-17 juga tak kalah bersinar. Pada 2025 meraih peringkat ketiga Piala Dunia U-17 dan setahun sebelumnya juara Piala Eropa U-17. Generasi muda Italia punya talenta.Dengan prestasi tim usia muda, timnas Italia seharusnya tak kekurangan talenta untuk bersaing di level dunia. Lantas, mengapa Italia bisa tak lolos Piala Dunia tiga edisi beruntun?Kompetisi atau Serie A jadi kata kuncinya. Saat ini, bisa dibilang, Serie A sedang 'terjajah' dibanding satu dekade sebelumnya. Saat ini nama-nama besar Serie A bukan dari Italia.
Pada era kejayaan Serie A pada awal milenium, banyak bintang dunia bermain di Liga Italia, tetapi bintang-bintang lokal tak kalah benderang. Dari kiper hingga striker, ada nama besar.Sebut saja Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Andrea Pirlo, hingga Alessandro del Piero. Selepas Piala Dunia 2006, setelah juara keempat kalinya, sepak bola Italia mengalami degradasi.Dalam empat musim terakhir, jumlah pemain asing Italia lebih tinggi dari pemain lokal. Musim ini misalnya, dari total 534 pemain, 366 (69,5 persen) di antaranya pemain asing.Pemain-pemain muda Italia, yang bersinar di kategori usia, tak mendapat kepercayaan di klub. Mereka kehilangan menit bermain setelah U-21. Ini hampir sama dengan situasi di Liga Inggris.Namun, ia semua hanya alibi. Yang pasti Italia telah kehilangan akar sejarahnya sebagai kiblat sepak bola dunia. Reformasi atau bahkan revolusi harus segera dilakukan.Baca analisis lanjutannya di halaman berikutnya >>> [Gambas:Video CNN]
Sepak bola Italia jalan di tempat. Begitu narasinya. Saat strategi sepak bola dunia berkembang, Italia masih tradisional; catenaccio; ortodoks; kolot.Skema tiga bek Gennaro Gattuso jadi contoh nyata. Pelatih yang menjadi salah satu generasi emas Italia saat juara Piala Dunia 2006 ini tak menghasilkan ide-ide sepak bola baru.Gattuso seperti teks buku pelajaran sejarah yang menulis tanggal-tanggal. Kaku dan tak bisa dibantah. Ini berbeda dengan Spanyol dan Jerman yang terus melahirkan ideologi baru.Pilihan RedaksiSiapa Tim dengan Peringkat Terendah yang Lolos ke Piala Dunia 2026?Top 3 Sports: Irak Lolos ke Piala Dunia 2026, Janice Tjen TersingkirLolos Piala Dunia 2026, Irak Masuk Grup NerakaKualitas Gattuso, sebagai pelatih nir-prestasi, kecuali Copa Italia 2019/2020 bersama Napoli, digugat. Pria temperamen ini dianggap belum pantas menangani Italia saat perebutan tiket Piala Dunia 2026.Namun, nasi sudah menjadi bubur. Semua nama bisa disalahkan, termasuk Bastoni yang kena kartu merah. Mengkambinghitamkan nama-nama adalah cara termudah mencari pembenaran.Narasi yang sama tertulis dan diulas pada 2018 dan 2022. Italia sebagai representasi Romawi yang gagah dan perkara, saat ini tak tercermin dalam diri para pemain dan pelatihnya.Revolusi yang digaungkan suporter, dari ultras hingga tifosi, setengah mati. Akar rumput sepak bola Italia menuntut revolusi dengan setengah mati, tetapi elitenya malah membuatnya setengah mati.Lihatlah, klub sepak bola Italia sudah rontok di pentas-pentas kontinental. Tidak ada lagi yang bertahan dalam Liga Champions dan Europa League, kecuali Bologna.Kritik pelatih Como 1907, Cesc Fabregas, bahwa sepak bola Italia kolot, dan tidak percaya pemain muda, akhirnya terbukti. Fabregas dikutuk, tetapi pernyataannya kini kian nyata.Sepak bola modern yang lebih atraktif tak ingin dijadikan simbol oleh klub-klub Italia. Dampaknya, pemain yang ada kurang bisa bersaing dalam level internasional. Di klub maupun tim nasional.Memang sepak bola Italia mengalami kemunduran, tetapi bukan catennaccio yang salah. Filosofi sistem bertahan gerendel tak perlu dihapus. Hanya perlu dipoles dan disepuh lagi.Tugas siapakah itu? FIGC. Federasi sepak bola Italia ini harus bisa melahirkan pelatih visioner. Kawah candradimuka Centro Tecnico Federale di Coverciano, Florence perlu direvolusi juga.Italia sudah kehilangan tradisi ke Piala Dunia. Ini kiamat bagi sepak bola Italia. Dan, kiamat seperti ini tidak bisa diperbaiki kecuali dengan revolusi setengah mati.[Gambas:Video CNN]
Add
as a preferred source on Google
Bukan Filosofinya yang Ketinggalan Zaman
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20260402083028-142-1343571/kiamat-ketiga-timnas-italia-revolusi-setengah-mati-gli-azzurri
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
06 Apr 2026
Piala AFF Futsal: Peluang Timnas Indonesia Jadi Penguasa Asia Tenggara
06 Apr 2026
Klasemen Akhir Seri Surabaya: Bhayangkara dan Phonska Plus Teratas
06 Apr 2026
Jadwal Siaran Langsung Indonesia vs Brunei di Piala AFF Futsal 2026
06 Apr 2026
Hasil Liga Italia: Tujuh Gol Tercipta, Inter Milan Lumat AS Roma
06 Apr 2026
Jadwal Siaran Langsung Bali United vs PSBS dan Persik vs Persijap
06 Apr 2026
Gol ke Atletico Bawa Lewandowski Samai Rekor Legenda Barcelona