Indonesia Terlambat? Pengamat Migas Bongkar Dampak Krisis Hormuz | Ngocak febby
TRIBUN-VIDEO — Ketegangan di Selat Hormuz kembali menekan sistem energi global dan berdampak langsung ke Indonesia. Bagi negara yang kini berstatus net importir minyak, gangguan di jalur vital tersebut memperlihatkan rapuhnya ketahanan energi nasional. Dalam wawancara bersama Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra, pengamat migas Erie Soedarmo menilai Indonesia terlambat menyesuaikan strategi energi dengan perubahan geopolitik global. “Dengan krisis Hormuz ini, kita sebenarnya sudah terlambat,” ujar Erie, di Studio Tribunnews, Jumat (10/4/2026), Menurut Erie, konflik antara Iran dan Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada harga minyak yang kini menyentuh 95–98 dollar AS per barel, tetapi juga mengganggu stabilitas pasokan. Dalam kondisi krisis, pasar minyak tidak lagi berjalan normal. Ia menjelaskan, ada tiga pemain utama dalam pasar minyak dunia, yakni pemilik kilang, pemegang cadangan strategis, dan spekulan. Dalam situasi genting, spekulan justru menjadi aktor dominan yang memengaruhi harga dan distribusi. Dampaknya terlihat nyata. Kapal LNG yang semula menuju Indonesia bisa berbalik arah di tengah perjalanan karena adanya penawaran harga lebih tinggi dari pihak lain. Lebih jauh, ia menilai akar persoalan Indonesia terletak pada strategi energi yang tidak banyak berubah sejak 1970-an. Saat itu, Indonesia masih berpenduduk sekitar 120 juta jiwa dan berst
Video lainnya
Lihat semua