Teknologi 12 Feb 2026 1 views

Satelit Deteksi Gelombang Raksasa di Samudra Pasifik, Apakah Bahaya?

Sebuah studi yang dirilis pada September 2025 mengungkap adanya gelombang laut setinggi 20 meter di Samudra Pasifik, terdeteksi melalui citra satelit. Temuan ini memecahkan rekor s...

Satelit Deteksi Gelombang Raksasa di Samudra Pasifik, Apakah Bahaya?
Sebuah studi yang dirilis pada September 2025 mengungkap adanya gelombang laut setinggi 20 meter di Samudra Pasifik, terdeteksi melalui citra satelit. Temuan ini memecahkan rekor sebagai gelombang tertinggi yang pernah terukur dengan teknologi satelit.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa gelombang laut bukan sekadar efek samping badai, melainkan "pembawa pesan" yang mampu menyalurkan energi destruktif ribuan kilometer melintasi samudra. Ini berarti gelombang dari badai yang jauh bisa tetap menghantam pantai, meskipun badai itu sendiri tidak pernah mencapai daratan.

Gelombang terbentuk karena dorongan angin dan mencapai kekuatan puncaknya saat badai berada di puncak intensitasnya. Namun, ancaman terbesar bagi wilayah pesisir seringkali berasal dari gelombang panjang yang bergerak menjauh dari pusat badai. Gelombang-gelombang panjang ini menyebar di lautan, dan karakteristiknya dapat mengungkapkan ukuran serta kekuatan badai. Misalnya, periode 20 detik berarti gelombang besar tiba setiap 20 detik.

Dalam studi terbaru, tim peneliti yang didanai oleh Inisiatif Perubahan Iklim Badan Antariksa Eropa (ESA Climate Change Initiative/CCI) menggabungkan data satelit SWOT (Surface Water and Ocean Topography) milik Prancis-AS dengan catatan panjang proyek CCI Sea State yang merekam kondisi gelombang sejak 1991. Data ini berasal dari berbagai satelit seperti SARAL, Jason-3, Copernicus Sentinel-3A dan -3B, Sentinel-6 Michael Freilich, CryoSat, hingga CFOSAT. Kombinasi data ini memungkinkan ilmuwan menganalisis gelombang ekstrem dengan presisi yang belum pernah ada sebelumnya.

Tim yang dipimpin oleh Fabrice Ardhuin dari Laboratorium Oseanografi Fisik dan Ruang di Prancis menyoroti Badai Eddie, yang mencapai puncaknya pada 21 Desember 2024. Badai ini tercatat sebagai yang terbesar dalam satu dekade terakhir berdasarkan rata-rata ketinggian gelombang, dengan gelombang mencapai hampir 20 meter di laut lepas.

Selain mengukur tinggi gelombang, peneliti juga melacak pergerakan gelombang badai sejauh 24.000 kilometer. Gelombang tersebut menyebar dari Pasifik Utara, melewati Selat Drake di ujung Amerika Selatan, hingga mencapai Atlantik Tropis antara 21 Desember 2024 hingga 6 Januari 2025.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) ini adalah yang pertama memberikan observasi langsung untuk memvalidasi model gelombang numerik dalam kondisi ekstrem. Hasilnya menunjukkan kesesuaian yang erat antara pemodelan dan pengukuran satelit.

Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa gelombang laut panjang membawa energi besar dan dapat berdampak signifikan pada komunitas pesisir serta infrastruktur maritim, terutama di tengah perubahan iklim yang memengaruhi pola badai global.

Para ilmuwan telah lama meyakini bahwa gelombang laut yang sangat panjang membawa jumlah energi yang signifikan saat menyebar melintasi basin laut. Namun, temuan baru ini juga menunjukkan bahwa kandungan energi gelombang semacam itu telah secara sistematis diperkirakan terlalu tinggi. Ini berarti lebih banyak energi yang sebenarnya terkonsentrasi pada gelombang badai dominan, dibandingkan yang tersebar di antara gelombang terpanjang.

Pemodelan menunjukkan bahwa gelombang tertinggi dalam 34 tahun terakhir terjadi pada Januari 2014, ketika Badai Atlantik Hercules menghasilkan gelombang setinggi 23 meter yang menyebabkan kerusakan parah dari Maroko hingga Irlandia.

"Langkah selanjutnya adalah menghubungkan temuan ini dengan perubahan iklim. Kami akan menguji hal ini melalui model simulasi," kata Ardhuin. Menurutnya, pihaknya saat ini dapat melacak tren intensitas badai sepanjang waktu. Perubahan iklim mungkin menjadi faktor pendorong, tetapi bukan satu-satunya. "Misalnya, di pesisir, kondisi dasar laut juga memengaruhi gelombang, dan badai sebesar ini sangat jarang terjadi yang membuatnya sulit untuk membuktikan tren," jelasnya.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260212122633-199-1327423/satelit-deteksi-gelombang-raksasa-di-samudra-pasifik-apakah-bahaya
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.