Metode Baru Pemakaman Ramah Lingkungan, Jasad Manusia Jadi Kompos
Jakarta, Kremasi dan pemakaman konvensional selama ini menjadi dua pilihan utama bagi keluarga yang ditinggalkan. Kini muncul alternatif ketiga dengan klaim jejak karbon jauh lebih...
Selama lebih dari sebulan, mikroba aktif mengurai tubuh di dalam wadah tertutup yang dialiri oksigen secara berkala. Suhu dijaga pada kondisi optimal agar proses berlangsung hingga tingkat molekuler.Hasilnya, sekitar 136 kilogram tanah kaya nutrisi dalam waktu kurang lebih 45 hari.
"Apa yang kami lakukan adalah mempercepat proses yang sepenuhnya alami," kata Tom Harries, CEO perusahaan pengomposan manusia Earth Funeral, seperti dikutip CNN.Harries mengaku metode ini lahir dari kegelisahan pribadi setelah bertahun-tahun berkecimpung di industri pemakaman. Menurut data Asosiasi Kremasi Amerika Utara, kremasi kini menguasai sekitar 60 persen pilihan pemakaman di Amerika Serikat.Proses tersebut, kata Harries, membutuhkan gas alam dalam jumlah besar untuk menyalakan tungku. Sementara pemakaman konvensional menggunakan bahan kimia seperti formaldehid dalam proses pembalseman.Lihat Juga :Studi Ungkap Tabrakan 2 Lubang Hitam Raksasa 100 Tahun LagiSalah satu keluarga yang memilih jalur ini adalah Laura Muckenhoupt. Putranya, Miles, meninggal di usia 22 tahun dan dikomposkan menjadi tanah yang kini tersebar di berbagai penjuru dunia.Tanah Miles bahkan menumbuhkan pohon markisa di Portugal dan pakis di Hawaii. Di rumah Muckenhoupt sendiri, tanah itu digunakan untuk menanam semak mawar."Setiap kali semak mawar itu mekar, rasanya seperti sebuah hadiah, kunjungan kecil darinya," katanya.Praktik pengomposan jasad kini telah dilegalkan di 12 negara bagian AS, dengan delapan negara bagian lain masih memproses rancangan undang-undang serupa.Keluarga dapat membawa pulang seluruh tanah hasil pengomposan, atau menyerahkan sebagian kepada Earth Funeral untuk disalurkan ke proyek konservasi di Washington dan California. (lom/dmi)
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260425065816-199-1351848/metode-baru-pemakaman-ramah-lingkungan-jasad-manusia-jadi-kompos
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
28 May 2026
17 Wilayah di Indonesia Bakal Dihuyur Hujan Hari Ini
28 May 2026
FOTO: Gletser 'Curi' Kampung di Swiss
27 May 2026
NASA Bersiap Umumkan Nama Astronaut Misi Artemis III
27 May 2026
Kenapa Penentuan Iduladha Lebih Cepat Dibanding Idulfitri?
27 May 2026
Bos Nvidia Umumkan Tambah Investasi di Taiwan usai Pulang dari Beijing
27 May 2026
Spesifikasi dan Harga Flagship Oppo Find X9 Ultra dan X9s