Kenapa Ikan Sapu-sapu Merusak Ekosistem? Ini Penjelasannya
Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memulai aksi membasmi ikan sapu-sapu serentak di lima wilayah kota administratif. Hal ini dilakoni untuk menekan populasi spesies inv...
Menurut laporan Nature World News di berbagai wilayah, termasuk di Texas, Amerika Serikat, ratusan ikan sapu-sapu ditemukan hidup liar dan diduga berasal dari pelepasan oleh pemilik akuarium.Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia, misalnya di Sungai Ciliwung, di mana kehadiran ikan ini dikaitkan dengan penurunan drastis keanekaragaman ikan lokal.
Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Triyanto, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) dan kerabatnya berasal dari Amerika Selatan, khususnya kawasan tropis Brasil.Ikan ini awalnya masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan ikan hias. Namun, banyak yang kemudian dilepas ke perairan umum, baik secara sengaja maupun tidak, hingga akhirnya berkembang menjadi spesies invasif di sungai-sungai Indonesia, termasuk Ciliwung.Populasi ikan sapu-sapu yang melimpah bisa menjadi penanda memburuknya kualitas air sungai. Triyanto menyebut ikan ini memiliki tingkat adaptasi tinggi dan mampu bertahan di kondisi perairan yang sudah terdegradasi.Lihat Juga :Mau Dibersihkan Pemprov Jakarta, Ini Fakta Tentang Ikan Sapu-sapu"Ikan sapu-sapu karena daya hidupnya sangat tinggi, tingkat adaptasinya terhadap kualitas air yang kurang baik, maka bisa hidup. Tapi pada range tertentu bila perairannya makin buruk ikan ini juga akan terdampak bahkan bisa mengalami kematian," katanya kepada .com, Rabu (28/1).Lalu, apa yang membuat ikan sapu-sapu begitu merusak ekosistem?Melansir Detik, ada sejumlah faktor yang membuat spesies ini sangat merusak ekosistem. Karakteristis ikan sapu-sapu yang dapat hidup di berbagai lingkungan dan perilaku membuat ikan ini menjadi ancaman bagi ekosistem perairan air tawar.Merujuk buku 'Yuk Mengenal Ikan Sapu-sapu Sungai Ciliwung' oleh Dewi Elfidasari dan artikel bertajuk The Environmental Impact of Hypostemus Plecostomus: Assessing the Potential Harm to Water Species oleh Maruf Adnan, berikut adalah faktor yang membuat ikan sapu-sapu merusak ekosistem.Pilihan RedaksiMomen Langka Persalinan Paus Sperma Terekam Kamera, Begini ProsesnyaSpesies Baru Tanaman Merambat Ditemukan di Pegunungan KalimantanAstronaut Artemis II Cerita Momen Menegangkan Saat Pulang ke BumiPertama, ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif. Ikan ini mampu berkembang biak dengan cepat, beradaptasi di berbagai kondisi lingkungan, dan tidak memiliki predator alami di banyak perairan. Kondisi ini membuat populasinya mudah meledak dan mendominasi habitat, sehingga menyingkirkan spesies lokal.Kedua, perilaku makannya mengganggu keseimbangan ekosistem. Selain memakan alga, ikan ini juga mengonsumsi detritus hingga telur ikan lain. Bahkan, aktivitasnya dapat mengikis permukaan dasar sungai dan merusak struktur habitat, yang berdampak pada organisme lain yang bergantung pada lingkungan tersebut.Ketiga, ikan sapu-sapu menciptakan persaingan makanan yang tidak seimbang. Spesies lokal yang sebelumnya bergantung pada sumber makanan tertentu harus berebut dengan ikan ini, yang dikenal sebagai pemakan segala dan sangat agresif dalam mencari makan.Keempat, ikan ini berpotensi membawa penyakit. Sebagai spesies pendatang, ikan sapu-sapu dapat membawa patogen baru yang bisa menginfeksi ikan lokal dan memperparah penurunan populasi.
Tak hanya itu, ikan sapu-sapu juga dikenal mampu bertahan di perairan yang tercemar sekalipun, membuatnya semakin sulit dikendalikan. Kemampuannya menggali lubang untuk berkembang biak juga dapat memicu erosi di bantaran sungai.Dengan berbagai dampak tersebut, jelas bahwa ikan sapu-sapu bukan sekadar ikan pembersih biasa. Jika dilepas ke alam liar, keberadaannya justru dapat merusak keseimbangan ekosistem dan mengancam kelangsungan spesies lokal. (wpj/dmi)
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260417134058-199-1349126/kenapa-ikan-sapu-sapu-merusak-ekosistem-ini-penjelasannya
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
28 May 2026
Tarif Layanan Premium Instagram dan WhatsApp Plus
28 May 2026
17 Wilayah di Indonesia Bakal Dihuyur Hujan Hari Ini
28 May 2026
FOTO: Gletser 'Curi' Kampung di Swiss
27 May 2026
NASA Bersiap Umumkan Nama Astronaut Misi Artemis III
27 May 2026
Kenapa Penentuan Iduladha Lebih Cepat Dibanding Idulfitri?
27 May 2026
Bos Nvidia Umumkan Tambah Investasi di Taiwan usai Pulang dari Beijing