Final Liga Champions: Kawin Gelar Arsenal atau Dijegal PSG?
Jakarta, Kebahagiaan berlipat ganda akan meluap bagi Gooners jika Arsenal juara Liga Champions 2025/2026 dengan mengalahkan Paris Saint-Germain (PSG) dalam final di Stadion Puskas...
Resmi: Igor Tolic Jadi Pelatih Persib Gantikan Bojan HodakAlasan Persib Ganti Bojan Hodak dengan Igor TolicProfil Igor Tolic, Pelatih Baru Persib BandungPencapaian tertinggi Arsenal di Liga Champions sebelumnya adalah jadi finalis pada 2006. Ketika itu Thierry Henry dan kawan-kawan terpaksa gigit jari karena kalah dari Barcelona.
Trauma sebagai runner-up seakan menghantui penggemar The Gunners. Sebelum tumbang di partai puncak Liga Champions 2005/2006, Arsenal pernah kecewa berat kalah adu penalti lawan Galatasaray di final UEFA Cup 1999/2000.Rasa sakit terus-menerus menerpa penggemar The Gunners. Kalah di final Liga Europa 2018/2019 salah satunya. Belum lagi runner-up tiga musim beruntun pada 2023 hingga 2025.Stigma sudah terkikis setelah juara Liga Inggris musim ini. Bahkan cap langganan runner-up bisa musnah apabila mampu menumbangkan PSG di final pentas Eropa.Namun misi ini bukan perkara mudah. PSG adalah juara bertahan Liga Champions. Dengan kembali melangkah ke final, nampak jelas konsistensi armada Luis Enrique bukan kaleng-kaleng.PSG juga sudah mengamankan gelar Ligue 1 lebih cepat. Juara liga domestik membuktikan sebuah tim mampu menjaga kualitas dari awal hingga akhir musim.Kemampuan manajerial Luis Enrique patut diacungi jempol. Sebab tak ada habisnya pemain bintang PSG cedera hampir di setiap pekannya. Bulan ini saja sudah bertambah empat nama besar masuk ruang medis yaitu Nuno Mendes, Willian Pacho, Warren Zaire-Emery, dan Ousmane Dembele.Kecuali Ousmane Dembele, tiga nama yang disebut sudah absen dalam tiga laga. Besar harapan nama-nama ini bisa prima di final akhir pekan ini. Termasuk Achraf Hakimi yang sudah menepi sebanyak lima laga terakhir.Situasi serupa juga dialami kubu asuhan Mikel Arteta. Jelang laga penentuan, empat sosok kunci seperti Riccardo Calafiori, Ben White, Jurrien Timber, dan Mikel Merino dilaporkan sedang bermasalah pada fisiknya.Dengan kondisi sama-sama pincang ini, Arteta dan Enrique perlu mencari cara. Siapa bakal juara?Baca lanjutan analisis ini di halaman berikutnya>>>
Kedalaman skuad membuat Les Parisiens kuat. Ini jadi salah satu alasan PSG lebih diunggulkan menang atas Arsenal di final.Tak ada Nuno Mendes di bek kiri, masih ada Lucas Hernandez. Sempat tak ada Vitinha di lini tengah, tapi hadir Joao Neves dan Warren Zaire-Emery.Di bek kanan selama tak ada Achraf Hakimi, Zaire-Emery jadi pilihan. Marquinhos juga mampu ditempatkan di kanan. Keterampilan tambal sulam ini membuat PSG sulit terbendung.Pilihan RedaksiEmil Audero Jadi Kiper dengan Penyelamatan Terbanyak di Serie ASingapore Open 2026 Mulai Hari Ini: 5 Wakil Indonesia Main, Ada AlwiIgor Tolic Pernah Bawa Persib Menang Besar dan Tertunduk KalahItu belum bicara lini depan yang diperkuat Ousmane Dembele, Kvhicha Kvaratskhelia, Bradley Barcola, Desire Doue, dan Goncalo Ramos. Hilang satu nama, maka nama lain menggantikan dengan kualitas yang sepadan.Belum lagi bicara rata-rata usia skuad PSG (24,1 tahun) membuat tim ini diproyeksikan bisa bersaing dalam waktu lama. Maka tak heran Les Parisiens kembali berada di top performa.Sekarang bicara skuad Arsenal. Dengan rata-rata usia 26,3 tahun, komposisi pemain terlihat lebih matang. Namun Arteta kerap kesulitan dalam mencari alternatif dalam menghadapi badai cedera.Ini terlihat dari tiga musim beruntun sebagai runner-up, Arsenal kedodoran di akhir musim kompetisi. Barulah di Premier League 2025/2026, The Gunners mampu belajar dari kesalahan.Kini jumlah pemain cedera Arsenal tak lebih banyak dari sang lawan. Bahkan Jurrien Timber dan Mikel Merino diproyeksikan bisa kembali prima jika tak ada aral melintang.Situasi ini mestinya menggugah Arteta untuk mengerahkan kekuatan lebih padu. Namun agaknya juru taktik Spanyol itu bakal bermain pragmatis dalam membendung gempuran PSG.Bukan tanpa sebab, PSG di bawah kendali Luis Enrique menjelma sebagai tim atraktif. Pola 4-3-3 racikannya menerapkan high press ketat bahkan sesaat setelah sepak mula.Cara unik pemain PSG melakukan kick off jadi buktinya. Bola dibuang jauh ke zona lawan agar gerombolan tim bisa maju ke zona lawan lebih cepat. Hal serupa diterapkan saat rival menguasai bola. Cara ini efektif berbuah deretan gelar, namun buyar kala berhadapan dengan Chelsea di final Piala Dunia Antarklub.Arsenal bisa menyontoh cara Chelsea menjinakkan PSG dengan bermain hati-hati plus maksimal betul dalam memanfaatkan peluang. Niscaya, juara Liga Champions untuk pertama kalinya bukan lagi sekadar angan-angan.
PSG Lebih Diunggulkan, tapi Arsenal Memperjuangkan Harapan
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20260520230834-142-1360586/final-liga-champions-kawin-gelar-arsenal-atau-dijegal-psg
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
28 May 2026
Masalah Kebugaran Pemain Hantui Argentina Jelang Piala Dunia 2026
28 May 2026
Saddil Usai Cetak Sejarah Bersama Persib: Terima Kasih Ibu
28 May 2026
Jonatan Christie Alihkan Fokus ke Indonesia Open 2026
27 May 2026
Bojan Hodan: Tekanan Buat Persib Musim Depan Lebih Besar
27 May 2026
Bojan Hodak: Tekanan Buat Persib Musim Depan Lebih Besar
27 May 2026
Neymar Tak Khawatir soal Cedera Jelang Piala Dunia 2026