Teknologi 14 Feb 2026 8 views

Sudah Tentukan 1 Ramadhan, Muhammadiyah Pakai Metode Hisab Apa?

Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada 18 Februari 2026. Penetapan ini berpotensi berbeda dengan versi pemerintah karena Muhammadiyah menggunakan metode h...

Sudah Tentukan 1 Ramadhan, Muhammadiyah Pakai Metode Hisab Apa?
Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada 18 Februari 2026. Penetapan ini berpotensi berbeda dengan versi pemerintah karena Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal.

Metode hisab hakiki berarti perhitungan yang mengacu pada gerak faktual Bulan di langit. Awal dan akhir bulan kamariah (bulan yang didasarkan pada peredaran Bulan) ditentukan berdasarkan kedudukan atau perjalanan Bulan sebagai benda langit. Perhitungan ini harus sebenar-benarnya dan setepat-tepatnya sesuai kondisi Bulan dan Matahari saat itu.

Kriteria hisab hakiki yang digunakan Muhammadiyah adalah wujudul hilal. Dalam kriteria ini, Matahari terbenam lebih dahulu daripada Bulan, bahkan jika hanya berjarak satu menit atau kurang. Ide ini didasarkan pada pemikiran pakar falak Muhammadiyah, Wardan Diponingrat, yang merujuk pada QS. Yasin ayat 39-40, hadis, konsep fikih, dan ilmu astronomi.

Hisab hakiki wujudul hilal memiliki beberapa syarat kumulatif yang harus dipenuhi pada hari ke-29 bulan berjalan saat Matahari terbenam:
1. Telah terjadi ijtimak (konjungsi).
2. Ijtimak terjadi sebelum Matahari terbenam.
3. Pada saat Matahari terbenam, Bulan (piringan atasnya) masih di atas ufuk.

Jika salah satu dari kriteria tersebut tidak terpenuhi, maka bulan berjalan digenapkan menjadi tiga puluh hari, dan bulan baru akan dimulai lusa.

Bagi Muhammadiyah, ufuk adalah garis penentu munculnya Bulan baru. Jika saat Matahari terbenam, Bulan telah mendahului Matahari dalam gerak mereka dari barat ke timur (artinya Bulan berada di atas ufuk), maka itu menandai dimulainya bulan kamariah baru. Namun, jika Bulan belum dapat mendahului Matahari saat gurub (Bulan berada di bawah ufuk saat Matahari tenggelam), maka bulan kamariah baru belum dimulai; malam itu dan keesokan harinya masih merupakan hari dari bulan kamariah berjalan.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo, menjelaskan bahwa penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah ini juga berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). KHGT dibangun di atas prinsip keselarasan hari dan tanggal di seluruh dunia (one day, one date globally), dengan memandang Bumi sebagai satu kesatuan matla' tanpa pembagian zona regional dan tetap mengikuti garis tanggal internasional.

Rahmadi menambahkan bahwa kalender hanya dapat disusun dengan metode hisab atau perhitungan astronomi, sementara rukyah hanya mampu memastikan satu bulan ke depan. Oleh karena itu, KHGT menggunakan prinsip ittihadul mathali' (kesatuan matla') dan parameter global, bukan kriteria lokal.

Berdasarkan keputusan Majelis Tarjih, seluruh kawasan dunia dipandang sebagai satu kesatuan. Bulan baru dimulai secara serentak apabila sebelum pukul 24.00 GMT terdapat wilayah daratan di Bumi yang memenuhi dua syarat astronomi: elongasi Bulan-Matahari minimal 8 derajat dan ketinggian hilal saat Matahari terbenam minimal 5 derajat.

Apabila kriteria ini belum terpenuhi sebelum pukul 24.00 GMT, tersedia parameter lanjutan: ijtimak harus terjadi di Selandia Baru sebelum fajar (karena wilayah ini merupakan kawasan berpenduduk paling awal menyambut hari baru), dan pada saat yang sama, parameter 5 derajat dan 8 derajat harus terpenuhi di daratan benua Amerika, yang menjadi patokan akhir siklus 24 jam global.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260213133052-199-1327863/sudah-tentukan-1-ramadhan-muhammadiyah-pakai-metode-hisab-apa
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.