BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Panjang, Sorot Ketersediaan Air
Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau 2026 akan lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologisnya. Oleh karena itu, sejumlah...
Dalam Rapat Koordinasi Strategi Mitigasi dan Penanggulangan Dampak Musim Kemarau Panjang Tahun 2026 di Jakarta, Senin (13/4), Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan kondisi iklim global saat ini masih berada pada fase netral, dengan indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) sekitar +0,28.Namun demikian, pada semester kedua 2026 kondisi tersebut diprakirakan berkembang menuju fase El Nino lemah hingga moderat dengan peluang 50-80 persen.
"Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino itu adalah dua fenomena yang berbeda dan tidak selalu terjadi bersamaan. Kemarau tetap akan datang setiap tahun di Indonesia. Tapi jika El Nino terjadi bertepatan dengan musim kemarau, maka kemaraunya akan menjadi jauh lebih kering," katanya dalam rapat yang diselenggarakan Kementerian Pekerjaan Umum tersebut.Untuk menghadapi kondisi tersebut, BMKG merekomendasikan sejumlah langkah strategis, seperti respons antisipatif pada wilayah dengan potensi curah hujan rendah dan penguatan manajemen waduk dan irigasi berbasis data.Selain itu, BMKG juga merekomendasikan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca serta kampanye efisiensi penggunaan air dan energi.Lihat Juga :Apakah Musim Kemarau 2026 Terparah Dalam 30 Tahun? Ini Kata BMKGFaisal menjelaskan perlu keseimbangan dalam pengelolaan sumber daya air agar tidak terjadi kelebihan maupun kekurangan. Pasalnya, air berlebih bisa memicu banjir dan longsor, sementara air yang kurang dapat menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan."Semoga kita semua dapat bersatu dalam gerak langkah yang sama untuk mengantisipasi musim kemarau tahun 2026 yang datang lebih cepat dan lebih panjang ini," pungkas Faisal.Pada kesempatan yang sama, Plh. Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Adenan Rasyid menegaskan potensi kemarau panjang pada 2026 merupakan tantangan serius yang harus direspons secara terintegrasi.Ia menambahkan bahwa dampak kekeringan akan dirasakan langsung pada berbagai sektor, mulai dari penurunan debit sungai dan volume waduk, gangguan pola tanam, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan."Kita tidak bisa menghindari kemarau, tetapi kita bisa memastikan dampaknya tidak berkembang menjadi krisis. Kecepatan antisipasi dan koordinasi menjadi kunci yang harus kita jaga bersama," ujar Adenan.
(lom/dmi)
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260417093340-641-1349019/bmkg-prediksi-kemarau-2026-lebih-panjang-sorot-ketersediaan-air
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
28 May 2026
Tarif Layanan Premium Instagram dan WhatsApp Plus
28 May 2026
17 Wilayah di Indonesia Bakal Dihuyur Hujan Hari Ini
28 May 2026
FOTO: Gletser 'Curi' Kampung di Swiss
27 May 2026
NASA Bersiap Umumkan Nama Astronaut Misi Artemis III
27 May 2026
Kenapa Penentuan Iduladha Lebih Cepat Dibanding Idulfitri?
27 May 2026
Bos Nvidia Umumkan Tambah Investasi di Taiwan usai Pulang dari Beijing